Waspadai Intervensi Asing di Pemilu 2014
Kamis, 29 Maret 2012 | 15:38
Jeirry Sumampow [google] [JAKARTA]
Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Teppi) Jeirry Sumampow meminta semua
pihak agar mewaspadai intervensi asing dalam pemilu 2014. Hal itu karena
anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang
baru terpilih memiliki kedekatan dengan sejumlah donatur asing.
"Melihat
komposisi anggota sekarang, saya harus mengatakan soal kemungkinan terjadinya
intervensi asing dalam proses pelaksanaan pemilu nanti. Sebab umumnya mereka
adalah orang-orang ang sangat dekat dengan lembaga-lembaga pemberi dana asing
dalam hajatan-hajatan demokasi kita," kata Jeirry di Jakarta, Kamis
(29/3).
Rabu (28/3) lalu,
rapat paripurna DPR mengesahkan 7 anggota KPU dan 5 anggota Bawaslu yang telah
dipilih Komisi II. Kini, mereka tinggal menunggu dilantik Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono untuk periode 2012-2017. Bulan April 2012 ini, diharapkan
mereka sudah mulai bekerja. Mereka yang terpilih adalah Sigit Pamungkas, Ida
Budiati, Arif Budiman, Husni K Manik, Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Hadar Nafis
Gumay, dan Juri Ardiantoro.
Sementara lima
anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang terpilih adalah Muhammad,
Nasrullah, Endang Wihdatiningtyas, Daniel Zuchron, dan Nelson Simanjuntak.
Jeirry mengharapkan kasus pemilu 2009 lalu yang banyak campur tangan asing
tidak terjadi lagi.
Menurutnya,
pengalaman pemilu 2009 lalu mengajarkan kepada kita bahwa salah satu persoalan
kenapa KPU dan Bawaslu gagal melaksanakan pemilu dengan baik adalah karena
mereka sibuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang didanai pihak asing. Padahal
kegiatan-kegiatan itu sebetulnya jenis kegiatan yang sama sudah diprogramkan
oleh anggota KPU dan Bawaslu dengan anggaran sendiri.
"Memang pihak
asing mensyaratkan kehadiran anggota dalam kegiatan-kegiatan mereka, sehingga
seolah-olah ada keharusan anggota untuk terus hadir. Akibatnya, mereka tak bisa
fokus dengan sungguh-sungguh kepada tugas utamanya untuk menyelenggarakan
pemilu dan sering terjadi duplikasi jenis kegiatan yang semestinya tak perlu. Saya
kira berdasarkan pengalaman 3 kali pemilu di era reformasi, kita semestinya
sudah bisa dan mampu melaksanakan pemilu secara mandiri, tanpa bantuan pihak
asing, khususnya kepada penyelenggara pemilu. Janganlah pemilu kita
terus-menerus kita biarkan diintervensi pihak asing," ujarnya.
Jeirry juga
menyoroti mengenai independensi para anggota KPU dan Bawaslu yang terpilih.
Pasalnya, pemilihan oleh Komisi II lebih banyak bermuatan politis dan bersifat
transaksional. Pada saat pemilihan, para calon juga lebih banyak bersafari dan
bertemu dengan para politisi di Komisi II. Kondisi itu membuat mereka tidak
netral dan lebih banyak terpengaruh tekanan dan deal-deal politik.
"Saya agak
miris melihat bahwa sebagian besar calon sangat aktif menjalin komunikasi
dengan anggota Komisi 2 DPR untuk meminta dukungan agar dipilih menjadi
anggota. Hal ini tentunya bisa saja dilihat sebagai konsekuansi logis dari
mekanisme proses seleksi yang berlangsung. Memang idealnya mekanisme seleksi
penyelenggara pemilu tak perlu melalui DPR lagi. Proses yang kemarin
berlangsung di DPR bisa saja mengekang kebebasan dan independensi anggota nanti
dan sekaligus memberikan ruang intervensi DPR terhadap penyelenggara pemilu di
kemudian hari. Karena dalam proses itu bisa saja sudah terjadi kesepakatan-kesepakatan
antara anggota dan Parpol, yang akan berefek negatif bagi proses
penyelenggaraan pemilu nanti. Karena itu, sebaiknya setelah mereka terpilih
sekarang mereka mesti melupakan janji dan kesepakatan yang pernah mereka buat
dengan parpol sebelumnya," jelasnya.
Jeirry juga
mengingatkan KPU dan Bawaslu untuk tetap solid sebagai satu tim kerja
penyelenggara pemilu. Kesolidan dan kekompakan sangat penting mengingat tekanan
dari luar akan sangat banyak dan kuat. Jika secara internal mereka tak solid
maka akan dengan mudah digoyang oleh elemen-elemen diluar mereka.
"Kalau mereka
tidak solid, maka meskipun mereka kapasitas dan kompetensinya mumpuni, tidak
akan berarti apa-apa. Belajar dari pengalaman KPU dan Bawaslu sebelumnya, maka
salah satu kunci penting terwujudnya penyelenggaraan pemilu yang baik adalah
kekompakan penyelenggaranya sebagai satu Tim Kerja yang kolektif,"
tegasnya.[R-14]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Wah...Ternyata 10% Pengguna Facebook Bukan Manusia?
Sekuel Star Trek Puncaki Box Office
Satu Lagi Teman Wanita Fathanah Kembalikan Uang Ke KPK
Berdharma Wisata Ke Tanah Lot, Siswa SMP Lumajang Nyolong Motor
Klewang Libatkan Keluarga Bentuk Kerajaan Geng Motor
Pesawat Lion JT 0535 Rusak Lagi, Penumpang Kecewa
Pemprov DKI Jakarta Harus Beri Sanksi 16 RS Mundur Dari Program KJS
