SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip

Refleksi

Wajah Indonesia Dalam Bingkai ‘Breaking News’
Sabtu, 18 Agustus 2012 | 9:13

Breaking News. [Google] Breaking News. [Google]

Hari ini, Sabtu (18/8), adalah hari pertama bangsa ini memasuki usianya yang  ke 67 tahun. Hari ini juga adalah hari terakhir  menjelang Idul Fitri.  

Tentu di usia ke-67 tahun  ada banyak persoalan yang sudah dan ada di depan mata. Masalah-masalah yang menumpuk  itu  membuat kita lupa bahwa sebenarnya ada banyak hal baik yang telah terjadi di negeri  tercinta ini.

Tetapi semuanya hilang lenyap ditutup pemberitaan negatif yang datang bertubi-tubi. Setiap hari Breaking News di media televisi, cetak, online, plus media sosial menyajikan wajah Indonesia yang bopeng.

Korupsi para elite pemerintah dan partai politik menjadi-jadi, korupsi berjamaah di parlemen makin mengganas. Penyerangan atas Ahmadiyah, penggusuran atas kaum miskin, perlakukan tidak manusiawi  atas minoritas, dan sebagainya, marak di layar televisi dan koran.

Itulah wajah Indonesia yang kita lihat setiap jam melalui berita singkat televisi. Itulah wajah Indonesia yang dipertontonkan ke publiknya dan dunia internasional  oleh media.

Tapi apakah gambaran tentang diri  bangsa Indonesia sejelek itu? Tentu tidak.  Ada baiknya sejenak kita mengambil jarak, berpikir positif.

Tinggalkan Breaking News dan mari lihat gambaran yang lebih besar tentang Indonesia. Di tengah krisis dunia, ekonomi Indonesia tumbuh menakjubkan.

Pada saat hampir semua negara menderita akibat krisis, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru naik menjadi 6,5 persen tahun lalu. Paling lambat tahun depan, diperkirakan Indonesia akan masuk jajaran 15 negara dengan GDP diatas satu triliun  dolar.

Lembaga pemeringkat ekonomi, Fitch percaya bahwa akhir tahun depan, Indonesia yang selama ini dikenal sebagai negara penghutang,  bisa jadi akan berubah menjadi negara pemberi hutang.

Inilah yang menyebabkan Fitch dan juga Moody's menaikkan rating Indonesia. Tentu saja sebagaimana trend dunia, booming ekonomi Indonesia juga mengakibatkan timbulnya kesenjangan. Hal baik memang gampang kita lupakan.

Sekadar mengingatkan,  Indonesia telah tiga kali menggelar pemilihan umum yang demokratis, setelah tigapuluh tahun lebih dipimpin rezim otoriter. Indeks Freedom House mengkategorikan Indonesia sebagai negara bebas.

Indonesia adalah satu di antara sangat sedikit negara berpenduduk muslim yang punya demokrasi, meski ancaman mayoritarianisme mengintip, seiring bangkitnya konservatisme agama. Bangsa ini sering lupa dengan potret besar itu  bahwa kita berada di jalur yang benar. Jalan yang memberi kebebasan politik dan pada saat bersamaan menciptakan perbaikan ekonomi.

Karena itu, selalu ada alasan bagi kita untuk tetap optimistik dan mencintai Republik Indonesia. Indonesia adalah proyek yang belum final. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.  Tentu semua pekerjaan rumah itu tidak  sekali jadi, butuh  proses panjang dan kesabaran, butuh dukungan semua pihak.

Mengeritik kinerja pemerintah tidak haram. Pemerintah harus dikritik. Tetapi mengeritik tanpa solusi, apalagi mengeritik untuk tujuan politis sangatlah tidak etis. Itu tidak beda dengan mengail di air keruh. Karena itu, di usianya yang ke-67, mari kita bersama membangun bangsa ini. 

Masih banyak yang harus kita benahi. Mengutip Chairil Anwar  “Kerja belum selesai. Belum apa-apa…”. [DW/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»