Isu Kawasan Maritim ASEAN Makin Marak
Rabu, 4 April 2012 | 10:56
Marty Natalegawa [google] [PHNOM PENH] Isu maritim di kawasan ASEAN diakui makin
marak terjadi belakangan ini. Untuk itulah, permasalahan maritim, khususnya
sengketa kawasan Laut Cina Selatan akan dibahas secara khusus oleh 10 negara
anggota ASEAN pada hari terakhir KTT ASEAN ke-20, Rabu (4/4).
“Disamping masalah Laut Cina Selatan, secara keseluruhan
kita akui masalah kelautan atau maritim isu semakin mencuat sebagai
permasalahan di kawasan,” ungkap Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa usai
keterangan pers terkait KTT ASEAN ke-20 di Phnom Penh, Kamboja, Selasa (3/4).
Marty menilai, masalah kelautan sejujurnya tak harus
menjadi masalah yang memecah belah negara, melainkan harus menjadi sumber yang
saling menyatukan. Di mana, konsep ini sekarang akan dilaksanakan pada ASEAN
Maritime Forum (AMF) yang pertemuannya akan digelar di Manila, Filipina dalam
waktu dekat. “Jadi, masalah maritim dibahas dikerangka ASEAN. Tapi, pembahasan
kerangkanya kerjasama bukan persaingan,” tegasnya yang menambahkan kalau
sekarang military bases beralih menjadi military access sehingga
persaingan yang tidak menguntungkan semua pihak bisa dihindari.
Pemerintah RI sendiri sambungnya akan menjadikan bidang
maritim sebagai salah satu aspek kerjasama yang harus ditingkatkan di antara
negara-negara ASEAN. Hal ini terkait keinginan Pemerintah RI menciptakan rasa
saling percaya dan hubungan yang lebih erat antarnegara ASEAN. Pemerintah,
tidak membatasi kerja sama maritim hanya dalam aspek keselamatan, namun juga
mencakup isu lainnya seperti lingkungan hingga nelayan.
Sementara itu, soal sengketa Laut Cina Selatan, jelasnya
kembali, menjadi perhatian masyarakat internasional di mana banyak yang
tidak saling percaya dan saling menuduh. Marty mengatakan Indonesia mempunyai
kepentingan momentum positif dalam sengketa kawasan Laut China Selatan yang
telah diraih di KTT ASEAN ke-19 di Bali bulan November 2011.
“Dinamika sekarang sangat berubah. Di masa lalu, Tiongkok menolak ikut dalam pembahasan dari code
of conduct ini. Tapi, sekarang justru Tiongkok berulang kali meminta ke ASEAN agar dilibatkan,” ujarnya.
Meskipun tidak masuk dalam negara yang bersengketa, namun
Indonesia, kata Marty juga sebagai negara sahabat perlu bertanggung jawab dalam
membantu penyelesaian sengketa ini. Untuk diketahui, sengketa klaim wilayah
Laut Cina Selatan melibatkan Tiongkok dan beberapa negara ASEAN antara lain
Brunei, Filipina, Vietnam, dan Malaysia. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
BBM Mahal, Eropa Beralih Ke Energi Angin
Pekerja Filipina Diserang di Taiwan
Wanita Arab Saudi Taklukkan Puncak Everest
Filipina Tolak Usut Bersama Kematian Nelayan Taiwan
Ada Pistol Meletus di Ajang Festival Film Cannes
7.000 Kasus Demam Berdarah di Singapura
Militer Suriah Perangi Pemberontak di Kota Qusair
Filipina Bantah Klaim “Pembunuhan” dari Taiwan
