Kesehatan Spiritual Ternyata Bisa Diukur
Senin, 21 Mei 2012 | 15:42
Menteri Riset dan Teknologi , Gusti Muhammad Hatta [JAKARTA]
Indonesian Spiritual Health Assesment (ISHA) yang diluncurkan Centre for
Neuroscience Health Spirituality (C-Net) bisa menjadi instrumen untuk mengukur
kesehatan spiritual seseorang. Instrumen ini juga bisa dipakai untuk mengukur
kesehatan spiritual pemimpin dan pejabat-pejabat di negara ini.
Ketua
C-Net Taufiq Pasiak mengatakan alat dan instrumen yang diluncurkan januari 2011
lalu tersebut bisa dijadikan sarana untuk mengintervensi dalam konteks mengukur
tingkat spiritual seseorang. Meski untuk mengetahui pasti karakter dan
kesehatan spiritual manusia butuh waktu lama bahkan sepanjang hidupnya orang
tersebut, alat ini bisa merepresentasikan hasil pengukuran kesehatan spiritual
tersebut.
“ISHA
memiliki empat komponen yang ditanyakan kepada orang yang dites seperti makna
hidup apakah tindakannya bernilai untuk orang lain, pengalaman spiritual,
emosi positif dan ritual (dalam konteks keagamaan),” kata Taufik, di sela
workshop Membangun Bangsa Berkarakter Unggul dan Bermoral: Tinjauan Aspek
Kesehatan Otak dan Sosial Humaniora, di Jakarta, Senin (21/5).
Taufik
menambahkan alat ini sudah digunakan untuk mengukur kesehatan spiritual
1.000 orang di seluruh Indonesia . Namun instrumen ini belum digunakan untuk
mengukur kesehatan spiritual para pejabat negara.
“Untuk
hal itu, memang membutuhkan kemauan politik. Kami pun sudah melakukan audiensi
dengan komisi IX DPR tapi belum ada respon. Dengan alat ini bisa
mengetahui seseorang berdusta atau tidak,” ungkapnya.
Menteri
Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan faktor internal utama
penentu karakter manusia adalah fungsi otak. Secara biologis otak adalah pusat
bagi seluruh aktivitas tubuh. Berbicara tentang karakter bangsa, setidaknya
bangsa Indonesia diharapkan memiliki karakter religius, jujur, toleransi,
disiplin, kerja keras, kreatif dan mandiri.
“Dari
sudut pembangunan iptek, karakter gemar membaca, rasa ingin tahu, kerja keras,
jujur, disiplin, menghargai prestasi adalah karakter yang sangat mempengaruhi integritas
seorang ilmuwan. Namun yang diamati dalam interaksi dengan lingkungan ilmiah
dan kehidupan pada umumnya terasa semakin jauh dari karakter tersebut,”
paparnya.
Untuk
memperoleh karakter bangsa Indonesia yang unggul dan bermoral dibutuhkan
peningkatkan kualitas otak manusia Indonesia. Kemenristek pun memfokuskan
kegiatan riset di bidang kesehatan, bidang gizi, pengendalian penyakit,
pengembangan obat dan pengembangan alat kesehatan.
Selain itu juga
berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kepribadian dan
emosional manusia Indonesia.
Keunggulan
suatu bangsa lanjutnya sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai
iptek dan kemampuan tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya
manusianya. [R-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
