SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 29 Juli 2014
Pencarian Arsip

Tambang Emas Di Madina Longsor, Puluhan Tewas
Kamis, 7 Februari 2013 | 7:38

Ilustrasi tambang emas ilegal. [Google] Ilustrasi tambang emas ilegal. [Google]

[MEDAN] Badan SAR Nasional (Basarnas) dikerahkan untuk mengevakuasi masyarakat yang tertimbun tanah longsor di lokasi penambangan emas di Aek Sarahan, Desa Hutabargot Nauli, Kecamatan Hutabargot, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), atau persisnya sekitar 450 kilometer (Km) dari Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Tim evakuasi ini terpaksa dikerahkan karena sampai, Kamis (7/2) pagi, dan jumlah korban tertimbun tanah longsor di lokasi penambangan tradisionil, Rabu (6/2) kemarin, masih simpang siur.

Sesuai laporan masyarakat, jumlah warga yang melakukan penambangan emas di lokasi yang tidak jauh dari PT Sorik Mas Maining, saat sebelum kejadian, mencapai puluhan orang.

Bupati Madina Hidayat Batubara mengatakan, proses evakuasi terhadap korban longsor di lokasi penambangan tersebut, masih dilanjutkan karena evakuasi kemarin tertunda akibat gangguan cuaca di daerah tersebut. Hidayat pun belum dapat memastikan jumlah korban yang tertimbun longsor saat hujan lebat tersebut.

"Laporan yang saya dapatkan dari bawahan belum jelas. Ada yang menyampaikan, warga yang menjadi korban dan tertimbun longsor berjumlah 50 orang. Sebagian lagi menyampaikan, korban ada 20 orang dan 30 orang. Bahkan, korban tewas sesuai dengan informasi dari tempat kejadian ada 3 orang. Kepastian dari informasi ini pun belum jelasan" katanya.

Dia mengatakan, pemerintah sudah berulangkali mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan penambangan di lokasi yang dimaksud. Sebab, lokasi yang ditambang itu berada di tengah kawasan hutan sebagai sarana tempat penyerapan air.

Selain itu, larangan ini dikeluarkan pemerintah karena bahaya mercury yang ditimbulkan akibat penambangan, bisa mengancam masyarakat penambang.

"Kami sudah melakukan pertemuan dengan pihak muspida untuk merencanakan memberikan lokasi penambangan rakyat. Untuk melakukan ini, dibutuhkan sebuah payung hukum, sehingga masyarakat dapat melakukan penambangan secara legal. Saat ini, peraturan itu sedang digodok untuk membantu masyarakat. Namun, warga sudah melakukan penambangan," katanya.

Menurutnya, bencana longsor di daerah penambangan emas tersebut, harus menjadi perhatian bersama. Masyarakat pun diminta tidak mengambil risiko atas penambangan di lokasi dimaksud. Dampak yang lebih besar menimpa masyarakat dikhawatirkan terjadi jika penambangan itu terus dilakukan.

Camat Hutabargot, Hendra Batubara AP menyampaikan, keluarga korban yang melapor pascakejadian longsor, sampai saat ini, berjumlah 3 orang.

Ketiga pihak keluarga tersebut adalah Agus warga Jalan ABRI, Sulhanna dan Zulham, keduanya warga Banjar Sibaguri, Kecamatan Panyabungan Kota. Hendra juga belum dapat merinci secara pasti jumlah korban yang tertimbun longsor tersebut.
 
"Jumlah korban belum dapat dipastikan karena informasi di tengah masyarakat pascalongsor, terus berkembang. Lokasi penambangan itu pun jauh di dalam hutan dan medan yang dilalui saat menuju tempat itu sangat rumit. Jadi, belum diketahui berapa jumlah warga yang melakukan penambangan di sana. Lokasi penambangan itu pun jauh dari pemukiman penduduk," sebutnya. [155]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»