SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 20 September 2014
Pencarian Arsip

PM Jepang Berjanji Selesaikan Sengketa Kepulauan Dengan Rusia, Tetapi Tidak Dengan China
Kamis, 7 Februari 2013 | 15:33

Shinzo Abe. [Reuters] Shinzo Abe. [Reuters]

[TOKYO] Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe, Kamis (7/2), mengatakan, ia ingin mengusahakan satu "solusi yang dapat diterima kedua pihak" atas sengketa wilayah dengan Rusia dan menandatangani perjanjian perdamaian dengan Moskwa.

Pernyataan-pernyataan perdamaian Abe itu bertentangan dengan sikapnya yang tidak berkompromi mengenai sengketa dengan China, menyangkut kedaulatan atas pulau-pulau yang disengketakan.

"Tidak ada perubahan dalam ketetapan hati saya untuk melakukan segala sesuatu yang dapat saya lakukan bagi tercapainya satu perjanjian perdamaian dengan Rusia, setelah menyelesaikan masalah wilayah utara," kata Abe, mengacu pada Kuril Selatan yang dikuasai Rusia.

Pada Desember tahun lalu, Abe dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk memulai kembali perundingan mengenai penandatanganan satu perjanjian perdamaian secara resmi untuk mengakhiri permusuhan Perang Dunia II, yang terhambat akibat sengketa itu.

"Dalam percakapan telepon itu, saya mengemukakan kepada Presiden Putin, saya akan melakukan usaha-usaha untuk menemukan satu solusi yang dapat diterima kedua pihak,  sehingga pada akhirnya dapat menyelesaikan masalah Wilayah Utara itu," kata Abe kepada para pengunjuk rasa dukungan pemerintah yang diikuti sekitar 2.000 orang mantan penduduk pulau-pulau itu dan keturunan mereka di Tokyo.

Pasukan Soviet menduduki kepulauan itu, yang merupakan perairan kaya ikan di lepas pantai utara Hokkaido, pada hari-hari terakhir Perang Dunia II dan dihuni penduduk Jepang.

Kepulauan itu kemudian dihuni kembali oleh para warga Rusia tetapi tetap miskin dan bagian dari negara itu tidak berkembang.

Pernyataan Abe itu diucapkan saat ketegangan antara Jepang dan China meningkat menyangkut kedaulatan atas Kepulauan Senkaku yang dikuasai Jepang di Laut China Timur, yang diklaim Beijing sebagai Diaoyu.

Pada Selasa lalu, Jepang mengatakan, satu kapal perang China mengunci radarnya terhadap satu kapal perang militer Jepang, pertama kali dua angkatan laut negara itu terlibat pertikaian yang meningkat yang meletus musim panas lalu.

Abe pada Rabu menyebut tindakan radar itu "berbahaya" dan "provokatif." Perdana menteri itu berulang-ulang mengatakan, tidak ada tempat bagi perundingan menyangkut kepulauan Laut China Timur.   Tetapi ia juga menegaskan pertikaian itu jangan mengganggu hubungan dengan Beijing, satu mitra dagang penting. [Ant/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»