SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 26 Mei 2013
Pencarian Arsip

Tempe Menghilang, Pedagang Gorengan Terkena Imbas
Kamis, 26 Juli 2012 | 12:03

Pedagang gorengan [google] Pedagang gorengan [google]

[BEKASI] Pedagang gorengan terkena imbasnya menyusul berhentinya pasokan tempe dari para perajin. Perajin tempe dan tahu menghentikan produksinya selama tiga hari sejak Rabu hingga Jumat (25-27/7), karena melambungnya harga kedelai.  

Nardi (30), pedagang gorengan, mengaku sedih karena tempe dan tahu menghilang di pasaran. Biasanya, Nardi dapat menjual sebanyak 3.000 gorengan dengan omzet Rp 1,5 juta per hari. Namun, dia mengalami penurunan omzet karena perajin tahu dan tempe mogok produksi.  

"Tahu dan tempe yang paling laris dibeli pelanggan. Tiap hari saya bisa menjual sekitar 1.000 tahu dan tempe dengan harga satuan Rp 500," ujar Nardi yang sudah 15 tahun menjadi pedagang gorengan di Pondok Gede, Bekasi.  

Selain tahu dan tempe goreng, Nardi juga menjual gorengan pisang molen, bakwan, dan risol. Namun, ketiga jenis gorengan kurang diminati para pelanggannya. Keenam kakak-adik Nardi juga mengalami hal sama, terkena imbas penurunan omzet akibat perajin tahu dan tempe berhenti produksi.  

Sementara itu, mengantisipasi aksi mogok para perajin tahu dan tempe, sejumlah penjual gorengan, terlebih dulu melakukan aksi borong tahu dan tempe di pasar sehari sebelumnya. Sehingga saat aksi mogok mulai berlangsung pada Rabu (25/7) pagi, beberapa penjual gorengan masih bisa berjualan tahu dan tempe goreng.  

Meski demikian, diakui Sholeh, seorang penjual gorengan di kawasan Slipi, Jakarta Barat, akibat aksi mogok para perajin tahu dan tempe, maka dipastikan mulai Kamis (26/7) dirinya tidak akan dapat menjual tahu dan tempe goreng. 

 “Stok tahu dan tempe yang saya punya hanya cukup untuk jualan hari ini. Besok saya tidak akan jualan tahu dan tempe goreng. Soalnya kan tidak mungkin saya menyimpan tahu dan tempe mentah untuk beberapa hari, karena tahu dan tempe mentah tidak tahan terlalu lama. Terutama tahu akan keras kalau tidak segera digoreng atau diinapkan lebih dari 24 jam,” ungkapnya.  

Hilangnya tahu dan tempe dari pasar, jelas Sholeh, tidak akan menghentikan usahanya berdagang gorengan. Mulai besok ia terpaksa hanya akan berjualan pisang dan bakwan goreng, sampai tahu dan tempe kembali ada di pasar.  

Menurut Wawan, pedagang gorengan di Meruya Selatan, Jakarta Barat, selama bulan puasa Ramadan permintaan akan tahu dan tempe goreng meningkat cukup tinggi. Rosikin, yang berjualan di Bogor Tengah, mengaku susah mendapatkan tempe. Dia memperoleh tempe secara sembunyi-sembunyi. Penjual gorengan yang lain, Suharyono (46) juga mengaku mendapatkan tempe yang dikirim perajin dari Pasar Warung Jambu. “Kebetulan sehari menjelang aksi mogok perajin tempe itu, saya sudah punya persediaan hingga 10 potong tempe,” ungkapnya.  

Per potong tempe seberat 6 ons itu dibelinya dengan harga Rp 5.000. Sama halnya dengan Rosikin, tempe goreng yang dijajakannya masih kalah laku dibanding gorengan yang lain. [SJM/MKL/F-5/Y-6]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN