SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 26 Juli 2014
Pencarian Arsip

RAPBNP 2012, Harga Premium Rp 6.000 per Liter
Rabu, 7 Maret 2012 | 11:10

Antrean BBM [antara] Antrean BBM [antara]

[JAKARTA] Beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) tetap membengkak meski harga premium dan solar dinaikkan menjadi Rp 6.000 per liter. Tahun ini, subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar nabati (BBN) ditaksir mencapai Rp 137,4 triliun, melebihi alokasi dalam APBN 2012 yang sebesar Rp 123,6 triliun.  

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, beban subsidi BBM tetap besar karena harga minyak mentah dunia terus naik.

Dengan kenaikan harga BBM bersubsidi Rp 1.500 per liter dan Indonesia crude price (ICP) US$ 105 per barel, beban subsidi BBM tahun ini akan mencapai Rp 137,4 triliun dan subsidi listrik Rp 93 triliun. Kalau ICP rata-rata US$ 110 per barel, subsidi BBM menjadi Rp 153,2 triliun. Subsidi BBM akan membengkak menjadi Rp 196 triliun bila ICP rata-rata mencapai US$ 125 per barel.

“Artinya, tanpa kenaikan harga BBM bersubsidi, anggaran kita bisa jebol,” tegas Hatta di Jakarta, Selasa (6/3).  

Untuk 2011, pemerintah membayar subsidi BBM dan LPG sebesar Rp 164,7 triliun untuk 40,3 juta kiloliter. Jumlah itu melebihi alokasi anggaran subsidi energi dalam APBN-P 2011 sebesar Rp 129,7 triliun. “Hal ini disebabkan adanya kenaikan harga ICP hingga mencapai US$ 109,9 per barel, sedangkan asumsi APBN-P 2011 hanya US$ 95 per barel,” jelas Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, kemarin.  

Untuk mengurangi beban subsidi, pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi. DPR pun telah menerima surat presiden mengenai RUU APBN Perubahan 2012, yang antara lain berisi usulan kenaikan harga BBM bersubsidi. "Selanjutnya surat tersebut akan diserahkan ke pada Badan Anggaran untuk dimulai pembahasan," kata Ketua DPR Marzuki Alie saat membuka rapat paripurna DPR di Jakarta, kemarin.  

Dalam pembahasan RUU APBNP 2012, Menkeu berharap, pemerintah dapat memasukkan opsi kenaikan kembali harga BBM bersubsidi sewaktu-waktu. Hal ini dilakukan jika besaran kenaikan Rp 1.500 sudah tidak representatif dengan kondisi harga minyak dunia terkini.   Agus mengatakan pihaknya juga memasukan pilihan penentuan besaran konstan subsidi untuk BBM dan tarif dasar listrik (TDL). Hal ini untuk menjaga kredibilitas APBN ditengah gejolak dunia.

Dalam RAPBNP 2012, pemerintah mengusulkan kenaikan harga premium bersubsidi Rp 1.500 per liter menjadi Rp 6.000 per liter dengan asumsi ICP rata-rata US$ 105 per barel.  “Kalau bisa jangan berubah. Kalau  berubah nanti berat lagi kita. Kira-kira kami hitung itulah angka yang sementara ini pas," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik.

Dalam RAPBN-P 2012, pemerintah mengusulkan kenaikan harga BBM pada April 2012, sedangkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada bulan berikutnya dengan skema dicicil tiga persen setiap bulan.  “Kenaikan TDL lebih mudah dibandingkan kenaikan harga BBM bersubsidi karena subsidi listrik langsung kepada pemakai,” jelas dia.  

Pemerintah sempat mewacanakan opsi lain, yakni subsidi BBM dipatok Rp 2.000 per liter. Namun, opsi ini memunculkan perdebatan. Terlebih lagi, Mahkamah Konstitusi memutuskan, harga BBM tidak boleh dilepas pada harga pasar.  

Sebenarnya, menurut Jero Wacik, penetapan nilai subsidi secara konstan bisa menghasilkan pengurangan subsidi lebih signifikan, terutama di tengah tren kenaikan harga minyak mentah. Dengan opsi ini, pemerintah akan lebih mudah mengendalikan subsidi BBM. Risiko pembengkakan subsidi BBM hanya berasal dari lonjakan konsumsi.  

Jero berharap, pembahasan RUU APBNP 2012 segera selesai sehingga kenaikan harga BBM dapat direalisasikan 1 April 2012.     

Menurut Jero, pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp 22 triliun sebagai kompensasi kenaikan harga BBM. Dana kompensasi itu akan diberikan melalui empat program, yakni bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), pemberian beasiswa, penambahan beras untuk rakyat miskin (raskin), dan kompensasi ke sektor transportasi. Kompensasi untuk sektor transportasi berupa kupon ongkos angkutan dan bantuan STNK dan KIR.  

Jika harga BBM dan tarif dasar listrik tidak dinaikkan, Menkeu memastikan, subsidi energi akan membengkak sebesar Rp 108 triliun. Rinciannya, subsidi BBM bertambah Rp 55 triliun menjadi Rp 178 triliun dan subsidi listrik meningkat Rp 53 triliun menjadi Rp 98 triliun. Sebab, harga minyak dunia sudah mencapai US$ 120 per barel.  

Dalam RAPBNP 2012, pemerintah menyampaikan asumsi IPC US$ 105 per barel, sedangkan target produksi (lifting) minyak justru diturunkan dari 950 ribu barel per hari menjadi 930 ribu barel per hari.  "BP Migas tidak berani pasang target 930 ribu barel per hari, tapi angka itu yang kami ajukan," ucap Jero Wacik.  

Usulan pemerintah itu untuk menaikkan harga BBM mendapatkan respon pro dan kontra dari kalangan parlemen. Dukungan terutama berasal dari partai yang tergabung dalam koalisi di pemerintahan. "Golkar, PKB, PPP, PAN, semuanya memberikan dukungan.

Dengan catatan, selisih kenaikan harga dimanfaatkan untuk hal lain seperti mengatasi kemiskinan dan menciptakan kesempatan kerja," ujar Ketua Fraksi Demokrat Jafar Hafsah di Jakarta, Selasa (6/3).  

Dari enam partai anggota Sekretariat Gabungan, menurut Jafar, hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang masih ragu-ragu. Menurut Jafar, pemerintah sadar keputusan untuk menaikkan harga BBM akan memberatkan masyarakat karena berpengaruh pada inflasi. Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) secara tegas menolak usulan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.  FPDIP menilai, rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi hanya untuk menyelamatkan APBN.

“Dengan kata lain, pemerintah memilih mengorbankan rakyat. PDI-P menolak pemerintah menaikkan BBM, solusinya ada banyak, misalnya melakukan efisiensi. Jangan jadikan masyarakat sebagai tumbal," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR Effendi Simbolon, kemarin. [ID/H-12]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»