SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 2 September 2014
Pencarian Arsip

Israel Akan Tinjau Ulang Proyek Pemukiman
Selasa, 4 Desember 2012 | 11:40

Pemandangan dari pemukiman Tepi Barat Yahudi Maaleh Adumim, dengan latar belakang Zona E1,  dekat Yerusalem, Minggu (2/12) [AP] Pemandangan dari pemukiman Tepi Barat Yahudi Maaleh Adumim, dengan latar belakang Zona E1, dekat Yerusalem, Minggu (2/12) [AP]

[YERUSALEM] Pemerintah Israel akan meninjau kembali (review) proyek pembangunan 1.600 pemukiman baru di Yerusalem Timur dan Tepi Barat pasca keberatan yang disampaikan Pemerintah Amerika Serikat (AS).  

“Dalam dua minggu ke depan, komite Kementerian Dalam Negeri untuk Distrik Yerusalem akan bersidang membahas keberatan terhadap program pemukiman baru dan akan memutuskan apakah menerima keberatan atau melakukan perubahan rencana,” kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Efrat Orbach, seperti dikutip AFP, Senin (3/12).

Menurut dia, komite akan mengambil keputusan mengacu pada keberatan dan keprihatinan yang diajukan masyarakat dan sejumlah negara sekutu Israel khususnya AS terhadap proyek “Ramat Shlomo”, pemukiman di wilayah sengketa antara Israel dan Palestina.  

Proyek tersebut, awalnya diluncurkan pada 9 Maret 2010 dan memicu keretakan hubungan diplomatik AS-Israel. AS mendesak Israel untuk menghentikan proyek pembangunan sekitar 3.000 rumah baru itu sebelum negosiasi antara Israel-Palestina mencapai kesepakatan.   Proyek itu, akhirnya dihentikan pada Agustus 2011.

Namun Israel kembali mengumumkan rencana melanjutkan pembangunan proyek pemukiman di wilayah sengketa itu, setelah Palestina mendapat pengakuan sebagai negara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada 29 November 2012.  

Ramat Shlomo adalah permukiman Yahudi di sektor timur Yerusalem, awalnya merupakan wilayah Palestina yang direbut Israel pada 1967 dan kemudian dianeksasi dalam langkah yang tidak diakui masyarakat internasional.

Pada Senin (3/12), pemerintah AS resmi menyampaikan keberatan atau protes terhadap rencana Israel membangun pemukiman baru di wilayah sengketa antara Israel dan Palestina.   

Juru bicara senior Gedung Putih, Jay Carney, mengatakan para pemimpin Israel harus menahan diri dan meninjau kembali rencana pembangunan perumahan itu. AS menilai langkah sepihak Israel itu kontraproduktif dan membuat upaya lanjut untuk negosiasi langsung dengan Palestina lebih sulit.  

Menghubungkan Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Mark Toner, juga mengkritik rencana Israel itu karena menilai upaya pembanguna pemukiman di wilayah sengketa yang disebut “E-1” itu akan "sangat merusak" upaya perdamaian Israel-Palestina.

E-1 menghubungkan Yerusalem Timur ke Tepi Bara, tempat bermukimnya kelompok utama Yahudi, Maaleh Adumim. Israel mengklaim seluruh Jerusalem sebagai ibu kotanya dan berkomitmen memasukkan pemukiman utama Tepi Barat ke dalam wilayahnya dalam setiap kesepakatan perdamaian.  

Keberatan yang disampaikan pemerintah AS terhadap proyek pemukiman baru Israel itu, melengkapi protes yang telah disampaikan negara-negara Uni Eropa (UE), yakni Inggris, Denmark, Spanyol dan Swedia menyerukan proyek perumahan harus dibuang.   Saat itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak kritik UE dan menyatakan, "Israel akan terus berdiri oleh kepentingan vitalnya, bahkan dalam menghadapi tekanan internasional."  

Namun otoritas Israel akhirnya mengumumkan rencana meninjau kembali proyek tersebut setelah pemerintah AS menyampaikan protes resmi. [AP/AFP/Aljazeera/J-9]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»