SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 22 Mei 2013
Pencarian Arsip

Situasi Keamanan Tak Menentu, Puluhan Warga Sipil Tewas Ditembak di Wamena
Jumat, 8 Juni 2012 | 14:06

Pembakaran sebuah kampung di Wamena [istimewa] Pembakaran sebuah kampung di Wamena [istimewa]

[JAYAPURA]  Ekskalasi kekerasan yang terus meningkat di Papua, dan semakin membuat situasi keamanan di daerah itu sangat tak menentu. Masyarakat dihantui rasa ketakutan karena berkeliarannya para penembak misterius, dan aktivitas sosial dan pemerintahan pun terganggu.  

Kekerasan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, dilaporkan resmi 11 orang tewas. Terdiri dari 10 warga sipil tewas ditembak, satu anggota TNI tewas dikeroyok massa.  Namun, informasi yang diperoleh SP dari warga Wamena menyebutkan, lebih dari 20 warga sipil tewas terkena tembakan aparat, termasuk anak-anak bayi dibunuh. Puluhan honai (rumah tradisional) dan perumahan masyarakat juga dibakar dan dirusak oknum-oknum tertentu.  

“Seorang bayi berusia enam bulan dibacok, dan bayi tersebut sempat bertahan sehari dirawat di RSUD Wamena. Namun, akhirnya bayi itu meninggal pada Kamis (7/6) sore sudah dikuburkan. Sebagian jenazah korban tembak juga disemayamkan di RSUD Wamena,” kata Efelin, seorang warga Wamena, yang dihubungi SP, Jumat (8/6).  

Efelin juga menyebutkan, Kamis tengah malam terjadi lagi aksi baku tembak dalam Kota Wamena. Listrik padam total sepanjang malam. “Seorang anak kecil diculik,” katanya.  

Situasi di Wamena juga belum normal. Toko-toko banyak yang tutup, juga sekolah dan kantor-kantor pemerintah.

Kekerasan di Wamena terjadi sejak Rabu (6/7), dipicu oleh kasus tabrakan yang melibatkan dua anggota TNI Batalyon 756 Wamena, Ahmad Sahlan dan Parloi Pardede. Kedua aparat itu, mengendarai sepeda motor dan menabrak seorang anak kecil di tengah jalan.

Masyarakat yang melihat hal itu, kemudian mengeroyok kedua aparat menyebabkan Ahmad Sahlan tewas, dan Parloi mengalami luka kritis.  

Setelah kejadian itu, aparat TNI menyisir semua tempat dalam kota hingga ke pinggiran Wamena, dan menembak masyarakat secara membabibuta. Ratusan honai juga dibakar dan perumahan masyarakat dalam Kota Wamena ditembak dan kaca-kacanya dihancurkan pakai popor senjata.

  Anggota DPR Papua, Yulius Miagoni mengatakan, dirinya memperoleh informasi 11 orang yang tewas dalam kekerasan di Wamena, terdiri dari 10 warga sipil dan satu TNI. “Warga sipil yang tewas umumnya di daerah Sinagma, Wamena, sedangkan hanoi dan perumahan yang rusak atau terbakar, kami belum dapat laporannya,” ujarnya kepada wartawan di kantor DPR Papua, Kamis siang.  

Namun, Wakapolda  Papua, Brigjend  Paulus Waterpauw mengatakan, dalam kejadian di Wamena, pihaknya baru menerima laporan korban meninggal hanya satu orang. “Dari laporan yang saya terima satu orang meninggal, 7 rumah dan 30 honai dibakar,“ ujarnya.  

Kapendam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Ali  Hamdan Bogra, saat dihubungi SP, Jumat pagi mengatakan, pihaknya juga baru mendapat laporan hanya anggota TNI yang meninggal dunia dalam kejadian itu. Sedangkan mengenai tewasnya 10 warga sipil, Kapendam mengaku belum mendapat laporannya. “Saya belum ada laporan soal itu,” ujarnya    

Ia menegaskan, anggota-anggota Batalyon Yonif 756 yang bertindak di luar prosedur akan tetap diproses. “Kami tetap punya komitmen bila ada anggota yang bersalah akan diproses hukum,” ujarnya.

Pada Kamis, pemerintah dan masyarakat di Wamena dilaporkan telah membuat kesepakatan damai di Sasana Wiyoh, Wamena. Mereka menyampaikan rasa keprihatinan dan penyesalan mendalam atas peritikaian antara kelompok warga Hone dan aparat TNI Batalyon 756, yang telah mengakibatkan jatuhnya banyak korban. [154]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN