Serangan Terbaru di Suriah, 30 Tewas
Selasa, 15 Mei 2012 | 9:21
Kelompok Islam radikal mengklaim melakukan serangan bom di Kota Damaskus. [AFP] [DAMASKUS] Sedikitnya 30 orang, termasuk 23 tentara, tewas dalam bentrokan yang terjadi di Kota
Rastan, Suriah, Selasa (15/5).
Sejak aksi protes menentang rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dimulai,
PBB memperkirakan sebanyak 9.000 orang tewas.
Pemantau
HAM Suriah mengatakan, puluhan orang lainnya terluka dalam serangan yang
terjadi di Provinsi Homs.
Kota Rastan itu merupakan basis oposisi yang kuat selama pemberontakan
Suriah.
Kelompok HAM yang berbasis di Inggris menyatakan tiga pasukan tentara
melakukan serangan. Jika memang
serangan itu dapat dikonfirmasi, akan menjadi serangan mematikan bagi pasukan
keamanan selama 14 bulan unjuk rasa menentang Presiden Bashar al-Assad.
Peristiwa itu terjadi setelah pasukan pemerintah meluncurkan serangan pada
akhir pekan, meskipun PBB menyerukan gencatan senjata yang seharusnya berjalan
sejak sebulan yang lalu.
Pemantau menambahkan, serangan juga terjadi di desa yang dihuni penganut
Sunni, di bagian utara Hama, menewaskan lima orang.
Aktivis mengatakan, setidaknya 30 orang tewas pada Minggu (14/5), dan
sebagian besar korban merupakan warga sipil. Jumlah korban tidak dapat
diverifikasi secara independen, karena wartawan asing dilarang masuk ke Suriah.
Sanksi Uni Eropa
PBB mengatakan, sekitar 189 pemantau berada di Suriah, sejumlah dua per tiga
dari seluruh pemantau yang akan dikirimkan sebagai bagian dari rencana
perdamaian Utusan PBB-Liga Arab Kofi Annan.
Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan, gencatan senjata tidak
sepenuhnya terlaksana. "Pembunuhan, serangan, kekerasan masih berlangsung
di Suriah. Jadi sangat penting kami tetap melakukan tekanan terhadap rezim
Assad," katanya.
Sementara itu, Uni Eropa telah menjatuhkan sanksi ke-15 terhadap Suriah,
sebagai upaya untuk meningkatkan tekanan kepada pemerintah.
Uni Eropa tidak secara resmi memberikan rincian sanksi yang telah
disepakati, tetapi diplomat Uni Eropa mengatakan, 27 negara anggotanya sepakat
membekukan aset dan larangan visa terhadap dua perusahaan dan tiga orang yang
dipercaya menjadi pendukung pemerintah.
PBB memperkirakan, setidaknya 9.000 orang tewas sejak protes pro demokrasi
berlangsung sejak Maret 2011. [BBC/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
