SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 Mei 2012
Pencarian Arsip

AS Picu Perang Sipil di Suriah
Selasa, 21 Februari 2012 | 10:58

Kekerasan di Suriah [google] Kekerasan di Suriah [google]

[BEIJING] Pakar hubungan luar negeri Tiongkok Qu Xing, menyebut Amerika Serikat (AS) dan sekutunya negara-negara Barat mendorong pecahnya perang sipil di Suriah, untuk menciptakan situasi yang mengharuskan intervensi militer asing. Pada artikelnya di surat kabar Tiongkok, People’s Daily, dan dikutip oleh Reuters, Senin (20/2), Xing menyerukan Beijing untuk terus menolak usaha intervensi yang digalang Barat untuk menggulingkan pemerintahan Suriah.  

Xing menegaskan jika Dewan Keamanan (DK) meloloskan resolusi yang diusulkan Liga Arab untuk menuntut mundur Presiden Suriah Bashar al-Assad, hanya akan menciptakan lebih banyak kekerasan. “Jika Barat terus mendukung pemberontak Suriah, maka itu akan berakhir dengan perang sipil berskala besar, dan tidak akan ada cara untuk menghindari kemungkinan intervensi militer asing,” katanya.  

Artikelnya itu menyusul kunjungan diplomat Beijing ke Damaskus, dalam upaya memediasi pembicaraan damai di Suriah. Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Zhai Jun, bertemu Assad di Damaskus, Sabtu (18/2) lalu, dan mendukung rencananya untuk menggelar referendum serta pemilu multipartai. Jun menyampaikan harapan bahwa pemerintah dan oposisi dapat menghentikan pertumpahan darah, dan melakukan dialog penuh damai. 

“Posisi Tiongkok adalah menyerukan pemerintah, oposisi dan pemberontak untuk menahan diri dari kekerasan segara,” kata Jun. Beijing menegaskan memilih menghindari skenario intervensi seperti terjadi di Libia, terulang di Suriah. Profesor politik internasional dari Universitas Bristol, Zhang Yongjin, mengatakan bahwa ada situasi yang paralel antara Suriah dan situasi di Libia.  

“Beijing mewaspadai retorika yang menjadi bagian dari kebijakan oleh Barat,” katanya. Yongjin memperingatkan retorika yang sama oleh para pejabat Inggris, mengulang petualangan NATO di Libia. Ketika itu, London mempersenjatai oposisi Libia dan pada akhirnya menjadi bagian resmi dari kebijakan Inggris dan London, yang berakhir dengan intervensi militer.  

“Ada dorongan bagi oposisi Suriah untuk tidak menerima apapun bentuk solusi politik dan terus melakukan pemberontakan bersenjata, dan menuntut digulingkannya pemerintah. Beijing sangat prihatin, jelas, tentang kemungkinan resolusi damai di Suriah dengan situasi yang dipenuhi retorika semacam itu,” katanya.  

Rusia dan Tiongkok memblokade resolusi DK PBB atas Suriah, pada 4 Februari lalu. Mokwa dan Beijing menegaskan bahwa rancangan resolusi berisi tekanan sepihak dan akan memberi sinyal yang tidak seimbang bagi kedua pihak yang terlibat konflik di Suriah. Resolusi itu berisi tuntutan mundur bagi Assad, namun tidak sedikitnya menyebut soal kekacauan yang diciptakan kelompok pemberontak bersenjata.

Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS) James Clapper, pekan lalu, menjadi pejabat tinggi AS pertama, yang mengakui bahwa AS secara tidak langsung telah mendukung pemberontak Al-Qaeda di Suriah. Berbicara pada Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, Kamis (16/2), Clapper mengatakan bahwa Presiden Suriah Bashar Al-Assad berperang melawan Al-Qaeda dari Irak.  

Dia menambahkan bahwa kelompok oposisi Suriah yang bertempur melawan pasukan pemerintah Suriah, telah disusupi oleh Al-Qaeda. “Namun sepertinya tanpa disadari mereka (oposisi),” katanya. Clapper mengatakan kurangnya persatuan kelompok oposisi dapat mengakibatkan kevakuman kekuasaan, yang akan dimanfaatkan ekstrimis jika pemerintah Suriah jatuh. [RT/B-14]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN