SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 19 September 2014
Pencarian Arsip

Shell Bangun Pabrik Pelumas di Marunda
Rabu, 21 Agustus 2013 | 12:33

Logo Shell [google] Logo Shell [google]

[JAKARTA] Royal Dutch Shell membangun pabrik pelumas di Marunda Center, Jakarta Utara berkapasitas 120 ribu ton per tahun. Perusahaan migas terbesar Eropa yang berbasis di Den Haag (Belanda) dan London (Inggris) itu menggelontorkan dana berkisar US$ 150-200 juta atau Rp 1,5-2 triliun.  

Kendati demikian, pemerintah juga mendorong Shell untuk berinvestasi pabrik bahan baku pelumas yang sebagian besar dari impor.  
Presiden Direktur PT Shell Indonesia Darwin Silalahi mengatakan Shell ingin menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan perekonomian, dan memperkuat penetrasi produk di pasar Indonesia. Pabrik seluas 75 ribu meter persegi (m2) itu merupakan pabrik pelumas terbesar milik perusahaan asing di Indonesia. Konstruksi pabrik dimulai tahun ini dan diperkirakan beroperasi komersial pada 2015.  

“Pabrik itu akan memasok pelumas bermutu tinggi dari berbagai jenis untuk pasar consumer, transportasi, industri, dan kelautan. Merek yang digunakan antara lain Shell Helix, Shell Advance, Shell Rimula, Shell Tellus, Shell Spirax, dan Shell Omala,” kata Darwin dalam acara peletakan batu pertama pabrik Shell, di Jakarta, Selasa (20/8). Hadir dalam acara itu Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Shell Global Commercial Executive Vice President Mark Gainsborough.  

MS Hidayat menyatakan, industri pelumas merupakan salah satu industri strategis dengan pertumbuhan yang cukup pesat. Hal tersebut terlihat dari permintaan produk pelumas yang terus meningkat setiap tahunnya. Pemicunya adalah peningkatan jumlah kendaraan, baik di darat, laut, maupun udara, serta berkembangnya sektor industri di Tanah Air.  

Menurut dia, pabrik itu merupakan pabrik pelumas Shell keenam di negara-negara ASEAN, selain Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.  Selama ini, Shell mengimpor pelumas dari lima pabrik itu untuk pasar Indonesia.    Hidayat mengapresiasi langkah Shell membangun pabrik pelumas di Indonesia. Sebab, hal itu akan mendorong perkembangan industri pelumas nasional. Di samping itu, perusahaan pelumas lainnya akan termotivasi untuk berinovasi dan mengembangkan teknologi produksi agar dapat menghasilkan produk pelumas berkualitas tinggi.  

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), saat ini terdapat lebih dari 200 produsen pelumas di Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah, terutama di Jawa. Kapasitas produksi terpasang mencapai 700 ribu kiloliter per tahun. Nilai penjualan (omzet) diperkirakan mencapai Rp 7 triliun lebih per tahun.  

Kapasitas sebesar itu, kata Hidayat, mampu meladeni permintaan di pasar domestik dan ekspor. Adapun negara-negara potensial tujuan ekspor antara lain negara-negara Asean, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan (Korsel), Timur Tengah, maupun Uni Eropa. Menperin mengatakan, tantangan terbesar industri pelumas saat ini adalah bahan baku dan bahan aditif yang sebagian besar masih diimpor. Hal ini membuat industri pelumas nasional baru bisa memformulasi dan pencampuran (compounding) pelumas, belum terintegrasi antara industri hulu (upstream) dan hilir (downstream).  

”Saya berharap Shell dapat menjawab tantangan yang dihadapi industri pelumas sehingga mengurangi ketergantungan atas bahan baku dan aditif impor,” ujar Hidayat.  

Sebelumnya, Shell Indonesia menargetkan pertumbuhan bisnis pelumas tahun ini mencapai 15-20%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan pasar yang berkisar 5-7%. Shell siap menggelar sejumlah strategi marketing guna mendukung pencapaian target tersebut. General Manager Marketing Shell Lubricant Indonesia Kuswantoro Pranabudi mengatakan, permintaan pelumas domestik terus meningkat.   

Brands & Communications Marketing Manager
Shell Lubricants Vanda Laura menambahkan, selain pembangunan pabrik, pihaknya akan menggencarkan kampanye merek-merek pelumas Shell di sejumlah kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan.  

Royal Dutch Shell saat ini tercatat di Bursa Efek London. Pada kuartal II-2013, laba bersih Shell anjlok 57% menjadi 1,308 miliar euro, dibanding periode sama 2012 sebesar US$ 4,1 miliar.  

Shell beroperasi di Indonesia sejak 1960-an. Shell Indonesia menjalankan aktivitas bisnis hilir migas yang meliputi bisnis penjualan BBM, pelumas, serta bahan bakar industri dan bitumen. Shell Indonesia melayani pasar bisnis dan pengguna kendaraan bermotor. Shell saat ini memiliki 60 SPBU di Jabodetabek, Jawa Timur, dan Bandung, satu pabrik penyimpanan bitumen di Cirebon, Jawa Barat, tiga gudang pelumas (Bekasi, Surabaya, dan Balikpapan), dan mengoperasikan tiga terminal BBM.  

Di bisnis hulu, Shell komit berinvestasi sekitar US$ 20 miliar untuk mengembangkan blok gas Masela di Maluku. Investasi itu akan dikucurkan secara bertahap.  Shell dan Inpex Corporation, perusahaan migas Jepang, menguasai 100% saham Blok Masela. Tahap pertama, nilai investasi yang dikucurkan sekitar US$ 15 miliar. Eksploitasi diperkirakan mulai dilakukan pada 2018-2019.  [ID/E-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»