Kim Jong Un Undang SBY Berkunjung ke Korut
Selasa, 15 Mei 2012 | 14:50
Kim Jong Un yang menjadi pemimpin Korut menggantikan ayahnya (AFP) [JAKARTA] Presiden RI Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) diundang Pemimpin baru Korea Utara (Korut) Kim Jong Un untuk
mengunjungi negaranya. Undangan itu disampaikan lewat kunjungan Presiden
Presidium Majelis Rakyat Tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea Kim Yong
Nam di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (15/5).
“Dalam pertemuan disampaikan salam hangat dari pemimpin
tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dan juga undangan ke Korea Utara pada waktu
yang lain,” ujar Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dalam keterangan pers
usai pertemuan bilateral Presiden SBY dengan Presiden Kim Yong Nam, Selasa
(15/5).
Presiden SBY
juga menginstruksikan Marty untuk melakukan koordinasi untuk kunjungan. ”Tetapi
belum bisa dipastikan kapan Presiden akan melakukan kunjungan balasan. Apakah
tahun ini ataukah tahun depan,” ucapnya.
Dalam kunjungan
Yong Nam yang ketiga kalinya ini setelah sebelumnya orang nomor dua di Korut
itu pernah mengunjungi Indonesia pada tahun 2002 dan 2005 menggarisbawahi
apresiasinya atas peranan Indonesia selama ini dalam kerangka gerakan non-blok
dan terutama kemandirian Indonesia dalam pelaksanaan politik luar negerinya
selama ini.
Sementara, kata
Marty, dalam kaitannya ini Presiden menegaskan bahwasannya politik bebas aktif
merupakan suatu pilihan dan menjadi ketetapan.
Disamping itu,
lanjutnya, kedua pimpinan ini juga membahas masalah Asean dan Korea Utara. Di
mana, Korut secara khusus menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kepemimpinan
Indonesia dalam kerangka ASEAN.
”Presiden
menegaskan antara lain, meskipun antara negara-negara ASEAN ada sistem politik
yang berbeda namun semua negara ASEAN saling menghormati sistem politik yang
berbeda dan hal ini tidak menjadi hambatan adanya kerjasama yang erat antara
sesama negara ASEAN,” ucapnya.
Lanjut Marty,
Indonesia akan terus berperan aktif dalam menjalin hubungan dengan negara yang
terisolasi itu dengan harapan Korut bisa menjadi negara yang lebih
terbuka sama seperti Myanmar saat ini. Misalnya saja dalam hal perdagangan,
budaya, olahraga, investasi hingga politik.
“Tapi ini
proses, tidak bisa semua instan. Karena kita harus ciptakan confidence,
kita harus membuat Korut merasa nyaman bahwa mereka bisa berinteraksi dengan
kita bertukar pandangan dengan kita dan bisa confident,” jelasnya. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
