SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 April 2014
Pencarian Arsip

Tak Puas dengan Kondisi Hidup, Novi Aniaya Putri Tirinya Hingga Tewas
Rabu, 8 Mei 2013 | 12:53

Supriadi (28) menunjukan foto anaknya, Widyastuti (5) yang meninggal dunia setelah dianiaya ibu tirinya S (29).[SP/Fana Suparman] Supriadi (28) menunjukan foto anaknya, Widyastuti (5) yang meninggal dunia setelah dianiaya ibu tirinya S (29).[SP/Fana Suparman]

[JAKARTA] Ketidakpuasan terhadap kehidupan yang dijalani selama ini, diduga menjadi pemicu Susanti (29) alias Novi, menganiaya anak tirinya Widyastuti (5) hingga meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit. Tindakan agresif itu dinilai merupakan ekspresi perlawanan dari yang dialami pelaku selama ini.  

Psikolog sekaligus Konselor Anak dan Rumah Tangga, Chatarine Sofjan menjelaskan, ketidakpuasan yang dialami Santi berawal dari perceraiannya dengan suami terdahulu yang membuahkan dua anak. Saat dinikahi oleh Supriyadi (29), Novi berharap beban ekonominya akan berkurang.  

Namun, ketidakpuasan kembali muncul saat harus menerima kenyataan Supriyadi sehari-hari berprofesi kuli bangunan. Ketidakpuasan pelaku bertambah karena harus merawat anak kandung suaminya, sementara dua anak kandungnya sendiri dirawat oleh ibu Novi di Bekasi, Jawa Barat.  

"Ada rasa ketidakpuasan yang dirasakan sang ibu tiri selama ini. Apalagi kini dia harus merawat anak yang bukan anak kandungnya. Sementara anak kandungnya sendiri dirawat oleh kerabatnya," kata Chatarine saat dihubungi, Selasa (7/5) malam. 

 Chatarine mengatakan, rasa ketidakpuasan itu sangat membekas dan membuat pelaku sudah terlalu lelah memendamnya. Sakit kepala atau migrain ditambah kekesalan kepada sang anak yang menjadi alasan Novi menganiaya korban, menurut Chatarine hanyalah momen bagi pelaku melampiaskan segala ketidakpuasannya itu.  

Lebih jauh, Chatarine mengungkapkan, latar belakang ekonomi keluarga ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Novi bersikap agresif. Dikatakan, dalam kasus semacam ini, jika tingkat ekonomi keluarga menengah ke atas, rasa ketidakpuasan ibu karena mengasuh anak tiri dialihkan dengan menggunakan jasa babysitter.  

"Tapi ini tidak, karena memang ekonomi mereka tidak memungkinkan untuk itu," kata Chatarine.  

Widyastuti, bocah berusia lima tahun diduga dianiaya ibu tirinya, Novi di rumah kontrakan mereka, di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Senin (6/5). Korban tewas dalam perjalanan ke Rumah Sakit Karya Bhakti di Bogor, Jawa Barat, dengan luka memar di wajah, luka serius di kepala bagian belakang, serta pendarahan di telinga dan mulutnya.  

"Dalam perjalanan ke Bogor, di dalam pangkuan saya tiba-tiba cucu saya jatuh lemas. Saat itu dia meninggal dunia," kakek korban, Untung Jayadi (56), saat ditemui di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (7/5).  

Ibu tiri korban yang mengaku sedang sakit kepala, kesal dengan jatuhnya korban di kamar mandi rumah yang baru keluarga ini kontrak selama tujuh bulan. Jatuhnya korban menimbulkan suara yang dianggap mengganggu Novi. Bukannya menolong anak tirinya, pelaku justru mengaku memukul wajah dan membenturkan kepala korban ke tembok kamar mandi.   

Ayah korban, Supriyadi (28) menuturkan, dirinya baru pulang kerja sebagai kuli bangunan sekitar pukul 17.00 WIB. Di kamar anaknya, Supriyadi menemukan anaknya tengah terkulai lemas dan lebam pada mata kirinya. Mendapati kondisi ini, dia segera menanyakan kepada istrinya yang seharian berada di rumah. "Ibunya bilang jatuh dari kamar mandi," kata Supriadi.  

Tak percaya dengan ucapan perempuan yang baru dinikahinya setahun terakhir itu, Supriadi segera menelepon orangtuanya, Muhaeni (49) dan Untung Jayadi (56) yang tinggal di daerah Cilangkap, Jakarta Timur. Ketiganya kemudian membawa korban ke klinik 24 jam yang tak jauh dari rumah Supriyadi sekitar pukul 18.15 WIB.  

Namun, dokter di klinik bernama Medica dan di klinik berikutnya yang didatangi menyatakan tak mampu menangani korban yang mengalami memar parah di bagian kepala belakang sebelah kiri. Tak menunggu waktu lama, keluarga kemudian membawa korban ke Rumah Sakit Umum Daerah Cikaret-Cibinong, dan Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, di daerah Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

"Di dua rumah sakit ini, dokter juga tidak bisa menangani karena tidak punya alat untuk scan kepala anak saya," tambahnya.  

Tak putus asa, korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Karya Bhakti, Bogor. Namun, beberapa saat sebelum sampai rumah sakit itu, Widyastuti menghembuskan nafas terakhir.   Keluarga sepakat untuk memproses secara hukum kepergian anak kedua Supriyadi dengan istri terdahulunya yang diketahui bernama Diah itu. Keluarga kemudian melaporkan pelaku ke Polsek Cimanggis yang melanjutkannya ke Polres Depok. [RIA/F-5]    




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN