Misteri Kematian Munir
Benarkah Ongen Ingin Menulis Testimoni Baru?
Rabu, 9 Mei 2012 | 10:46
Raymond JJ Latuihamalo alias Ongen (kiri). [Radio Nederland] Satu lagi saksi kunci yang diharap
bisa mengungkap kasus kematian Munir, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yakni Raymond
JJ Latuihamalo alias Ongen, telah tiada. Ongen meninggal Rabu pekan lalu.
Kematian Ongen menimbulkan sejuta pertanyaan.
Siapakah yang hadir dan
duduk bersama almarhum Munir di Coffee Bean saat pesawat Garuda Indonesia
dengan nomor penerbangan GA-974 transit di Bandara Changi, Singapura, pada tengah malam 6 September 2004?
Apa yang terjadi di kafe itu saat
almarhum Munir duduk dan minum bersama orang yang diduga Pollycarpus?
Dengan meninggalnya saksi kunci Ongen, maka pertanyaan-pertanyaan itu makin
sulit dijawab.
Koordinator KASUM Chairul Annam mengusulkan agar jasad Ongen
diautopsi untuk menyelidiki penyebab kematian, namun pihak keluarga menyatakan
tidak ada yang janggal pada kematian Ongen.
Ongen, 56 tahun, meninggal dunia setelah mengalami kejang hingga dua kali
saat mobilnya berhenti di Jalan Panglima Polim, Blok M, Jakarta Selatan.
Karena
istri dan putri Ongen yang berada di mobil tidak dapat menggantikannya
menyetir, mereka minta tolong seorang pengendara, namun terlambat.
Ongen wafat setiba di RS Pertamina. Almarhum selama ini dikenal sehat dan
riwayat medisnya tidak tercatat mengalami gangguan jantung.
Diganggu
Anehnya, sesaat sebelum meninggal, mobil Ongen sempat diganggu. Sebuah mobil
berada di depannya tetap berhenti meski lampu sudah hijau.
Ketika Ongen turun
dan terjadi pertengkaran, pengendara mobil tersebut mengaku dirinya dari “TNI”
dan melemparkan dua botol Aqua ke mobil Ongen.
Rincian mengenai bentrokan fisik antara Ongen dan pengemudi itu, belum
jelas.
Ketika kembali ke mobil, Ongen langsung mengunci telepon selularnya,
suatu hal yang tak pernah dilakukannya, kemudian mengalami kejang, lalu
meninggal di pangkuan istrinya.
Ongen dibawa ke RS Pertamina, namun tak jelas mengapa jasadnya kemudian
dibawa ke RS Militer Gatot Subroto.
Ongen adalah salah satu saksi mata yang melihat almarhum Munir ketika berada
di Coffee Bean di Bandara Singapura Changi tanggal 6 menjelang 7 September
2004.
Saksi lain, Asrini, mahasiswi Indonesia di Jerman, melihat Pollycarpus
Budi Priyanto, pilot Garuda yang saat itu tidak bertugas, tengah mengambil
minuman, kemudian duduk bersama Munir dan Ongen.
Ongen dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pertama kali mengatakan hanya
melihat dari kejauhan Pollycarpus duduk bersama Munir di kafe tersebut.
Tetapi
belakangan, dalam sidang pengadilan Pollycarpus, Ongen menyatakan orang yang
dilihatnya bersama Munir itu bukan dia,” ujarnya sambil berdiri menunjuk ke
Pollycarpus di kursi terdakwa.
Belakangan lagi, dalam sidang Mahkamah Agung, Ongen mengubah lagi
kesaksiannya dengan mencabut kesaksian yang ia kemukakan dalam sidang Pollycarpus.
Ongen juga disebut-sebut terlibat dalam pembicaraan serius di Changi dengan
seseorang yang dideskripsikannya mirip figur Pollycarpus. Pollycarpus sendiri,
yang telah divonis 20 tahun penjara, membantah bahwa dirinya bertemu Munir di
Changi.
Nama Ongen tampaknya bukan nama asing bagi polisi dan imigrasi. Dalam
beberapa kasus narkotika, namanya disebut-sebut, meski tak jelas benar seberapa
jauh keterlibatannya.
Preman Politik
Ongen adalah seorang musisi, penyanyi dalam acara gereja yang sering mondar-mandir
ke Belanda.
Ketika kasus Munir mencuat tahun 2007, seorang perwira marinir
sempat mengutus orang untuk menjemputnya di Belanda, namun Ongen diduga tengah
melarikan diri dan diketahui berada di Malaysia.
Dalam situasi panas itu, Ongen kemudian dijemput oleh pihak berwajib lalu
dikawal dan dibawa dengan aman ke Jakarta.
Ongen, singkatnya, penuh misteri.
Namun, intinya, tetap seputar apa yang
terjadi di Coffee Bean di Bandara Changi yang resmi berstatus TKP (Tempat
Kejadian Perkara) atau locus delicti dari pembunuhan Munir.
Tapi, hingga akhir hidupnya, Ongen hanya dipanggil menjadi saksi, dan tidak
pernah dijadikan terdakwa. Asrini yang melihat Pollycarpus, Munir dan Ongen
duduk bersama di kafe tersebut, dan juga John Ririmase, Kepala Garuda di Amsterdam,
mengenali dan menyebut Ongen sebagai “preman politik.”
Sementara sebuah kesaksian lain melihat Pollycarpus dan Ongen berbicara
serius saat transit. Ongen sendiri diketahui mengubah-ubah terus kesaksiannya.
Semula mengaku melihat Polly dan Munir di kafe, kemudian mencabut pernyataan
tersebut, tapi belakangan lagi membantah dia telah mencabut kesaksian BAP.
Tekanan
Ongen sempat sangat bimbang. Kalangan pemerhati kasus Munir di Jakarta
berasumsi bahwa Ongen mengalami tekanan berat sehingga dia harus mencabut
pernyataan BAP-nya.
Dari siapakah tekanan itu, dan mengapa Polly harus dilindungi, menjadi
teka-teki yang tak terjawab.
Dugaan bahwa Ongen mengalami tekanan batin memperkuat asumsi bahwa Ongen
mencabut pernyataannya karena paksaan pihak tertentu.
Yang menarik, sebuah sumber yang dekat dengan keluarga Ongen kepada Radio
Nederland (RN), membenarkan bahwa Ongen merasa gelisah dan bersyukur kepada
Tuhan bahwa dia masih dapat bertahan hidup.
Hal itu diungkapnya saat dia meminta seorang kerabatnya untuk menuliskan
sebuah testimoni baru. Rencana itulah yang diungkapnya beberapa saat sebelum
dia berangkat untuk berlibur Paskah dan merayakan Jumat Agung selama dua minggu
di Belanda, April lalu.
Dengan meninggalnya Ongen, maka bertambahlah jumlah orang yang telah tiada,
yang diduga sedikit banyak tersangkut atau mengetahui, termasuk beberapa
pejabat aparat intelijen BIN dan juga seorang pendeta yang dekat dengan Ongen.
Istri Munir, Suciwati, dalam tanggapannya menyatakan dirinya masih melihat
adanya sejumlah saksi penting yang dapat mengungkap kasus Munir.
Sementara pihak Belanda, khususnya marsose Bandara
Schiphol, belum pernah mengungkap laporan lengkap BAP terhadap semua penumpang
GA-974. Kasus pembunuhan Munir makin gelap saja.
Agaknya titik terangnya baru
akan tampak bila perencana pembunuhan ditangkap. Itulah yang hingga kini tak
terjadi. [RN/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
