Quick Count Gambarkan Hasil Rekapitulasi KPU Provinsi DKI Jakarta
Kamis, 12 Juli 2012 | 11:52
Pilkada DKI Jakarta. [google] [JAKARTA] KPU Provinsi DKI Jakarta belum memberi
pengumuman resmi Gubernur DKI yang baru hingga 19-20 Juli. Hal itu dikarenakan
proses penghitungan dilakukan secara berjenjang, dari tingkat kelurahan,
kecamatan, hingga tingkat provinsi, dengan rentang waktu masing-masing,
maksimal tiga hari.
Kendati demikian, Ketua Pokja Kampanye, Pemungutan, dan
Penghitungan suara KPU Provinsi DKI Jakarta
Sumarno mengisyaratkan, hasil quick
count menggambarkan hasil rekapitulasi KPU. “Artinya, quick count memberikan indikasi awal. ” kata Sumarno, di Jakarta,
kepada SP, di Jakarta, Kamis (12/7).
Dia menegaskan, hasil penghitungan cepat telah membantah tudingan miring kepada KPU
Provinsi Dki Jakarta selama ini yang menyebut KPU memihak kepada incumbent dengan cara merekayasa DPT.
Sumarno mengemukakan, sesuai dengan komitmen pihaknya
bekerja secara independen dan tidak berpihak kepada calon siapapun.
“Hasil quick count
membantah semua tudingan kepada KPU selama ini bahwa KPU merekayasa DPT untuk
kepentingan tertentu,” jelasnya.
Meskipun mengakui, hasil quick count hanya merupakan indikasi awal pemenang Pilkada DKI
Jakarta namun pemenang resmi Pilkada DKI Jakarta hanya diumumkan oleh KPU
Provinsi DKI Jakarta. “Tetapi harus dicatat bahwa quick count bukanlah hasil resmi yang harus dipedomani. Sekadar
informasi permulaan saja, hasil resmi nanti hanya akan diumumkan KPU Provinsi
DKI Jakarta , siapa menang, siapa kalah dengan perolehan suara berapa,”
katanya.
Dia berharap, sesuai dengan program KPU Provinsi DKI
Jakarta, pihaknya dapat mengumumkan Gubernur DKI 2012-2017 pada 7 Oktober
mendatang. Namun, tidak menutup
kemungkinan adanya sengketa yang nantinya diajukan ke MK.
“Kalau tidak ada gugatan ke MK yang berkepanjangan sesuai
program KPU Provinsi DKI Jakarta , pada 7 Oktober akan ada Gubernur baru,”
jelasnya.
Sesuai dengan program KPU Provinsi DKI Jakarta, jika
terdapat pasangan yang unggul dengan perolehan suara 30 persen +1 maka langsung
diumumkan sebagai pemenang oleh KPU pada 19-20 Juli. Jika tidak, maka pihaknya
akan menggelar pemilihan putaran kedua yang akan dimulai pada 23 Juli - 8
September.
“Andaikan quick
count benar, berarti Foke dan Jokowi akan maju pada putaran kedua.
Pemungutan suara putaran kedua akan dilangsungkan pada 20 September. Setelah
itu, hasil akan direkap di tingkat PPS hingga 23 September. Rekapitulasi itu
dilanjut ke tingkat PPK, KPU Kabupaten/Kota, hingga diterima KPU Provinsi pada
29 September,” jelasnya.
Kemudian, pada 3 Oktober, KPU Provinsi DKI Jakarta akan
menetapkan rapat pleno tentang pasangan calon terpilih. Hasil rapat tersebut
akan ditetapkan pada DPRD pada 4-6 Oktober. Setelah itu, KPU Provinsi DKI
Jakarta mempersilakan pasangan calon untuk menggugat hasil yang ditetapkan pada
MK pada 8-10 Oktober.
“Kalau proses gugatan tidak berlarut-larut, maka akhirnya,
KPU Provinsi DKI Jakarta akan menetapkan pasangan calon terpilih pada DPRD
Provinsi pada 31 Oktober-2 November,” katanya.
Sumarno mengakui, pada saat pencoblosan yang dilakukan
Rabu (11/7) kemarin, terdapat beberapa kesalahan-kesalahan yang harus dibenahi.
Setidaknya, hal itu diminimalisir pada pemilihan putaran kedua mendatang.
Salah satunya adalah, persoalan bagi masyarakat yang tidak
terdaftar sehingga tidak bisa memilih. Hal itu, merupakan persoalan yang
ditemui segenap anggota KPU Provinsi DKI Jakarta ketika turun ke lapangan.
Kemudian, ujarnya, akan ada penetapan ulang DPT. Jika
kemarin, terdapat 6.962.348 DPT maka pada putaran kedua mendatang berpotensi
bertambah.
“Kemungkinan
bertambah, kalau berkurang sepertinya tidak karena, banyak warga yang belum
terdaftar. Kita akan mengevaluasi kelemahan pada putaran pertama, kelemahan
yang ada kita benahi pada saat putaran kedua,” katanya.
Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta Dahlia Umar mengatakan,
pada pemungutan suara kemarin, terdapat beberapa persoalan yang bersifat
teknis. Kendati demikian, dia mengaku tidak bisa memberi keterangan lebih jauh
karena mesti melakukan evaluasi terlebih dahulu. “Tidak bisa menyimpulkan,
harus ada laporan yang komprehensif. Ada yang partisipan tinggi sampai 70
persen, ada yang 50 persen,” ungkapnya. [E-11/Y-6]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Wah...Ternyata 10% Pengguna Facebook Bukan Manusia?
Sekuel Star Trek Puncaki Box Office
Pengembang Ngotot Membangun di Hutan Kota Bandung
Satu Lagi Teman Wanita Fathanah Kembalikan Uang Ke KPK
Joe Taslim Raih Adegan Mahal di Fast and Furious 6
Orang Miskin Dipersulit Masuk PTN di Jawa
Belum Ada Pengumuman Pemenang Pilgub, Dua Kandidat Diminta Jaga Kedamaian Bali
Pemprov DKI Jakarta Harus Beri Sanksi 16 RS Mundur Dari Program KJS
