Tempe Menghilang, Pedagang Gorengan Terkena Imbas
Kamis, 26 Juli 2012 | 12:03
Pedagang gorengan [google] [BEKASI] Pedagang gorengan terkena imbasnya menyusul
berhentinya pasokan tempe dari para perajin. Perajin tempe dan tahu
menghentikan produksinya selama tiga hari sejak Rabu hingga Jumat (25-27/7), karena
melambungnya harga kedelai.
Nardi (30), pedagang gorengan, mengaku sedih karena tempe
dan tahu menghilang di pasaran. Biasanya, Nardi dapat menjual sebanyak 3.000
gorengan dengan omzet Rp 1,5 juta per hari. Namun, dia mengalami penurunan
omzet karena perajin tahu dan tempe mogok produksi.
"Tahu dan tempe yang paling laris dibeli pelanggan.
Tiap hari saya bisa menjual sekitar 1.000 tahu dan tempe dengan harga satuan Rp
500," ujar Nardi yang sudah 15 tahun menjadi pedagang gorengan di Pondok
Gede, Bekasi.
Selain tahu dan tempe goreng, Nardi juga menjual gorengan
pisang molen, bakwan, dan risol. Namun, ketiga jenis gorengan kurang diminati
para pelanggannya.
Keenam kakak-adik Nardi juga mengalami hal sama, terkena
imbas penurunan omzet akibat perajin tahu dan tempe berhenti produksi.
Sementara itu, mengantisipasi aksi mogok para perajin tahu
dan tempe, sejumlah penjual gorengan, terlebih dulu melakukan aksi borong tahu
dan tempe di pasar sehari sebelumnya. Sehingga saat aksi mogok mulai
berlangsung pada Rabu (25/7) pagi, beberapa penjual gorengan masih bisa
berjualan tahu dan tempe goreng.
Meski demikian, diakui Sholeh, seorang penjual gorengan di
kawasan Slipi, Jakarta Barat, akibat aksi mogok para perajin tahu dan tempe,
maka dipastikan mulai Kamis (26/7) dirinya tidak akan dapat menjual tahu dan
tempe goreng.
“Stok tahu dan tempe yang saya punya hanya cukup untuk
jualan hari ini. Besok saya tidak akan jualan tahu dan tempe goreng. Soalnya
kan tidak mungkin saya menyimpan tahu dan tempe mentah untuk beberapa hari,
karena tahu dan tempe mentah tidak tahan terlalu lama. Terutama tahu akan keras
kalau tidak segera digoreng atau diinapkan lebih dari 24 jam,” ungkapnya.
Hilangnya tahu dan tempe dari pasar, jelas Sholeh, tidak
akan menghentikan usahanya berdagang gorengan. Mulai besok ia terpaksa hanya
akan berjualan pisang dan bakwan goreng, sampai tahu dan tempe kembali ada di
pasar.
Menurut Wawan, pedagang gorengan di Meruya Selatan,
Jakarta Barat, selama bulan puasa Ramadan permintaan akan tahu dan tempe goreng
meningkat cukup tinggi. Rosikin, yang berjualan di Bogor Tengah, mengaku susah
mendapatkan tempe. Dia memperoleh tempe secara sembunyi-sembunyi. Penjual
gorengan yang lain, Suharyono (46) juga mengaku mendapatkan tempe yang dikirim
perajin dari Pasar Warung Jambu. “Kebetulan sehari menjelang aksi mogok perajin
tempe itu, saya sudah punya persediaan hingga 10 potong tempe,” ungkapnya.
Per potong tempe seberat 6 ons itu dibelinya dengan harga
Rp 5.000. Sama halnya dengan Rosikin, tempe goreng yang dijajakannya masih
kalah laku dibanding gorengan yang lain. [SJM/MKL/F-5/Y-6]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Penghitungan KPU NTT, Frenly Masih Memimpin
Penghargaan Untuk Sebuah Ketidaknyamanan
Pimpinan KPK Sindir Sikap Kader PKS
Wanita-Wanita Cantik Merusak Citra PKS Sebagai Partai Agama
KPK Dalami Aliran Dana ke Anis Matta
Kapolri Harus Beri Sanksi Keras Kapolda Papua
Akhirnya Pendukung Rustri Beralih ke Ganjar
