Ahmad Albar Jaga Semangat yang Tak Kunjung Padam
Senin, 23 April 2012 | 14:51
Ahmad Albar [google] Dulu, kariernya diawali ketika bermain dalam film Jenderal Kancil, karya Sumandjaja. Tapi
namanya melegenda ketika menjadi penyanyi rock. Satu mimpi yang ingin
diwujudkan adalah menggelar konser 40 tahun God Bless, band yang telah membuat
namanya menjadi legenda hidup.
Ahmad Albar, menjadi salah satu penyanyi rock legendaris di
negeri ini. Di balik kehidupan pribadinya yang mirip “panggung sandiwara”, ia
selalu menjadi idola saat beraksi di atas panggung. Kini, setelah usianya
mencapai 66 tahun, ia terus menjaga semangatnya. “Usia boleh tua, tapi semangat
harus tetap dijaga,” ujarnya.
Dengan rambut kribonya, Iye –panggilan akrabnya-, selalu
memukau penonton saat tampil di panggung. Lagu-lagu yang dibawakannya bersama
God Bless menjadi hits yang tak pernah dilupakan. Kini, bersama band itu Iye
sedang mempersiapkan album baru.
Ahmad Syech Albar yang lahir di Surabaya, 16 Juli 1946,
memulai kariernya dengan membintangi film anak-anak, Jenderal Kancil, sekitar tahun 1957. Kariernya di musik dimulai
sejak usia sebelas tahun. Saat itu ia dan teman-temannya membentuk sebuah band
bocah bernama Bintang Remaja. Tetapi dua tahun kemudian band ini bubar. Bersama
Titi Qadarsih ia membentuk Kuarta Nada, dan nasibnya juga tak berbeda.
Sekitar tahun 1960, Iye berangkat ke Belanda. Di negeri
kincir angin itu, anak ke dua dari enam bersaudara ini ternyata tidak bisa
melepaskan gairah bermusiknya. Ia membentuk grup musik Take Five (1966-1967),
yang sempat mengikuti festival dan berhasil meraih gelar vokalis terbaik. Pada
tahun-tahun 1967-1972 bersama grup Clover Leaf, Iye menghasilkan sembilan single. Beberapa lagu di antaranya, Don’t Spoil My Day dan Grey Clouds cukup diminati publik
Belanda pada zamannya.
Akhir 1972 bersama Ludwig Lemans, gitaris Clover Leaf, ia
mengunjungi Indonesia. Di Tanah Air ia melihat dan mengamati kehidupan bermusik
masyarakat Jakarta. Iye mencari musisi yang mau bergabung dengannya. Awal 1973,
Iye bersama Fuad Hassan (drum), Donny Fattah (bass), Jockie Surjoprajogo
(keyboard), dan Ludwig Lemans (gitar) mengadakan latihan di Puncak, Bogor,
selama dua minggu, untuk menghadapi pergelaran musik di Taman Ismail Marzuki
tanggal 5 Mei 1973.
Dalam latihan mereka sepakat membentuk sebuah grup dengan
nama God Bless. Kesuksesannya saat merilis album perdana bertajuk God Bless
pada tahun 1975 membuat grup rock itu menjadi grup pembuka konser grup rock
dunia Deep Purple di Jakarta.
Karena kesamaan model rambut, Ahmad Albar membentuk grup Duo
Kribo bersama Ucok Harahap vokalis AKA Band.
Duet ini menelurkan tiga album, Neraka Jahanam (1977), Pelacur
Tua (1978), dan Panggung Sandiwara (1978).
Ahmad Albar dinilai sempat mengecewakan sebagian penggemarnya ketika pada 1979
merilis album dangdut berjudul Zakia.
Maklum ketika itu dangdut masih dipandang sebelah mata oleh sebagian
masyarakat.
Pada 1980 God Bless mengeluarkan album kedua berjudul Cermin. Ian Antono bergabung dalam
kelompok musik cadas tersebut. Setelah itu God Bless vakum lama tetapi Ahmad
Albar tetap bersolo karier atau tampil bersama penyanyi lain antara lain Gito
Rollies dan Mus Mujiono.
Sepanjang 1980-an hingga pertengahan 1990-an, Ahmad
Albar mengeluarkan album Syair Kehidupan (1980)
bersama Ian Antono, Dunia Huru Hara dan
Dunia Dibakar Api (1988) yang dibuat
bersama pemusik Areng Widodo, Kartika (1989)
bersama Gito Rollies, album Secita
Cerita, Langkah Pasti, dan Scenario bersama
Fariz RM, dan Tangan Baja bersama
Farid Hardja, serta Jangan Ada Luka (1996)
bersama lady rocker, Nicky Astria.
Saat mencari vokalis untuk Gong 2000 yang digawangi Ian
Antono, Albert Wijaya, Yaya Muktio (drum), Harry Anggoman (keyboard), dan
Donny, pilihan jatuh pada Ahmad Albar. Ia dianggap yang terbaik saat itu.
Konser Gong 2000 pada tahun 1991 di Parkir Timur Senayan Jakarta memuaskan
sekitar 100.000 penonton. Grup ini kemudian menghasilkan empat album: Bara Timur (1991), Gong Live (1992), Laskar (1993),
dan Prahara (2000).
Kecemerlangannya di atas panggung ternyata tidak diikuti
dalam kehidupan sehari-hari. Pernikahannya dengan artis Rini S Bono pun bubar
pad atahun 1994. Tak hanya itu, tahun 2007, Iye ditangkap di rumahnya karena
diduga terlibat kasus penemuan 490 ribu butir ekstasi di apartemen Taman
Anggrek, Jakarta Barat. Polisi juga menuduh ia memiliki sebutir ekstasi yang
ditemukan di dalam kamar mandinya. Hasil tes urine Ahmad Albar juga menunjukkan
adanya kandungan narkoba.
Ia akhirnya dijatuhi hukuman delapan bulan penjara potongan
tahanan tujuh bulan dan denda 6 juta rupiah. Vonis ini lebih rendah dari
tuntutan JPU, 1 tahun penjara. Iye akhirnya bebas pada tanggal 11 Juli 2008.
Perlahan, setelah berusaha melepaskan diri dari cengkraman
narkoba, Iye coba kembali ke dunia hiburan.
Tahun 2010 lalu, ia ikut
membintangi film D’Love. Kali ini ia
pun diajak bemain dalam kisah Jenderal
Kancil yang digarap sutradara Harry Dagoe.
“Sebenarnya kalau akting, saya sudah tidak punya mimpi lagi.
Saat ini saya hanya ingin bikin konser God Bless. God Bless akan ulang tahun
yang ke-40 nanti. Mudah-mudahan kita bisa bikin konser untuk mengenang
perjalanan musik kami,” ujarnya. [SP/Kurniadi]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
