Hun Sen: Menteri Ekonomi ASEAN Perlu Pererat Kerjasama Dengan Lembaga Peneliti Ekonomi
Selasa, 3 April 2012 | 15:06
Yingluck Shinawatra berjabatan tangan dengan Hun Sen [AP] [PNOMPH PENH] Guna mencapai Komunitas
Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC)
pada 2015 mendatang, menteri ekonomi se-ASEAN dirasa perlu untuk menjalin
kerjasama yang lebih erat lagi dengan lembaga-lembaga penelitian ekonomi.
Pasalnya, pembentukan komunitas ASEAN itu mendesak mengingat banyak
negara maju di dunia yang merevisi pertumbuhan ekonominya akibat terkena imbas
dari krisis finansial global.
Demikian disampaikan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dalam KTT ASEAN ke-20 di Peace
Palace, Pnomph Penh, Kamboja, Selasa (3/4). Ketua ASEAN 2012 itu menambahkan, ASEAN
perlu diwujudkan sebagai pasar
tunggal dan basis produksi, dengan aliran bebas barang, jasa, investasi, dan disertai tenaga kerja terampil.
“Oleh karena itu, kita harus meletakkan
prioritas atas langkah-langkah
konkrit untuk mengatasi semua tantangan dan menjembatani kesenjangan yang
merupakan hambatan untuk realisasi AEC seperti
yang direncanakan. Untuk tujuan ini, kita harus mendorong menteri ekonomi ASEAN untuk lebih erat lagi
bekerja sama dengan lembaga penelitian ekonomi untuk ASEAN dan Asia Timur,” jelasnya.
Langkah itu, tambah Hun Sen, perlu dilakukan untuk
menghasilkan masukan untuk
menutup kesenjangan implementasi termasuk penguatan kelembagaan kapasitas dan koordinasi, yang mana hal itu
dikhawatirkan bisa menghambat realisasi AEC pada
tahun 2015.
Dalam KTT ASEAN ke-20 yang bertepatan dengan perayaan ulang
tahun ke-45 ASEAN, sambung dia, negara-negara
di Asia Tenggara telah mengalami transformasi besar
sejak pendiriannya, dari daerah dilanda konflik, kesengsaraan dan kemiskinan hingga ke wilayah perdamaian, stabilitas dan
pembangunan.
Bahkan,
setelah lebih dari empat dekade pembangunan, saat ini ASEAN
telah menjadi sebuah entitas politik dan ekonomi terintegrasi, dan juga pemain berpengaruh di Asia dan
merupakan mitra strategis yang tak terpisahkan dari negara-negara besar dan
organisasi di dunia.
Namun demikian, bersama dengan
kesuksesan dan prestasi yang dibuat ASEAN sejauh
ini, perlu diakui ada beberapa
tantangan yang perlu ditangani dalam rangka mewujudkan tujuan ASEAN “One Community-One Destiny” antara lain krisis keuangan, harga minyak yang terus
meningkat, krisis pangan, bencana alam, terorisme, dan tak ketinggalan gejolak
sosial dan politik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Untuk itu, Hun Sen meminta negara-negara di ASEAN untuk
bisa melipatgandakan upaya untuk menjaga petumbuhan ekonominya dan memeratakan
hasil pertumbuhannya, tak hanya di tingkat nasional tapi juga di tingkat
regional antara negara ASEAN. “Dalam wilayah ini, meskipun
kesenjangan pembangunan di antara anggota ASEAN telah terasa menyempit, tapi ini masih besar. Ini mengharuskan kita untuk melipatgandakan usaha kita
untuk mempromosikan pertumbuhan lebih lanjut dan meningkatkan pemerataan hasil
pertumbuhan baik di tingkat nasional dan regional antara
negara anggota,” katanya.
Adapun, efektivitas ASEAN dalam infrastruktur
fisik dan kelembagaan adalah kunci untuk mempersempit kesenjangan pembangunan
dan memastikan keberhasilan integrasi ASEAN. Untuk mencapai tujuan ini, ASEAN telah
mengadopsi dan mengimplementasikan "Master Plan on ASEAN
Connectivity". Di mana, dalam hal ini
perlu menarik mitra utama ASEAN
serta perluasan ASEAN Infrastructure Fund (AIF) melalui dukungan dari Asian
Development Bank (ADB) dan juga sektor swasta. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
