Indonesia Kecam Tindakan Semena-mena Israel
Selasa, 7 Agustus 2012 | 12:23
Marty Natalegawa [google] [AMMAN] Ketua Umum Pengurus besar Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI), Noer Fajriansyah menilai Israel
terlalu arogan dengan sikapnya menolak lima menteri masuk ke wilayah Ramallah. Dalam
pernyataan resmi di Jakarta, Selasa (7/8), HMI menghimbau pemerintah Indonesia
untuk terus konsisten memperjuangkan hak-hak Palestina.
Menurut Fajriansyah PB HMI menyatakan kekecewaan atas
sikap arogan dari Israel. Oleh karena itu, Indonesia juga harus konsisten untuk
tidak mengakui Israel sebagai negara sah. Israel patut dianggap negara
pelanggar HAM.
Sebelumnya delegasi Indonesia bersama dengan 12 negara anggota Komite Palestina Gerakan
Non Blok (GNB) lainnya bersatu mengutuk tindakan semena-mena Israel yang telah menghalangi penyelenggaraan KTM
khusus Komite Palestina GNB di Ramallah, Palestina.
Pertemuan tersebut sedianya akan diselenggarakan pada
tanggal 5-6 Agustus 2012 guna menunjukkan solidaritas terhadap penderitaan
bangsa Palestina sekaligus meninjau langsung situasi di lapangan sebagai akibat
kebijakan Israel.
Namun pertemuan akhirnya tidak dapat diselenggarakan
karena penolakan Israel memberikan akses masuk ke Ramallah yang merupakan
wilayah Palestina, kepada para delegasi Komite Palestina GNB.
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, yang sedianya akan
menghadiri pertemuan, pun telah ditolak oleh Israel untuk masuk ke Ramallah,
Sabtu (5/8). Pertemuan itu merupakan realisasi dari inisiatif Indonesia yang
disampaikan pada Pertemuan Tingkat Menlu Komite Palestina GNB di Sharm El
Sheikh, Mesir, 9-10 Mei lalu.
Dalam siaran pers diterima SP, Kementerian Luar Negeri
menyatakan, tindakan Israel tersebut merupakan pelanggaran terhadap prinsip hukum
internasional dan kewajibannya sebagai Otoritas Pendudukan (Occupying Power).
“Tindakan Israel tersebut telah membuktikan sekali lagi
kepada GNB dan masyarakat internasional mengenai kepedihan nasib bangsa
Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan di tanah mereka yang telah diduduki
sejak Juni 1967 dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Terhadap tindakan
Israel tersebut, Komite Palestina GNB memilih untuk tidak tunduk pada tekanan
Israel,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri.
Dalam pertemuan di Ramallah tersebut, Indonesia akan
menegaskan kembali pentingnya pengakuan atas negara Palestina, dan bahwa
kontribusi Gerakan Non Blok mencapai perdamaian dan keadilan di Palestina harus
dilakukan melalui langkah-langkah yang lebih konkrit. Pada akhir pertemuan, diharapkan akan diadopsi Deklarasi
Solidaritas Khusus untuk Palestina (Special
Solidarity Declaration for Palestine). [D-11]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
