Transaksi Jual Beli Leopard Nyaris Tuntas
Rabu, 9 Mei 2012 | 9:53
Tank Leopard [google] Tak lama lagi, tank Leopard buatan
Belanda akan merangkak di Indonesia. Kabinet
Belanda yang awalnya menolak menjualkan tank-tank bekas itu ke
Indonesia, akhirnya mengalah juga.
Dua media Belanda yakni Mediawatch
dan harian De
Volkskrant menyorot
keputusan kabinet demisioner Belanda untuk menjual tank bekas jenis Leopard ke
Indonesia.
Menurut
Mediawatch, kabinet Belanda pada awalnya tidak mendukung transaksi
ini. Tapi atas desakan Menteri Pertahanan Hans Hillen, akhirnya setuju juga.
Menteri ini harus melakukan operasi penghematan anggaran dan sangat membutuhkan
dana hasil penjualan senilai 200 juta euro.
Menurut De Volkskrant, operasi penghematan di departemen pertahanan
memangkas anggaran sekitar satu miliar euro.
Menteri Luar Negeri Belanda, Uri Rosenthal mendukung transaksi ini.
Argumennya, tidak ingin menyinggung perasaan kalangan pemerintahan di Jakarta.
Dengan demikian, transaksi jual beli ini, dari sudut pandang kalangan
pemerintahan, bisa dikatakan nyaris tuntas.
Namun, lain di kabinet, lain pula di parlemen. Kabinet Belanda harus
melaporkan rencana jual beli ini pada parlemen.
Pelanggaran HAM
Beberapa waktu lalu, melalui dukungan pada mosi Arjan al Fassed dari Partai
Groenlinks (Kiri Hijau), mayoritas suara di Parlemen Belanda juga menentang
penjualan tank ini.
Mereka menilai, transaksi ini bertentangan dengan kebijakan
hak asasi manusia (HAM) Belanda.
"Militer Indonesia melanggar HAM.
Dengan penjualan senjata ini, kabinet
demisioner membantu pelanggaran tersebut," demikian Arjan al Fassed pada
saat pengajuan mosi.
Dengan penolakan itu, masih ada kemungkinan Parlemen Belanda akan melarang
transaksi jual beli ini.
Di Indonesia, beberapa pihak di DPR
RI menyatakan tidak menyetujui pembelian senjata berat ini.
Mereka menilai,
tank Leopard tidak cocok dengan kondisi geografi Indonesia.
Singkat kata, meskipun Kabinet Belanda telah memutuskan bersedia menjual
senjata berat ini pada Indonesia, masih belum pasti, apakah transaksi ini
memang akan terjadi.
Yang jelas, jika rencana ini batal, Jerman dan Rusia sudah
siap untuk memasok tank buatan mereka ke Indonesia. [RN/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
