Sekjen PBB Kunjungi Srebrenica
Jumat, 27 Juli 2012 | 9:23
Sekjen PBB Ban Ki-moon. [AP] [SREBRENICA] Sekretaris Jendral (Sekjen) PBB Ban Ki-Moon
berkunjung ke Srebrenica, tempat pembantaian sekitar 8.000 pria Muslim oleh
pasukan Serbia tahun 1995.
Ban Ki-Moon menjadi petinggi PBB yang berkunjung ke kota itu. Ia meletakkan
karangan bunga di tugu kenangan, yang dibangun untuk mengenang korban pembantaian
terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II itu.
Ban Ki Moon mengakui bahwa PBB yang seharusnya melindungi Srebrenica, tetapi
gagal melakukan tugasnya.
Dalam pidato
di Parlemen Bosnia, Ban Ki-Moon mendesak dunia untuk memetik pelajaran dan
dimulai dengan apa yang ia sebut upaya menghentikan pembunuhan di Suriah.
Ia juga berkunjung Stadium Sarajevo yang digunakan untuk olimpiade musim
dingin tahun 1984.
Dua orang yang dituduh menjadi dalang pembantaian Srebrenica, mantan
pemimpin Radovan Karadzic dan Jendral Ratko Mladic, saat ini tengah diadili di Mahkamah
Kejahatan Perang Yugoslavia di Den Haag, Belanda.
Pelajaran
Bersama istrinya, Ban Ki-Moon membungkukkan badan saat mengunjungi makam
para korban pembantaian Srebrenica, sebelum bertemu dengan para janda dan
korban selamat lain. Ia meletakkan karangan bunga putih di tugu peringatan para
korban.
Pada Rabu (25/7), Sekjen PBB itu berpidato di depan para anggota Parlemen
Bosnia. Ia mengatakan, tragedi dengan
skala seperti itu, begitu banyak pertumpahan darah dan banyak pihak yang
disalahkan.
"Masyarakat internasional gagal mencegah terjadinya pembantaian. Namun
kami telah memetik pelajaran dari kejadian mengerikan ini dan tetap masih
belajar," katanya.
Hasan Nuhanovic, mantan penterjemah untuk batalion pasukan Belanda untuk PBB
di Srebrenica, yang kehilangan kedua orangtua serta saudara laki-lakinya
mengatakan kepada kantor berita AFP,
"PBB harus menetapkan posisi dan
mengakui tanggung jawabnya.
"Orang yang mengangkut keluarga saya ke pasukan Serbia adalah pasukan
(PBB) dengan helm biru," katanya. "Tidak
ada organisasi manapun yang lebih bertanggung jawab selain PBB," katanya.
[BBC/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
BBM Mahal, Eropa Beralih Ke Energi Angin
Pekerja Filipina Diserang di Taiwan
Filipina Tolak Usut Bersama Kematian Nelayan Taiwan
7.000 Kasus Demam Berdarah di Singapura
Militer Suriah Perangi Pemberontak di Kota Qusair
Filipina Bantah Klaim “Pembunuhan” dari Taiwan
Bentrok di Tunisia, Satu Tewas
Wanita Arab Saudi Taklukkan Puncak Everest
