SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 19 Mei 2013
Pencarian Arsip

Misteri Kematian Munir

Benarkah Ongen Ingin Menulis Testimoni Baru?
Rabu, 9 Mei 2012 | 10:46

Raymond JJ Latuihamalo alias Ongen (kiri). [Radio Nederland] Raymond JJ Latuihamalo alias Ongen (kiri). [Radio Nederland]

Satu lagi saksi kunci yang diharap bisa mengungkap kasus kematian Munir, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yakni Raymond JJ Latuihamalo alias Ongen, telah tiada. Ongen meninggal Rabu pekan lalu.

Kematian Ongen menimbulkan sejuta pertanyaan. 

Siapakah yang hadir dan duduk bersama almarhum Munir di Coffee Bean saat pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-974 transit di Bandara Changi, Singapura,  pada tengah malam 6 September 2004?


Apa yang terjadi di kafe itu saat almarhum Munir duduk dan minum bersama orang yang diduga Pollycarpus?


Dengan meninggalnya saksi kunci Ongen, maka pertanyaan-pertanyaan itu makin sulit dijawab.

Koordinator KASUM Chairul Annam mengusulkan agar jasad Ongen diautopsi untuk menyelidiki penyebab kematian, namun pihak keluarga menyatakan tidak ada yang janggal pada kematian Ongen.

Ongen, 56 tahun, meninggal dunia setelah mengalami kejang hingga dua kali saat mobilnya berhenti di Jalan Panglima Polim, Blok M, Jakarta Selatan.

Karena istri dan putri Ongen yang berada di mobil tidak dapat menggantikannya menyetir, mereka minta tolong seorang pengendara, namun terlambat. Ongen wafat setiba di RS Pertamina. Almarhum selama ini dikenal sehat dan riwayat medisnya tidak tercatat mengalami gangguan jantung.

Diganggu


Anehnya, sesaat sebelum meninggal, mobil Ongen sempat diganggu. Sebuah mobil berada di depannya tetap berhenti meski lampu sudah hijau.

Ketika Ongen turun dan terjadi pertengkaran, pengendara mobil tersebut mengaku dirinya dari “TNI” dan melemparkan dua botol Aqua ke mobil Ongen. Rincian mengenai bentrokan fisik antara Ongen dan pengemudi itu, belum jelas.

Ketika kembali ke mobil, Ongen langsung mengunci telepon selularnya, suatu hal yang tak pernah dilakukannya, kemudian mengalami kejang, lalu meninggal di pangkuan istrinya.

Ongen dibawa ke RS Pertamina, namun tak jelas mengapa jasadnya kemudian dibawa ke RS Militer Gatot Subroto.

Ongen adalah salah satu saksi mata yang melihat almarhum Munir ketika berada di Coffee Bean di Bandara Singapura Changi tanggal 6 menjelang 7 September 2004.

Saksi lain, Asrini, mahasiswi Indonesia di Jerman, melihat Pollycarpus Budi Priyanto, pilot Garuda yang saat itu tidak bertugas, tengah mengambil minuman, kemudian duduk bersama Munir dan Ongen.

Ongen dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pertama kali mengatakan hanya melihat dari kejauhan Pollycarpus duduk bersama Munir di kafe tersebut.

Tetapi belakangan, dalam sidang pengadilan Pollycarpus, Ongen menyatakan orang yang dilihatnya bersama Munir itu bukan dia,” ujarnya sambil berdiri menunjuk ke Pollycarpus di kursi terdakwa.

Belakangan lagi, dalam sidang Mahkamah Agung, Ongen mengubah lagi kesaksiannya dengan mencabut kesaksian yang ia kemukakan dalam sidang Pollycarpus.

Ongen juga disebut-sebut terlibat dalam pembicaraan serius di Changi dengan seseorang yang dideskripsikannya mirip figur Pollycarpus. Pollycarpus sendiri, yang telah divonis 20 tahun penjara, membantah bahwa dirinya bertemu Munir di Changi.

Nama Ongen tampaknya bukan nama asing bagi polisi dan imigrasi. Dalam beberapa kasus narkotika, namanya disebut-sebut, meski tak jelas benar seberapa jauh keterlibatannya.

Preman Politik

Ongen adalah seorang musisi, penyanyi dalam acara gereja yang sering mondar-mandir ke Belanda.

Ketika kasus Munir mencuat tahun 2007, seorang perwira marinir sempat mengutus orang untuk menjemputnya di Belanda, namun Ongen diduga tengah melarikan diri dan diketahui berada di Malaysia.

Dalam situasi panas itu, Ongen kemudian dijemput oleh pihak berwajib lalu dikawal dan dibawa dengan aman ke Jakarta. Ongen, singkatnya, penuh misteri.

Namun, intinya, tetap seputar apa yang terjadi di Coffee Bean di Bandara Changi yang resmi berstatus TKP (Tempat Kejadian Perkara) atau locus delicti dari pembunuhan Munir.

Tapi, hingga akhir hidupnya, Ongen hanya dipanggil menjadi saksi, dan tidak pernah dijadikan terdakwa. Asrini yang melihat Pollycarpus, Munir dan Ongen duduk bersama di kafe tersebut, dan juga John Ririmase, Kepala Garuda di Amsterdam, mengenali dan menyebut Ongen sebagai “preman politik.”

Sementara sebuah kesaksian lain melihat Pollycarpus dan Ongen berbicara serius saat transit. Ongen sendiri diketahui mengubah-ubah terus kesaksiannya. Semula mengaku melihat Polly dan Munir di kafe, kemudian mencabut pernyataan tersebut, tapi belakangan lagi membantah dia telah mencabut kesaksian BAP.

Tekanan

Ongen sempat sangat bimbang. Kalangan pemerhati kasus Munir di Jakarta berasumsi bahwa Ongen mengalami tekanan berat sehingga dia harus mencabut pernyataan BAP-nya.

Dari siapakah tekanan itu, dan mengapa Polly harus dilindungi, menjadi teka-teki yang tak terjawab. Dugaan bahwa Ongen mengalami tekanan batin memperkuat asumsi bahwa Ongen mencabut pernyataannya karena paksaan pihak tertentu.

Yang menarik, sebuah sumber yang dekat dengan keluarga Ongen kepada Radio Nederland (RN), membenarkan bahwa Ongen merasa gelisah dan bersyukur kepada Tuhan bahwa dia masih dapat bertahan hidup.

Hal itu diungkapnya saat dia meminta seorang kerabatnya untuk menuliskan sebuah testimoni baru. Rencana itulah yang diungkapnya beberapa saat sebelum dia berangkat untuk berlibur Paskah dan merayakan Jumat Agung selama dua minggu di Belanda, April lalu.

Dengan meninggalnya Ongen, maka bertambahlah jumlah orang yang telah tiada, yang diduga sedikit banyak tersangkut atau mengetahui, termasuk beberapa pejabat aparat intelijen BIN dan juga seorang pendeta yang dekat dengan Ongen.

Istri Munir, Suciwati, dalam tanggapannya menyatakan dirinya masih melihat adanya sejumlah saksi penting yang dapat mengungkap kasus Munir.

Sementara pihak Belanda, khususnya marsose Bandara Schiphol, belum pernah mengungkap laporan lengkap BAP terhadap semua penumpang GA-974. Kasus pembunuhan Munir makin gelap saja.

Agaknya titik terangnya baru akan tampak bila perencana pembunuhan ditangkap. Itulah yang hingga kini tak terjadi. [RN/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN