SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 April 2014
Pencarian Arsip

Pulau Jawa Kritis Air
Rabu, 4 Juli 2012 | 11:25

Ilustrasi air [pos kota] Ilustrasi air [pos kota]

[BANDUNG] Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyatakan Pulau Jawa dalam kondisi kritis air. Kondisi itu terkait dengan besarnya kebutuhan penduduk akan air yang tidak sebanding dengan ketersediaannya.  

Kondisi ini harus dicermati karena Indonesia memiliki kekayaan sumber daya air terbesar kelima di dunia. Potensi cadangan sumber daya air mencapai 3.900 milyar meter kubik per tahun. Potensi tersebut berada di 5.886 aliran sungai dan 521 danau.  

Djoko menyoroti hasil sensus penduduk tahun 2011 yang memperkirakan penduduk di Pulau Jawa dan Madura hampir 138 juta jiwa. Populasi itu setara dengan 58 persen dari total penduduk Indonesia.   “Dengan memperhatikan ketersediaan air tahunan di Pulau Jawa terdapat bulan-bulan tertentu, di mana kebutuhan air baik untuk kebutuhan rumah tangga, industri, dan kota maupun irigasi tidak tercukupi. Ini mengindikasikan dalam konteks neraca air, Pulau Jawa berada pada kondisi kritis,” kata Djoko dalam orasi ilmiah peringatan 92 tahun pendidikan tinggi teknik di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Selasa (3/7).

Menurut Djoko, meski memiliki kekayaan sumber daya air terbesar ke-lima di dunia, sampai saat ini baru 25% saja yang termanfaatkan. “Kurang dari 5 persen untuk kebutuhan air baku, rumah tangga, kota, dan industri. Selebihnya untuk kebutuhan irigasi,” tambah dia.

Berdasarkan data dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air tahun 2012, potensi cadangan sumber daya air indonesia sebesar 3.900 milyar meter kubik per tahun.  Jumlah itu terbagi pada beberapa pulau, seperti potensi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 49,6 milyar meter kubik per tahun, potensi di Sulawesi sebesar 299,2 milyar meter kubik per tahun, potensi di Kalimantan sebesar 1.314 milyar meter kubik per tahun, potensi di Maluku sebesar 176,7 milyar meter kubik per tahun, dan potensi di Papua mencapai 1.062 milyar meter kubik per tahun.  

Pulau Kalimantan, Papua, dan Sumatera, sambung Djoko, merupakan kepulauan yang mempunyai air permukaan sebesar 82 % dari seluruh air permukaan di Indonesia. Sedangkan Pulau Jawa hanya memiliki air permukaan 4 % dari seluruh air permukaan tersebut. “Setara dengan 124 ribu meter kubik per detik,” imbuhnya.  

Setiap tahun kebutuhan air di Indonesia mencapai 175 milyar meter kubik. Dari jumlah itu, sebanyak 34 milyar meter kubik untuk urusan rumah tangga, industri, dan perkotaan. Sedangkan untuk kebutuhan irigasi mencapai 141 milyar meter kubik.   Meskipun hanya memiliki persediaan air permukaan sedikit, pemakaian air di Pulau Jawa dan Bali merupakan yang terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai 100 milyar meter kubik per tahun.  

Setiap penduduk Pulau Jawa, kata Djoko dalam orasi ilmiahnya, hanya mendapat sekitar 1.210 liter air per tahun. Dengan konsep water footprint, yaitu konversi kebutuhan atau produksi pangan dan barang, Pulau Jawa secara tak langsung telah mengimpor air, yaitu dengan masuknya beras impor.  

Berdasarkan perhitungan jumlah pemakaian air dengan jumlah air yang tersedia, Djoko mengatakan, kondisi pemakaian air di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur sudah mengkhawatirkan.  

Djoko tidak menjelaskan spesifik langkah pemerintah untuk mengatasi masalah air tersebut. Djoko malah menantang kalangan perguruan tinggi untuk membantu pemerintah mengelola sumber daya air yang makin kompleks tantangannya. “Perlu peningkatan keahlian dalam bidang pengelolaan sumber daya air,” ujar dia.  

Sebelum era tahun 2000-an, kata Djoko, tingkat keahlian pengelolaan sumber daya air yang diperlukan relatif masih sederhana. Saat itu rekayasa teknis sumber daya air berevolusi dan harus dipadukan dengan pertanian, ekonomi, organisasi pengelola, kelembagaan, dan isu gender.  

Sedangkan saat ini, pengelolaan sumber daya air harus disertai keahlian komprehensif dengan mengintegrasikan isu-isu tersebut dengan isu politik, lingkungan, ekonomi hijau, serta perubahan iklim dan budaya.   “Di fakultas teknik sudah sedikit yang mau belajar teknik hidro, padahal air itu tantangan masalah ke depan,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. [153]          




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN