SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 20 Juni 2013
Pencarian Arsip

BEM MIPA UI Dukung Pembangunan Listrik Tenaga Nuklir
Kamis, 19 April 2012 | 10:12

Ilustrasi masker antiradiasi nuklir [yahoo] Ilustrasi masker antiradiasi nuklir [yahoo]

[JAKARTA] Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia (UI) mendukung rencana Pembangunan Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai salah satu cara meningkatkan kemandirian bangsa di bidang energi.

Ketua BEM MIPA Universitas Indonesia tahun 2012 Rivan Tri Yuono menegaskan hal itu. Menurutnya, PLTN sepatutnya didukung untuk perkembangan pembangunan di Indonesia.

"Diskusi publik yang kami lakukan ini sebagai langkah untuk mengkaji prokontra yang ada apalagi basic kami scientist," katanya di sela diskusi publik PLTN di Indonesia, Solusi di Balik Kontroversi, di Kampus UI Depok, baru-baru ini.

Apalagi dengan fakta-fakta yang ada lanjut mahasiswa jurusan fisika ini, bagaimana kondisi sumber daya alam Indonesia dan kebijakan geopolitiknya. "Kami terpanggil untuk meningkatkan tongkat estafet untuk menciptakan keberlangsungan hidup di masa depan," ungkapnya.

Peneliti Bidang Reaktor Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Muhamad Subekti menilai PLTN bisa menjadi solusi untuk menjawab kebutuhan listrik di tahun 2025-2050 yang mencapai 509 gigawatt elektrik dengan penambahan rata-rata kebutuhan listrik 7 persen.

"Asumsinya setiap tahun jumlah penduduk semakin banyak, transportasi akan berubah ke listrik seperti mobil listrik, cuaca semakin panas butuh pendingin ruangan, konsumsi golongan menengah akan meningkatkan seiring naiknya strata golongan mereka menjadi kelas atas," paparnya.

Indonesia sesungguhnya lebih dari 50 tahun lalu mengembangkan iptek nuklir terutama di bidang non energi seperti teknologi untuk pemuliaan tanaman, diagnosis dan terapi penyakit serta industri. Sedangkan iptek Nuklir untuk prospek energi listrik PLTN sampai saat ini dalam proses penyiapan, menunggu keputusan pemerintah.

PLTN tambahnya juga diyakini bakal menjawab tantangan penyediaan energi yang efisien dan kontinu tanpa menghasilkan lepasan polutan gas rumah kaca yang berbahaya bagi kelestarian lingkungan. Lebih dari 16 persen listrik dunia dihasilkan oleh PLTN.

Ia menjelaskan untuk membangun satu reaktor PLTN membutuhkan waktu 10-15 tahun. Batan pun terus mengevaluasi kecelakaan nuklir PLTN Fukushima di Jepang dan lainnya seperti Chernobyl di Rusia puluhan tahun lalu untuk memastikan tingkat    keamanan cikal bakal penerapan PLTN di Indonesia.

Rencana calon tapak PLTN di Pulau Bangka pun dipandang ideal. "Kemungkinan terjadi tsunami kecil. Pendapat geologis menyatakan frekuensi gempa di sana juga kecil. Setahun terjadi gempa 2-3 kali itu pun hanya 2 skala richter," paparnya.

Tak hanya itu, Bangka Belitung juga memiliki torium dari pasir pantainya. Kandungan ini dapat digunakan untuk mengoperasikan PLTN dengan prosentase pemakaian yang lebih sedikit dan efisien dibanding menggunakan uranium dan plutonium. Amerika Serikat dan Rusia pun sedangkan melakukan eksperimen PLTN berbahan bakar torium tersebut.

Dosen Fisika Nuklir Universitas Indonesia Imam Fachruddin menilai seharusnya sudah sejak lama Indonesia memiliki PLTN. Sayangnya kebijakan politik kerap menjadi penghalang. "Apalagi Indonesia sudah mendapat lampu hijau dari IAEA badan atom internasional. Hanya saja pemerintah belum mau mewujudkannya," ujarnya. [R-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN