Tim Advokasi Temukan Kejanggalan di Kasus Bima
Senin, 2 Januari 2012 | 16:44
Korban luka kasus pelabuhan Sape dirawat di RSUD Bima [google] [MATARAM] Tim advokasi dan pencari fakta tragedi Pelabuhan
Sape, Kabupaten Bima, yang dibentuk Koalisi Rakyat Nusa Tenggara Barat,
menemukan kejanggalan dalam upaya pembubaran paksa aksi unjuk rasa yang
berujung tewasnya tiga warga.
Koordinator Tim Advokasi dan Pencari Fakta Koalisi Rakyat Nusa Tenggara Barat
(NTB) Dwi Sudarsono, yang didampingi anggotanya, kepada wartawan di Mataram,
Senin (2/1) mengatakan, korban tewas dalam tragedi Sape, sebanyak tiga orang,
bukan dua orang sesuai laporan polisi.
"Dua orang korban tewas terkena peluru polisi masing-masing Arif Rahman
(19) dan Syaiful (17), dan seorang petani bernama Syarifuddin Arahman (45) yang
juga tewas namun belum diketahui penyebabnya. Tetapi, Syarifuddin juga ikut
dalam unjuk rasa di Pelabuhan Sape," ujarnya.
Kejanggalan lainnya, kata Dwi, salah seorang korban tewas yakni Syaiful,
ditembak dari arah belakang saat hendak mengangkat tubuh sepupunya Arif Rahman
yang tergeletak terkena peluru.
Syaiful terkena tembakan di dada kiri hingga roboh di samping sepupunya Arif
Rahman. Lokasi kejadian itu berjarak sekitar 600 meter dari Pelabuhan Sape.
"Saksi mata yang kami mintai keterangan menyatakan mereka berupaya lari
dari kawasan Pelabuhan Sape, namun ditembak. Jadi, ada unsur kesengajaan untuk
membidik warga pengunjuk rasa," ujar Dwi.
Bahkan, saksi mata sempat melihat polisi berpakaian preman (bukan seragam),
mendekati dua orang korban penembakan itu dan menendangnya, yang diduga untuk
memastikan apakah kedua korban penembakan itu sudah tewas atau belum.
Saksi mata itu sempat dipanggil polisi tersebut, namun ia berupaya lari sekuat
tenaga hingga luput dari penembakan.
"Kami juga menemukan kejanggalan lain dalam aksi pembubaran paksa itu.
Polisi mengatakan warga pengunjuk rasa melakukan perlawanan, padahal polisi
yang menyerang, buktinya ada perintah maju beberapa langkah hingga terjadi
tindakan brutal aparat kepolisian, dan berujung tiga orang tewas dan puluhan
lainnya luka-luka," ujarnya.
Tim advokasi Koalisi Rakyat NTB itu juga menemukan data dan fakta tindak pidana
penganiayaan yang dilakukan sejumlah aparat kepolisian terhadap warga pengunjuk
rasa.
Dwi dan tim advokasi Koalisi Rakyat NTB lainnya, mengatakan, data dan
keterangan itu dihimpun dari hasil wawancara individu, menghimpun keterangan
para korban luka-luka, keterangan pengunjuk rasa, wawancara dengan keluarga
korban tewas, dan peninjauan lokasi kejadian.
Lokasi advokasi dan pengumpulan data dan fakta juga dilakukan di tiga desa
yakni Desa Sumi, Rato dan Soro.
"Hasil temuan lapangan ini, segera kami sampaikan kepada Komnas HAM di
Jakarta, Komisi Perlindungan Anak, dan DPR, untuk ditindaklanjuti,"
ujarnya.
Pada 24 Desember 2011, aparat Polres Bima yang didukung Satuan Brigade Mobil
(Brimob) Polda NTB, membubarkan paksa aksi unjuk rasa ribuan warga disertai
blokade ruas jalan menuju Pelabuhan Sape, yang telah berlangsung sejak 19
Desember 2011.
Pelabuhan Sape berlokasi di Kecamatan Sape, namun warga pengunjuk rasa yang
menguasai kawasan itu merupakan penduduk Kecamatan Lambu, yang melakukan aksi
protes terhadap usaha penambangan di wilayah Lambu.
Mereka menuntut pencabutan izin usaha pertambangan (IUP) bernomor
188/45/357/004/2010, yang diberikan Bupati Bima Ferry Zulkarnaen kepada PT
Sumber Mineral Nusantara (SMN), yang mencakup areal tambang seluas 24.980
hektare, yang mencakup wilayah kecamatan Lambu, Sape dan Langgudu.
Polisi menggempur pengunjuk rasa dengan tembakan hingga dua orang dilaporkan
tewas terkena peluru, dan puluhan warga pengunjuk rasa lainnya luka-luka.
Ribuan pengunjuk rasa yang terdesak saat digempur polisi, berpencar dan
kelompok yang kembali ke Kecamatan Lambu, murka dan membakar Kantor Desa Lambu,
rumah Kepala Desa Lambu, dan Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Lambu.
[Ant/L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Ada Oknum Komisi I DPR RI Yang Nikmati Uang Sukhoi Yang Jatuh di Gunung Salak
Kotak Hitam Pesawat Sukhoi Ditemukan dalam Kondisi Baik
Fahri: KPK Gagal Berantas Korupsi Sistemik
Invitasi Bolabasket Alumni SMA se-Jakarta
Biayanya Mahal, Jokowi Tak Akan Pasang Iklan
Pastikan Semua Jenazah Terevakuasi, Tim SAR Sapu Lokasi Jatuhnya Sukhoi
KPK Perpanjang Masa Tahanan Angie
Jokowi Terima Penghargaan TPID Terbaik
Kader Demokrat Masih Juga Menganggap Ani Yudhoyono Layak Jadi Capres
Ketua Umum PGI: Sosialisasikan 4 Pilar Bangsa ke Para Pemimpin Bangsa
