SBY Minta Kemenlu Siapkan Buku Putih
Kamis, 23 Februari 2012 | 14:41
Presiden SBY [google] [JAKARTA] Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) diminta untuk
menerbitkan buku putih tentang kebijakan luar negeri Republik Indonesia (RI)
untuk satu periode pemerintahan. Permintaan itu dikatakan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) bukan saja penting untuk para diplomat, namun juga para
menteri, gubernur, hingga ke jajaran kepala daerah.
Dalam Rapat Kerja Kemenlu dan Perwakilan RI di kantor Kemenlu, Jakarta, Kamis
(23/2), Kepala Negara mengatakan, buku putih itu akan memuat tujuan, strategi,
dan kebijakan Kemenlu. Di mana, buku yang diharapkan akan selesai dan
didistribusikan pada dua atau tiga bulan ke depan harus di-update tiap
tahunnya.
“Our world so dynamic. Banyak sekali gubernur yang hadir di forum internasional.
Jangan sampai pandangannya tidak segaris dengan apa yang didiplomasikan jajaran
Kemenlu dan tidak segaris dengan kebijakan Presiden. itu namanya pecah kongsi.
Apalagi kalau tabrakan antar duta besar,” ucapnya di hadapan 130 kepala
perwakilan RI di luar negeri baik dubes, konsul jenderal, 4 konsul, serta 3
kuasa usaha ad-interim.
Dalam kesempatan itu, Presiden SBY juga menyatakan lima hal harapannya kepada
para dubes dan diplomat RI. ”Pertama be confident, yang kedua have a global
view, yang ketiga know your mission, yang keempat be achievement oriented,
kemudian yang kelima always be ready, active and creative,” imbuhnya.
Menurutnya, para diplomat harus percaya diri bahwa bangsanya sudah berubah dari
bangsa yang terpuruk menjadi bangsa yang dipandang dan sedang bertumbuh di
tengah krisis global. “Diplomat Indonesia tidak boleh minder pada diplomat lain
apalagi di jajaran Asean,” tegasnya.
Pada poin kedua, SBY mengharapkan para diplomat di era globalisasi memiliki
pandangan global dalam suatu masalah. Hal itu penting dimiliki karena keputusan
yang diambil negara lain bisa mempengaruhi kondisi di negeri ini. Misalnya
saja,
ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat hingga membuat harga minyak dunia
meroket.
”Dengan keadaan ini kita perlu menyesuaikan kembali APBN, fiskal dan
subsidi kita. Yang tadinya tidak ingin naikkin harga jadi perlu ditinjau
kembali, ini terpaksa tapi membawa keselamatan perekonomian di masa depan,”
katanya yang juga mengaku kurang senang jikalau bangsa lain melakukan sesuatu
tanpa mempertimbangkan bangsa lain.
Kemudian, para diplomat juga diminta Presiden untuk benar-benar betul
mengetahui misi yang diemban dalam tugasnya. Salah satu poin yang termasuk
dalam harapan Presiden ini antara lain, para dubes dapat menjaga hubungan baik
dengan negara lain, menjaga warga Indonesia di luar negeri, serta mematahkan
informasi buruk tentang Indonesia.
Presiden juga meminta agar para diplomat dapat menunjukkan kemajuan kerjanya.
Di mana, kinerja itu dapat dilaporkan hanya dalam lima lembar tulisan. ”Jangan
kebanyakan gledek atau gluduk tapi hujan tidak turun-turun,” tukas dia.
Terakhir, diplomat juga diminta untuk tidak hanya aktif, tetapi juga kreatif
dalam bekerja. Presiden meminta agar diplomat mampu berpikir outside the box
dan juga lebih menjangkau siapa atau masalah apapun secara langsung. Tentunya
SBY juga meminta dubes untuk memimpin perubahan di forum-forum internasional.
Diluar lima harapan itu, Kepala Negara juga tak lupa berpesan agar konflik
internal atau office politic antara pejabat dan staf bisa cepat diselesaikan.
“Dengarkan baik-baik, saya masih mendengar ada insiden kekisruhan internal di
perwakilan di luar negeri yang disebut office politic. Tabrakan, konslet antar
pejabat dengan staf. Kalau itu terjadi, bikin habis waktu dan efektifitas
habis,” imbuhnya.
Sementara itu, Menlu Marty M. Natalegawa mengutarakan, diplomasi yang
diperjuangkan telah menempatkan Indonesia sebagai regional power. Tak pelak,
Indonesia muncul sebagai negara yang memiliki global responsibilites dan global
interest. Tidak ada satu pun isu global dan regional utama yang luput dari
perhatian politik luar negeri Indonesia.
Lebih jauh, Indonesia semakin dituntut untuk terus menjadi kontributor dalam
menciptakan lingkungan di kawasan dan global yang bersahabat dan kondusif. Pada
saat yang bersamaan, diplomasi Indonesia juga diharapkan terus berperan sebagai
net contributor pada upaya pembangunan nasional.
Oleh karena itu, Marty memastikan bahwa diplomasi Indonesia harus dapat
mengelola dan mendorong perubahan. “Merupakan tanggung jawab Kemenlu dan para
Kepala Perwakilan untuk mewujudkan program yang nyata di negara akreditasi
masing-masing,” ungkapnya.
Program tersebut, lanjutnya, perlu memiliki fokus, dengan skala prioritas yang
jelas dan upaya pelaksanaan yang dapat diukur tingkat keberhasilannya. Kemenlu
juga menyatakan tengah mengembangkan potensi sumber daya manusianya saat ini
sebagai aset utama diplomasi. Sebelumnya, Presiden SBY juga mengharapkan agar
Kemenlu benar-benar menyiapkan penerjemah handal bukan hanya dalam bahasa
Inggris, Mandarin, namun juga yang lainnya.
Sebagai informasi, acara pengarahan Presiden RI tersebut merupakan bagian dari
rangkaian kegiatan Rapat Kerja 2012 Kemenlu dan Perwakilan yang berlangsung di
Jakarta, 20-24 Februari 2012. Tampak hadir dalam acara pengarahan sejumlah
menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pilkada Gubernur NTT Putaran Kedua Dimulai
KPU Kabupaten Gelar Pleno Pilgub Bali
Pilgub NTT Putaran Kedua, Frenly Yakin Menang
Hatta Rajasa Terima “Reformasi Award” Dari Prodem
Hypermart Kedua di Kota Ambon Diresmikan
AS Akui Pesawatnya Langgar Wilayah Indonesia
Mantan Kasdam Jaya Akan Beli Kembali Lahan yang Dieksekusi
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
