Serangan HIV/AIDS di NTT Perlu Penanganan Secara Serius
Selasa, 31 Januari 2012 | 14:45
Ketua PKBI NTT, Ny Lucia Adinda Lebu Raya [Yoseph Kelen]
[KUPANG] Serangan HIV/AIDS
di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu mendapat perhatian serius semua
pihak karena jumlah pengidap dan penderita sudah pada tingkat mengkhawatirkan
masyarakat daerah ini.
Menurut Ketua Perhimpunan
Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTT, Ny. Lucia Adinda Lebu Raya,
kepada SP di Kupang, Selasa (31/1) mengatakan, Masalah yang satu ini
bukan main-main lagi, sebab sesuai data yang ada akhir tahun 2011 tercatat
1.335 kasus terdiri atas kasus HIV sebanyak 739 orang dan AIDS sebanyak 596
orang. Dari total 1.335 itu sebanyak 330 orang di antaranya meninggal dunia.
Kabupaten yang cukup banyak pengidapnya dan menduduki urutan pertama adalah Kabupaten
Belu.
Menurut Ny. Lucia Adinda
Lebu Raya, “ kabupaten yang letaknya berbatasan langsung dengan negara
Democratic Timor Leste itu hingga akhir 2011 jumlah kasus HIV sebanyak
336 orang dan AIDS 130 orang dan meninggal 88 orang. Daerah kedua berikut
adalah Kota Kupang dengan kasus HIV sebanyak 176 orang dan AIDS sebanyak 78
orang dan meninggal sebanyak 34 orang. Selanjutnya urutan ketiga Kabupaten
Sikka dengan jumlah kasus HIV sebanyak 70 orang dan AIDS sebanyak 133 orang dan
dinyatakan meninggal 40 orang,” jelas Ny. Lucia.
Sedangkan Kabupaten Sumba
Tengah, Manggarai Timur, Sabu Raijua dan Rote Ndao sejauh ini belum ada kasus,
bukan karena tidak ada ODHA, tetapi karena belum ada laporan dari kabupaten
tersebut kepada PKBI NTT.
Ny Lucia Adinda Lebu Raya,
kembali manyampaikan, untuk mengatasi hal tersebut, selain perhatian serius,
juga perlu kerja sama dengan semua pihak baik lembaga swadaya masyarakat (LSM)
yang bergerak di bidang HIV/AIDS, instansi terkait, maupun media massa.
Pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin untuk memfasilitasi dan memediasi.
Sebab tren kasus HIV/AIDS
cenderung meningkat dari tahun ke tahun, terutama pada 2009. Kasus HIV/AIDS
berdasarkan kelompok terutama pada usia produktif yakni usia 21-45 tahun dan
usia di bawah 10 tahun, yakni 0-5 tahun sebanyak 44 orang anak dan 6-10 tahun
sebanyak 15 orang.
Sedangkan, kasus HIV
berdasarkan pekerjaan, antara lain Ibu Rumah Tangga (IRT), wirausaha, petani,
swasta, TKI, PSK, PNS, sopir, ojek, gay, TNI/Polri dan pelajar. Yang paling
banyak kasus terjadi pada IRT dengan total mencapai 225 orang.
Ia menjelaskan kasus
HIV/AIDS sudah dilaporkan di hampir seluruh wilayah NTT, dan juga termasuk dari
wilayah pedalaman dengan kurangan fasilitas kesehatan serta sarana dan
prasarana yang minim membuat penderita HIV/AIDS semakin tidak terkontrol lagi.
Sumber penularan, katanya,
sudah ada di daerah dan telah dijumpai kasus HIV/AIDS pada populasi dengan
resiko rendahs seperti IRT dan anak-anak. Banyak temuan kasus sudah pada fase
AIDS yang mengindikasikan lemahnya deteksi dini.
Sementara respons
penanggulangan AIDS di NTT ditandai dengan Perda Penanggulangan AIDS Nomor 73
Tahun 2007 dan isu HIV/AIDS menjadi bagian dari RPJMD Provinsi NTT tahun
2009-2013.
Perda ini juga memerintahkan
agar membentuk Sekretariat KPA Provinsi NTT yang dipimpin langsung sekretaris
penuh waktu, partisipasi masyarakat termasuk tokoh agama dan tokoh masyarakat,
ketersediaan dan akses layanan konseling dan testing sukarela (VCT) dan
dukungan perawatan dan pengobatan (CST), partisipasi SKPD provinsi,
memfasilitasi penguatan KPA kabupaten/kota se-NTT. (YOS)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Dilaporkan Ke KPK, Bibit Waluyo Tanggapi Santai
Eyang Subur Diperiksa Terkait Pencemaran Nama Baik
Dijamin Tak Ada Penggusuran, Warga Akhirnya Buka Jalan
Presiden PKS Akui Ketemu Direktur PT Indoguna
Lapan Luncurkan Roket Pembawa Satelit Di Morotai
Mourinho Diusir Dari Bangku Cadangan Saat Final Piala Raja
Soal Capres, Gita Belum Direstui SBY
Warga Tutup Kembali Jalan I Gusti Ngurah Rai
