SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 19 Juni 2013
Pencarian Arsip

Kesehatan Spiritual Ternyata Bisa Diukur
Senin, 21 Mei 2012 | 15:42

Menteri Riset dan Teknologi , Gusti Muhammad Hatta Menteri Riset dan Teknologi , Gusti Muhammad Hatta

[JAKARTA] Indonesian Spiritual Health Assesment (ISHA) yang diluncurkan Centre for Neuroscience Health Spirituality (C-Net) bisa menjadi instrumen untuk mengukur kesehatan spiritual seseorang. Instrumen ini juga bisa dipakai untuk mengukur kesehatan spiritual pemimpin  dan pejabat-pejabat di negara ini.

Ketua C-Net Taufiq Pasiak mengatakan alat dan instrumen yang diluncurkan januari 2011 lalu tersebut bisa dijadikan sarana untuk mengintervensi dalam konteks mengukur tingkat spiritual seseorang. Meski untuk mengetahui pasti karakter dan kesehatan spiritual manusia butuh waktu lama bahkan sepanjang hidupnya orang tersebut, alat ini bisa merepresentasikan hasil pengukuran kesehatan spiritual tersebut.

“ISHA memiliki empat komponen yang ditanyakan kepada orang yang dites seperti makna hidup apakah  tindakannya bernilai untuk orang lain, pengalaman spiritual, emosi positif dan ritual (dalam konteks keagamaan),” kata Taufik, di sela workshop Membangun Bangsa Berkarakter Unggul dan Bermoral: Tinjauan Aspek Kesehatan Otak dan Sosial Humaniora, di Jakarta, Senin (21/5).

Taufik menambahkan alat ini sudah digunakan untuk mengukur kesehatan spiritual  1.000 orang di seluruh Indonesia . Namun instrumen ini belum digunakan untuk mengukur kesehatan spiritual para pejabat negara. “Untuk hal itu, memang membutuhkan kemauan politik. Kami pun sudah melakukan audiensi dengan komisi IX  DPR tapi belum ada respon. Dengan alat ini bisa mengetahui seseorang berdusta atau tidak,” ungkapnya.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan faktor internal utama penentu karakter manusia adalah fungsi otak. Secara biologis otak adalah pusat bagi seluruh aktivitas tubuh. Berbicara tentang karakter bangsa, setidaknya bangsa Indonesia diharapkan memiliki karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif dan mandiri.

“Dari sudut pembangunan iptek, karakter gemar membaca, rasa ingin tahu, kerja keras, jujur, disiplin, menghargai prestasi adalah karakter yang sangat mempengaruhi integritas seorang ilmuwan. Namun yang diamati dalam interaksi dengan lingkungan ilmiah dan kehidupan pada umumnya terasa semakin jauh dari karakter tersebut,” paparnya.

Untuk memperoleh karakter bangsa Indonesia yang unggul dan bermoral dibutuhkan peningkatkan kualitas otak manusia Indonesia. Kemenristek pun memfokuskan kegiatan riset di bidang kesehatan, bidang gizi, pengendalian penyakit, pengembangan obat dan pengembangan alat kesehatan. 

Selain itu juga berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kepribadian dan emosional manusia Indonesia. Keunggulan suatu bangsa lanjutnya sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai iptek dan kemampuan tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya. [R-15]         




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN