SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Mei 2013
Pencarian Arsip

Calon Pengebom ‘Pakaian Dalam' Ternyata Seorang Agen Ganda
Rabu, 9 Mei 2012 | 11:09

Bom pakaian dalam pernah digunakan pada tahun 2009 dalam penerbangan ke Detroit. [AFP] Bom pakaian dalam pernah digunakan pada tahun 2009 dalam penerbangan ke Detroit. [AFP]

[WASHINGTON] Laporan sejumlah media massa Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa calon pengebom bunuh diri  yang merencanakan serangan 'bom pakaian dalam' yang berhasil digagalkan, ternyata adalah seorang agen ganda.

Kutipan pernyataan pejabat AS menyatakan bahwa orang yang dikirim oleh al-Qaeda di Yaman untuk menyerang penerbangan AS, ternyata seorang agen yang menyamar.

Intelijen AS mengungkapkan, bulan lalu militan Al-Qaeda di Semenanjung Arab yang bernama AQAP, berencana menyerang sebuah pesawat dengan bom versi terbaru, yang disembunyikan di pakaian dalam, mirip seperti yang digunakan dalam upaya pengeboman yang juga gagal pada tahun 2009.

Tetapi calon pengebom bunuh diri tersebut ternyata seorang agen intelijen Arab Saudi yang dikirim ke Yaman untuk menyusup sel teroris Al-Qaeda.

Menyamar sebagai pengebom bunuh diri, agen tersebut kemudian menyerahkan perlengkapan 'bom pakaian dalam'  ke CIA dan pejabat Arab Saudi.

Setelah dianalisa FBI, diketahui bahwa bom itu tidak mengandung logam dan didesain untuk lolos dari deteksi keamanan bandara. Alat tersebut memiliki kemiripan dengan bom yang dijahit di pakaian dalam yang dipakai Umar Farouk Abdulmutallab pada Hari Natal 2009. Dia ditangkap ketika bom gagal meledak saat dalam penerbangan ke Detroit.

Pelatihan Militer

Peter King, seorang anggota Kongres AS mengaitkan rencana serangan yang gagal itu sebagai bagian dari operasi pembunuhan pemimpin AQAP, Fahd al-Quso, dalam serangan pesawat tak berawak di Yaman, Minggu lalu.

Peter King, kepada CNN mengatakan bahwa dia mendapatkan informasi dari Gedung Putih ''mereka terkait, mereka bagian operasi yang sama''.

Quso sebelumnya dianggap sebagai perencana serangan 'bom pakaian dalam' yang gagal di tahun 2009. AS menawarkan hadiah US$ 5 juta atau sekitar Rp 45 miliar untuk informasi yang bisa menangkap atau menewaskan Quso.

Sementara itu, Juru Bicara Pentagon, Kapten John Kirby kepada wartawan mengatakan,  AS  ''mulai mengirim sejumlah pelatih militer ke Yaman''.

"Kami bekerja sama dengan pemerintahan dan militer Yaman untuk membantu mereka mengatasi ancaman Al-Qaeda yang meningkat di Yaman,'' katanya.

Tetapi Kirby tidak menyebutkan berapa jumlah pelatih militer yang terlibat atau tempat lokasi pelatihan. Program pelatihan militer Washington di Yaman sempat dihentikan tahun 2011, setelah Presiden Ali Abdullah Saleh terluka parah dalam sebuah serangan roket.

Presiden Saleh kemudian menyerahkan kekuasaan ke wakilnya, Abed Rabbo Mansour Hadi bulan Februari silam, setelah selama setahun menghadapi tuntutan massa pro demokrasi dan serangan terbuka di antara kelompok bersaing. [BBC/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN