RI Desak Ubah Mandat Pasukan PBB di Suriah
Jumat, 29 Juni 2012 | 10:41
Aksi demo meminta dunia internasional terlibat menyelesaikan konflik di Suriah. [google] [JAKARTA] Indonesia mendesak PBB untuk secepatnya membuat
langkah nyata guna meredamkan konflik internal di Suriah yang kian memanas
hingga memunculkan ketegangan baru dengan negara tetangganya, Turki. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun tak segan-segan meminta Sekjen PBB Ban Ki
Moon untuk mengubah mandat pasukan PBB untuk konflik tersebut.
“Presiden SBY merekomendasikan agar Sekjen PBB dapat
mengambil inisiatif baru, termasuk merubah mandat pasukan PBB,” ujar Staf
Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah melalui sambungan
telepon di Jakarta, Kamis (28/6).
Dikatakan Faiz, percakapan yang
dilakukan SBY dan Ban Ki Moon tengah malam kemarin, bersifat urgensi karena
bila melihat perkembangan terakhir, dikhawatirkan insiden Suriah dengan Turki
akan menjadi perang terbuka. Mengingat dua kepala pemerintahannya sudah saling
mengeluarkan pernyataan keras yang bisa saja menjurus kepada perang. Padahal,
pada saat bersamaan konflik internal bersenjata di Suriah belum ada tanda akan
mencapai titik temu. Sehingga, jelas rakyat yang akan menjadi korban terbesar
jika perang tersebut terjadi karena mereka digencat konflik dari dalam dan luar
negeri.
Presiden SBY mengatakan, Dewan Keamanan harus bersatu dan
tidak boleh ada perbedaan lagi antara tiga hal veto. PBB dan masyarakat dunia
diharapkannya tidak menjatuhkan Presiden
Suriah Bashar al-Assad dalam konflik di negara itu.
Saat ditanya bagaimana terobosan yang perlu diambil PBB dalam konflik itu,
dirinya mengatakan hal ini masih akan terus dikembangkan. Adapun, terobosan ni
nantinya bisa saja seperti krisis Libanon dulu. ”Ini sesuatu yang masih
berproses lebih lanjut. Terobosan di Lebanon juga berangkat dari pembicaraan
Presiden SBY dengan Sekjen PBB,” tukasnya.
Terhadap rekomendasi tersebut, Ban Ki Moon berjanji akan membawanya ke dalam
forum di Jenewa. Di mana, hasil dari pertemuan itu akan dibahas lebih lanjut
dengan Presiden SBY.
Sementara itu, rencana pembicaraan telepon antara
Presiden SBY dengan Presiden terpilih Mesir Muhammad Mursi urung
dilaksanakan karena faktor teknis.
Sebelumnya, Presiden SBY
mengatakan permasalahan Suriah telah dibicarakan dengan sejumlah kepala negara
dan kepala pemerintahan saat menghadiri KTT G-20 di Los Cabos, Meksiko, dan
juga KTT Pembangunan Berkelanjutan di Rio de Jenairo, Brazil pekan lalu.
Disana, Presiden SBY berdiskusi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan
meminta agar konflik tersebut bisa terhenti.
”Rusia punya hubungan baik dengan
Suriah, didampingi dengan Menlu dan delegasi kami mendiskusikan hal tersebut.
Intinya saya berharap Rusia dan negara lain bisa berperan menghentikan tragedi
kemanusiaan di sana. Diskusi cukup lama 45 menit. Pandangan saya dengan
Presiden Putin sama” kata SBY dalam pembukaan sidang kabinet paripurna di
Kantor Presiden.
Pandangan yang dimaksud adalah menghentikan korban
jiwa baru kemudian melakukan proses politik bila memang dikehendaki masyarakat
Suriah. ”Nah, setelah itu, silahkan proses politik, internal. Kalau
memang rakyat suriah mengatakan sudah saatnya ada transisi kepemimpinan, yah
kita hormati, kita dukung,” ucapnya. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
BBM Mahal, Eropa Beralih Ke Energi Angin
Pekerja Filipina Diserang di Taiwan
Wanita Arab Saudi Taklukkan Puncak Everest
Militer Suriah Perangi Pemberontak di Kota Qusair
Filipina Bantah Klaim “Pembunuhan” dari Taiwan
Filipina Tolak Usut Bersama Kematian Nelayan Taiwan
Ada Pistol Meletus di Ajang Festival Film Cannes
7.000 Kasus Demam Berdarah di Singapura
