SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 2 September 2014
Pencarian Arsip

Selama 2013, 19 Pelajar Tewas Tawuran
Rabu, 20 November 2013 | 17:20

Tawuran pelajar SMA 70 dan SMA 6 Jakarta. [google] Tawuran pelajar SMA 70 dan SMA 6 Jakarta. [google]

[JAKARTA] Sebanyak 19 pelajar tewas sia-sia dalam tawuran antar pelajar di Indonesia.

Belasan pelajar itu menjadi korban dari 229 kasus tawuran yang terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2013. Jumlah ini hanya yang diketahui dan belum ditambah dengan jumlah pelajar yang terluka dan dirawat di rumah sakit akibat kekerasan antar sesama pelajar. Demikian data yang dihimpun Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait menyatakan, kasus tawuran yang terjadi sepanjang 2013 meningkat secara drastis dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 128 kasus tawuran. Hal ini menurutnya merupakan indikasi yang membuktikan gagalnya sistem perlindungan terhadap anak di Indonesia.

"Banyak pembiaran-pembiaran yang dilakukan oleh negara kita, sehingga anak-anak terus menerus menjadi korban maupun pelaku," kata Arist dalam konferensi pers di Kantor Komnas PA, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (20/11).

Dikatakan Arist, prilaku di luar batas yang dilakukan anak seperti tawuran, penyiraman air keras, atau membajak sebuah bus tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghukum pelajar. Selama ini, kata Arist tidak pernah ada ditelusuri mengapa para remaja tersebut melakukan tindakannya untuk mencarik solusi.

Selain itu, prilaku anak dan remaja merupakan daur ulang dari yang dilihat "Berapa kasus yang sering menggunakan air keras, dan tak ada tindakan tegas.

Padahal dunia anak itu meniru. Bukan masalah penanganan kasusnya, tapi yang seharusnya dicari mengapa anak melakukan pembajakan, penyiraman anak keras," paparnya.

Menurut Arist sistem pendidikan di Indonesia juga turut bertanggung jawab atas tindak kekerasan yang dilakukan para pelajar. Menurutnya, sekolah hanya mengejar target kelulusan dan mengajarkan intelektualitas denngan mengesampingkan pendidikan karakter.

"Karena di sekolah sudah jenuh, akhirnya energi positif remaja ini tidak tersalurkan, Akhirnya dia keluar dan bikin aktivitas tawuran. Pertanyaannya kenapa? Di situ ada pengaruh sekolah, orang tua dan lingkungan terdekat dan pemimpin negara kita," katanya. [F-5]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»