Mubarak Dalam Kondisi Sangat Kritis
Rabu, 20 Juni 2012 | 8:39
Mubarak dihukum penjara seumur hidup dalam sidang awal bulan Juni. [Reuters] [KAIRO] Sejumlah
laporan dari Kairo menyebutkan, mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak dalam
keadaan kritis dan mungkin mendekati kematian.
Beberapa
media melaporkan dia sudah mati secara klinis, dan Nile TV menyebut berbagai
upaya terus dilakukan untuk menyelamatkannya.
Hosni
Mubarak (84), dikatakan menderita stroke dan dipindahkan dari penjara ke rumah
sakit militer Maadi dengan helikopter untuk mendapatkan bantuan medis.
Mantan
presiden yang berkuasa selama 30 tahun tersebut dilaporkan dalam keadaan tidak
sadar diri, dan tim dokter menggunakan
alat kejut jantung beberapa kali.
Banyak
polisi terlihat berjaga di depan rumah sakit.
Dan sejumlah orang pendukung
maupun penentangnya juga berkumpul di sekitar rumah sakit.
Seorang
perempuan, pendukung Mubarak, dalam keadaan gemetar mengatakan ''Saya cinta
dia''.
Skeptis
Mubarak
digulingkan tahun lalu, dan dipenjara seumur hidup awal bulan ini akibat
perannya dalam menewaskan pendemo penentang rezimnya.
Sementara
itu, sejumlah warga Mesir lainnya mengaku skeptis atas setiap laporan kesehatan
Mubarak.
Seperti dilaporkan,
sejak digulingkan, banyak laporan yang menyatakan kesehatannya semakin
memburuk, meski banyak yang terbukti salah.
Sebelum
persidangan dirinya dimulai, kuasa hukum Mubarak mengatakan, dia dalam keadaan
koma, tetapi Mubarak muncul di persidangan dalam kondisi sadar.
Sekarang
timbul kekhawatiran bahwa pernyataan tentang kesehatan Mubarak ini digunakan
untuk pengalihan, di saat Mesir tengah menunggu hasil pemilihan presiden yang
kisruh.
Kabar
Mubarak dalam kondisi sekarat ini mengemuka disaat puluhan ribu orang berdemo
di Lapangan Tahrir, Kairo, menentang kebijakan dewan militer yang dianggap
ingin mengambil alih kekuasaan baru.
Aksi demo
dilakukan Ikhwanul Muslimin, yang mengklaim telah memenangkan kandidatnya
Mohammed Mursi dalam pemilihan presiden akhir pekan lalu. Pesaingnya Ahmed
Shafiq, mantan perdana menteri di era Mubarak, juga mengklaim kemenangan.
Hasil pemilihan
presiden ini akan diumumkan Kamis (21/6) besok.
Sebelumnya
para jenderal di Dewan Tinggi Militer melalui mahkamah telah membubarkan
parlemen dan mengembalikan kekuatan legislatif kepada mereka. Kebijakan
tersebut dinilai oposisi sebagai sebuah kudeta militer. [BBC/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
