BEM MIPA UI Dukung Pembangunan Listrik Tenaga Nuklir
Kamis, 19 April 2012 | 10:12
Ilustrasi masker antiradiasi nuklir [yahoo] [JAKARTA]
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
(MIPA) Universitas Indonesia (UI) mendukung rencana Pembangunan Listrik Tenaga
Nuklir (PLTN) sebagai salah satu cara meningkatkan kemandirian bangsa di bidang
energi.
Ketua BEM MIPA Universitas Indonesia tahun 2012 Rivan Tri Yuono menegaskan hal
itu. Menurutnya, PLTN sepatutnya didukung untuk perkembangan pembangunan di
Indonesia.
"Diskusi publik yang kami lakukan ini sebagai langkah untuk mengkaji
prokontra yang ada apalagi basic kami scientist," katanya di sela diskusi
publik PLTN di Indonesia, Solusi di Balik Kontroversi, di Kampus UI Depok,
baru-baru ini.
Apalagi dengan fakta-fakta yang ada lanjut mahasiswa jurusan fisika ini,
bagaimana kondisi sumber daya alam Indonesia dan kebijakan geopolitiknya.
"Kami terpanggil untuk meningkatkan tongkat estafet untuk menciptakan
keberlangsungan hidup di masa depan," ungkapnya.
Peneliti Bidang Reaktor Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Muhamad Subekti
menilai PLTN bisa menjadi solusi untuk menjawab kebutuhan listrik di tahun
2025-2050 yang mencapai 509 gigawatt elektrik dengan penambahan rata-rata
kebutuhan listrik 7 persen.
"Asumsinya setiap tahun jumlah penduduk semakin banyak, transportasi akan
berubah ke listrik seperti mobil listrik, cuaca semakin panas butuh pendingin
ruangan, konsumsi golongan menengah akan meningkatkan seiring naiknya strata
golongan mereka menjadi kelas atas," paparnya.
Indonesia sesungguhnya lebih dari 50 tahun lalu mengembangkan iptek nuklir
terutama di bidang non energi seperti teknologi untuk pemuliaan tanaman,
diagnosis dan terapi penyakit serta industri. Sedangkan iptek Nuklir untuk
prospek energi listrik PLTN sampai saat ini dalam proses penyiapan, menunggu
keputusan pemerintah.
PLTN tambahnya juga diyakini bakal menjawab tantangan penyediaan energi yang
efisien dan kontinu tanpa menghasilkan lepasan polutan gas rumah kaca yang
berbahaya bagi kelestarian lingkungan. Lebih dari 16 persen listrik dunia
dihasilkan oleh PLTN.
Ia menjelaskan untuk membangun satu reaktor PLTN membutuhkan waktu 10-15 tahun.
Batan pun terus mengevaluasi kecelakaan nuklir PLTN Fukushima di Jepang dan
lainnya seperti Chernobyl di Rusia puluhan tahun lalu untuk memastikan
tingkat keamanan cikal bakal penerapan PLTN di Indonesia.
Rencana calon tapak PLTN di Pulau Bangka pun dipandang ideal. "Kemungkinan
terjadi tsunami kecil. Pendapat geologis menyatakan frekuensi gempa di sana
juga kecil. Setahun terjadi gempa 2-3 kali itu pun hanya 2 skala richter,"
paparnya.
Tak hanya itu, Bangka Belitung juga memiliki torium dari pasir pantainya.
Kandungan ini dapat digunakan untuk mengoperasikan PLTN dengan prosentase
pemakaian yang lebih sedikit dan efisien dibanding menggunakan uranium dan
plutonium. Amerika Serikat dan Rusia pun sedangkan melakukan eksperimen PLTN
berbahan bakar torium tersebut.
Dosen Fisika Nuklir Universitas Indonesia Imam Fachruddin menilai seharusnya
sudah sejak lama Indonesia memiliki PLTN. Sayangnya kebijakan politik kerap menjadi
penghalang. "Apalagi Indonesia sudah mendapat lampu hijau dari IAEA badan
atom internasional. Hanya saja pemerintah belum mau mewujudkannya,"
ujarnya. [R-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
