AS Picu Perang Sipil di Suriah
Selasa, 21 Februari 2012 | 10:58
Kekerasan di Suriah [google] [BEIJING] Pakar hubungan luar negeri Tiongkok Qu Xing,
menyebut Amerika Serikat (AS) dan sekutunya negara-negara Barat mendorong
pecahnya perang sipil di Suriah, untuk menciptakan situasi yang mengharuskan
intervensi militer asing. Pada artikelnya di surat kabar Tiongkok, People’s Daily, dan dikutip oleh Reuters, Senin (20/2), Xing menyerukan
Beijing untuk terus menolak usaha intervensi yang digalang Barat untuk
menggulingkan pemerintahan Suriah.
Xing menegaskan jika Dewan Keamanan (DK) meloloskan resolusi
yang diusulkan Liga Arab untuk menuntut mundur Presiden Suriah Bashar al-Assad,
hanya akan menciptakan lebih banyak kekerasan. “Jika Barat terus mendukung
pemberontak Suriah, maka itu akan berakhir dengan perang sipil berskala besar,
dan tidak akan ada cara untuk menghindari kemungkinan intervensi militer
asing,” katanya.
Artikelnya itu menyusul kunjungan diplomat Beijing ke
Damaskus, dalam upaya memediasi pembicaraan damai di Suriah. Wakil Menteri Luar
Negeri Tiongkok Zhai Jun, bertemu Assad di Damaskus, Sabtu (18/2) lalu, dan
mendukung rencananya untuk menggelar referendum serta pemilu multipartai. Jun
menyampaikan harapan bahwa pemerintah dan oposisi dapat menghentikan
pertumpahan darah, dan melakukan dialog penuh damai.
“Posisi Tiongkok adalah menyerukan pemerintah, oposisi dan
pemberontak untuk menahan diri dari kekerasan segara,” kata Jun. Beijing
menegaskan memilih menghindari skenario intervensi seperti terjadi di Libia,
terulang di Suriah. Profesor politik internasional dari Universitas Bristol,
Zhang Yongjin, mengatakan bahwa ada situasi yang paralel antara Suriah dan
situasi di Libia.
“Beijing mewaspadai retorika yang menjadi bagian dari
kebijakan oleh Barat,” katanya. Yongjin memperingatkan retorika yang sama oleh
para pejabat Inggris, mengulang petualangan NATO di Libia. Ketika itu, London
mempersenjatai oposisi Libia dan pada akhirnya menjadi bagian resmi dari
kebijakan Inggris dan London, yang berakhir dengan intervensi militer.
“Ada dorongan bagi oposisi Suriah untuk tidak menerima
apapun bentuk solusi politik dan terus melakukan pemberontakan bersenjata, dan
menuntut digulingkannya pemerintah. Beijing sangat prihatin, jelas, tentang
kemungkinan resolusi damai di Suriah dengan situasi yang dipenuhi retorika
semacam itu,” katanya.
Rusia dan Tiongkok memblokade resolusi DK PBB atas Suriah,
pada 4 Februari lalu. Mokwa dan Beijing menegaskan bahwa rancangan resolusi
berisi tekanan sepihak dan akan memberi sinyal yang tidak seimbang bagi kedua
pihak yang terlibat konflik di Suriah. Resolusi itu berisi tuntutan mundur bagi
Assad, namun tidak sedikitnya menyebut soal kekacauan yang diciptakan kelompok
pemberontak bersenjata.
Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS) James
Clapper, pekan lalu, menjadi pejabat tinggi AS pertama, yang mengakui bahwa AS
secara tidak langsung telah mendukung pemberontak Al-Qaeda di Suriah. Berbicara
pada Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, Kamis (16/2), Clapper mengatakan
bahwa Presiden Suriah Bashar Al-Assad berperang melawan Al-Qaeda dari Irak.
Dia menambahkan bahwa kelompok oposisi Suriah yang bertempur
melawan pasukan pemerintah Suriah, telah disusupi oleh Al-Qaeda. “Namun
sepertinya tanpa disadari mereka (oposisi),” katanya. Clapper mengatakan
kurangnya persatuan kelompok oposisi dapat mengakibatkan kevakuman kekuasaan,
yang akan dimanfaatkan ekstrimis jika pemerintah Suriah jatuh. [RT/B-14]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kasus Kekerasan Atas Nama Agama Marak, Indonesia Dilaporkan ke PBB
SBY Minta Korut Bisa Jaga Perdamaian dan Pertumbuhan Ekonomi Asia
Kim Jong Un Undang SBY Berkunjung ke Korut
RI-Korut Sepakat Tingkatkan Kerja Sama
Kebuntuan di Yunani Ciptakan Krisis Pasar Finansial Eropa
Sekjen PBB Cidera Dalam Pertandingan Sepakbola
Hari Ini Pemerintah Baru Palestina Dilantik
Presiden Korsel Temui Aung San Suu Kyi
