Sepertiga Obat Malaria Dunia Palsu
Jumat, 25 Mei 2012 | 7:49
Penelitian terbaru mengungkap sepertiga obat malaria yang beredar di dunia adalah palsu. [Reuters] [NEW YORK] Sepertiga obat malaria yang digunakan di seluruh
dunia untuk membendung penyakit tersebut, ternyata palsu.
Temuan ini terungkap dalam penelitian The Lancet Infectious Diseases, yang
mengkaji sekitar 1.500 sampel dari tujuh obat malaria dari tujuh negara di Asia
Tenggara.
Mereka menyatakan, obat-obat malaria tersebut berkualitas sangat rendah dan
palsu, sehingga menyebabkan resistensi obat dan kegagalan pengobatan.
Selain di Asia Tenggara, ahli dari lembaga penelitian ini juga menemukan
data yang sama di 21 negara sub sahara Afrika setelah menguji lebih dari 2.500
sampel obat.
Sejumlah pemerhati masalah kesehatan menilai temuan ini merupakan sebuah ''peringatan''.
Para peneliti dari Fogarty International Center di Institusi
Kesehatan Nasional, NIH yang ikut dalam penelitian ini meyakini bahwa masalah
ini mungkin jauh lebih besar dari data yang terungkap.
"Kebanyakan kasus mungkin tidak dilaporkan, melaporkan ke lembaga yang
salah, atau tetap dirahasiakan oleh perusahaan obat,'' kata peneliti.
Minim Pengawasan
Ketua peneliti Gaurvika Nayyar menekankan bahwa 3,3 miliar orang beresiko
terkena malaria, yang sudah diklasifikasikan endemis di 106 negara.
"Di antara 655.000 dan 1,2 juta orang meninggal setiap tahun dari
infeksi Plasmodium falciparum,'' katanya.
''Sebagian besar ini angka kesakitan dan kematian dapat dihindari jika obat
yang tersedia untuk pasien berkhasiat, berkualitas tinggi, dan digunakan dengan
benar.''
Kajian ini juga menemukan banyak fasilitas yang tidak mencukupi untuk
mengawasi kualitas obat-obatan anti malaria serta pengetahuan yang rendah dari
konsumen dan pekerja kesehatan atas terapi pengobatan.
Dan ditemukan juga kurangnya peraturan yang mengawasi pabrik obat dan
sedikitnya hukuman bagi para pemalsu.
Meskipun demikian, angka kematian malaria telah turun lebih dari 25% secara
global sejak 2000, dan sebesar 33% di wilayah Afrika.
Tetapi organisasi kesehatan PBB, WHO mengatakan mempertahankan laju kemajuan
saat ini tidak akan cukup untuk memenuhi target pengendalian malaria secara
global.
Hal ini menuntut pembaruan investasi dalam pengujian diagnostik, perawatan,
dan pengawasan untuk malaria. [BBC/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
