SBY Jadi Ketua Pembangunan Asia Pasifik Pasca 2015
Kamis, 10 Mei 2012 | 14:51
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) [Antara] [JAKARTA] Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah
terpilih sebagai salah satu ketua bersama (co-chairs) dalam Panel
Tingkat Tinggi (High-Level Panel of Eminent Persons) untuk agenda pembangunan
pasca 2015, yang dibentuk Sekjen PBB, Ban Ki-Moon, sebagai upaya
melakukan akselerasi langkah dan pembahasan post 2015 development agenda
setelah KTT Pembangunan Berkelanjutan (Rio+20). Di samping Presiden RI, Perdana
Menteri Inggris David Cameroon dan Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf juga
menjadi ketua bersama dalam panel tingkat tinggi tersebut.
Dalam Peluncuran Asia Pasific Human
Development Report (APHDR) 2012 dengan judul“One Planet to Share:
Sustaining Human Progress in a Changing Climate” dari The United
Nations Development Programme (UNDP), Presiden SBY mengatakan, Indonesia
mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah dalam peluncuran laporan yang
diperuntukkan bagi kawasan Asia Pasifik.
Peluncuran ini selanjutnya akan
diikuti di India dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang diperuntukkan bagi
negaranya masing-masing.
Di hadapan para pimpinan organisasi
internasional, para akademisi, dan perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat dari
dalam negeri maupun negara-negara sahabat, SBY memaparkan, dalam laporan UNDP tahun 2012
yang berisi gambaran lengkap tentang situasi indeks pembangunan manusia di Asia
Pasifik, tercatat bahwa masih ada 900 juta penduduk di kawasan tersebut yang
terbelenggu kemiskinan di tengah berlangsungnya perubahan iklim.
“Tantangan besar
itu tentu menjadi semakin berat, manakala solusi pengentasan kemiskinan tidak
hanya dihadapkan pada dampak besar perubahan iklim, tetapi juga pada kondisi
ekonomi global yang melemah dan penuh dengan ketidakpastian,” katanya di Istana
Negara, Jakarta, Kamis (10/5).
Ditambahkannya,
peluncuran laporan Asia Pasific Human Development Report (APHDR) 2012 ini
dinilainya tepat waktu, di tengah kondisi kawasan yang berubah dalam berbagai
aspek sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan.
Pertama, kita masih dihadapkan pada perlambatan ekonomi
dunia, yang tentunya berdampak pada agenda pembangunan nasional negara-negara
di dunia, termasuk pencapaian Millennium Development Goals. Kedua,
populasi dunia telah melewati angka 7 milyar orang, di mana 4,1 milyar hidup di
kawasan Asia Pasifik.
Ketiga, pola konsumsi dan produksi masih
belum pada posisi yang berimbang dan belum berkelanjutan. Keempat,
keterkaitan antara aktivitas manusia dengan perubahan iklim semakin tidak
terbantahkan.
Jelas SBY, perubahan iklim
menjadi tantangan nyata bagi kehidupan manusia di kawasan ini. Di mana,
masyarakat yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim adalah mereka yang
tinggal di daerah pegunungan, delta sungai, dan pesisir pantai yang
rendah.
”Sehingga kawasan Asia Pasifik adalah tempat tinggal bagi populasi
yang paling rentan dan yang paling sensitif terhadap dampak perubahan
iklim. Situasi menjadi semakin buruk saat bencana alam semakin sering
terjadi. Dalam tiga
dasa warsa terakhir, 45 persen bencana alam di dunia terjadi di kawasan ini,”
imbuhnya.
Lanjutnya, dengan disiplin dan
kemauan politik yang kuat, sebagai negara ketiga terbesar di kawasan Asia Pasifik setelah RRT dan India
yang sudah memiliki Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, SBY diminta pada konferensi global di Rio de Janeiro Juni
mendatang untuk menyumbangkan ide-ide praktis yang berkenaan dengan pembangunan
berkelanjutan.
Di tempat yang
sama, Asisten Sekretaris Jenderal PBB, Asisten Administrator dan Direktur
Regional UNDP untuk Asia Pasifik Ajay Chhibber mengatakan, Indonesia dipilih
menjadi tuan rumah peluncuran regional ini karena kepemimpinannya dalam
menunjukkan jalan menuju masa depan yang lebih hijau.“Ini waktunya bagi
negara-negara Asia Pasifik untuk bertindak selagi mereka mengalami pertumbuhan
ekonomi yang pesat,” katanya.
Adapun,
negara-negara di Asia, sambungnya bertanggung jawab atas 37 persen emisi dunia
dari produksi pertaniannya termasuk melalui pertanian, peternakan, perubahan
guna lahan dan deforestasi. Namun sayangnya, negara-negara di kawasan tersebut
yang notabenenya memiliki pasar konsumen yang luas belum bisa memeratakan
konsumsinya secara adil dan seimbang. Serta, adanya kesenjangan yang tinggi di
mana lebih dari 2,5 miliar orang mempunyai telepon seluler, namun setengah dari
populasinya, atau hampir 1,9 miliar jiwa tidak mendapatkan pelayanan dasar yang
memadai seperti akses sanitasi dasar.
“Oleh karena itu,
negara-negara di Asia Pasifik perlu mengubah cara memproduksi barang, bercocok
tanam dan memelihara ternak serta menghasilkan listrik,” ujar Chibber. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Massa Bakar Polres Pegunungan Bintang, Papua
FUI Bogor Minta Kejagung Bekukan Ormas LDII
Wartawan Jambi Aksi Damai Protes Aparat Keamanan
Film 'Man of Steel' Cetak Rekor Box Office Juni
Arab Saudi Minta Haji Tahun Ini Ditunda
Mendagri: Gubernur Sumut Layak Raih MURI
Inilah Fakta Pertandingan Duel Spanyol Vs Uruguay
Tolak Kenaikkan BBM, Polisi Tahan Rektor Universitas HKBP Nommensen
