Persipura Tak Main di Champions Asia, PSSI Sakiti Hati Papua
Selasa, 6 Desember 2011 | 11:53
Kapten Persipura Jayapura Boaz Solossa sedang berlari sambil membawa Piala Indonesia Super League (ISL) musim 2010/2011 di Stadion Mandala Jayapura, Minggu ( 19/6) malam. (Foto: SP/Robert Isidorus Vanwi)
[JAYAPURA] Tindakan pengurus PSSI yang dengan sengaja
mengganjal Persipura Jayapura sehingga tak bisa tampil di ajang Liga Champion
Asia (LCA), dinilai telah menyakiti perasaan masyarakat Papua. Klub berjuluk
Mutiara Hitam tersebut tak akan tinggal diam. Mereka akan mengajukan tuntutan
dan proses hukum, atas apa yang dilakukan PSSI.
“Selama ini sepak bola dianggap sebagai harkat dan martabat
masyarakat Papua, sehingga perbuatan PSSI yang mencekal Persipura di ajang Liga
Champion Asia (LCA), sama saja merendahkan harkat orang Papua. Kenapa kami di
Papua sering diperlakukan begini,” kata Ketua Umum Persipura Benhur Tomi Mano di Jayapura, baru-baru ini.
Dia mengatakan, sejak awal PSSI sudah menunjukan sikap tidak
baik dengan mengancam semua tim yang berlaga di ajang Liga Super Indonesia
(LSI), karena tak mengikuti Liga Primer Indonesia (LPI) yang mereka
selenggarakan.
“Kami semua tahu kalau PT Badan Liga Indonesia (BLI) juga
diakui oleh Konfedrasi Sepakbola Asia (AFC) untuk menggelar kompetisi di
Indonesia. Jadi wajar jika Persipura sebagai tim profesional mengikuti
kompetisinya,” papar Tomi Mano yang kesehariannya adalah Wali Kota Jayapura.
Lebih lanjut ia mengatakan, PSSI merupakan pihak yang meminta kepada AFC agar Persipura tak
diikutkan dalam LCA, dan digantikan dengan Arema atau mengusulkan tim asal
Singapura.
“Persipura punya hak berlaga di LCA karena prestasi mereka.
Lalu apa hak PSSI menjegalnya, apakah hanya karena tak ikut LPI. Sungguh aneh
sikap PSSI, Persipura yang bisa mengharumkan nama negara di ajang LCA, justru
usulkan ganti dengan tim Singapura. Ini murni persekongkolan jahat PSSI,”
sambungnya.
Tomi Mano juga membeberkan alasan tim kebanggaan masyarakat
Papua itu tak mengikuti LPI yang diklaim PSSI sebagai kompetisi resmi, justru
sebaliknya mengikuti LSI. Dikatakannya, pada awalnya Persipura sudah siap dan
mengisi formulir untuk tampil di LPI. Namun, mereka juga meminta syarat agar
jumlah peserta harus sesuai hasil
Kongres PSSI di Bali, yakni 18 tim saja. Selain itu, sesuai
statuta kongres PSSI di Bali, kubu Persipura juga minta saham klub kembali
menjadi 99 persen milik klub dan satu persen milik PSSI, dan menolak aturan
baru LPI, yakni saham klub 70 persen milik Ketua PSSI dan 30 persen milik klub.
“Kami juga meminta PSSI menghadirkan semua klub di Indonesia
untuk duduk bersama, serta Persipura sebagai juara liga musim lalu, harus
melakoni laga perdana di kandangnya, sebagai apresiasi seperti biasanya
dilakukan tiap awal kompetisi,” katanya.
Namun, kata Tomi, surat resmi dari manajemen Persipura itu
tak pernah ditanggapi, dan justru tiga orang petinggi PSSI, yakni Saleh
Mukadar, Usman Fakaubun dan Wijayanto, datang ke Jayapura dan menemuinya.
Baru
di awal bulan November lalu, lanjutnya, datang surat jawaban PSSI pada
Persipura, yang isinya juga sangat membingungkan, sehingga dirinya mengutus
sekretaris umum tim, Thamrin Sagala mengikuti pertemuan LPI.
“Ternyata tidak berubah dan tetap saja 24 tim yang tercatat
sebagai peserta LPI. Ini sangat merugikan, karena menjadikan kompetisi sangat
padat. Lagipula, sebagian tim yang dipaksakan masuk masih terkena sanksi,”
katanya.
Persipura, lanjut dia, akhirnya memutuskan ikut LSI yang
digelar PT BLI, ketika CEO-nya Djoko Driyono datang dan menawarkan pada
manajemen, serta menyetujui semua syaratnya.
Sementara itu, Deputi Sekjen PSSI
Saleh Mukadar mengatakan, PSSI jangan disalahkan
menyusul turunnya surat dari AFC berkaitan dengan pencoretan Persipura di LCA
musim ini. “Harusnya Persipura meminta pertanggungjawaban kepada CEO PT Liga
Indonesia,” katanya, kemarin.
Menurut dia, sebelum bergulirnya ISL yang dikelola PT Liga
Indonesia, pengurus PSSI mendatangi Gubernur
Papua dimana Persipura bernaung, untuk meminta kepada pengurus Papua tidak
mengikuti kompetisi di luar PSSI. Ia mengatakan
bahwa pihaknya tidak mendapat jawaban, akhirnya Persipura memilih ISL ketimbang
IPL yang dikelola PT LPIS.
Menurut Saleh, di badan ad-hoc
AFC, ada tiga wakil Indonesia yakni Ketum PSSI
Djohar Arifin Husin, Widjayanto selaku CEO LPIS dan wakil Persipura Rudy Maswi.
”Harusnya Persipura sudah tahu jika ada sanksi jika mengikuti kompetisi yang
bukan dilaksanakan PSSI. Rudy Maswi yang duduk
di pengurusan ad hoc AFC harus
ditanyai sendiri oleh Persipura,” katanya.
Pada bagian lain, sebanyak
empat anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI
menolak panggilan Majelis Etik PSSI untuk hadir
di Jakarta pada Selasa (6/12). “Kami menolak untuk hadir. Kami memang mendapat
undangan dari Sekjen PSSI mengenai panggilan
dari Majelis Etik, Besok (Selasa). Namun tidak dijelaskan materi pemanggilan
tersebut" kata anggota Exco La Nyalla Mattalitti.
Keempat anggota Exco yang dipanggil itu adalah La Nyalla M.
Mattallitti, Robertho Rouw, Erwin Dwi Budiawan, dan Toni Aprilani.
La Nyalla yang juga Komite Hukum PSSI
itu menegaskan keberatan mereka atas panggilan Majelis Etik PSSI itu. Empat anggota Komite Eksekutif PSSI itu sebelumnya dianggap banyak berseberangan
dengan kebijakan ketua umum PSSI, Djohar Arifin
Husin. Mereka tidak sepakat karena kebijakan-kebijakan PSSI
saat ini menyalahi Statuta PSSI, salah satunya
adalah kebijakan mengenai kompetisi yang menggulirkan LPI.
”Kami tidak pernah diundang dalam rapat formal padahal kami anggota Exco,”
katanya.
Ia juga menilai bahwa pihaknya tidak pernah mengenal Majelis
Etik dalam Statuta PSSI maupun aturan lainnya.
[Ant/HPS/M-17]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Aiptu Labora Sitorus Mesin ATM Perwira Polisi Papua Hingga Mabes?
Fathanah Perkenalkan Satu Lagi Istilah Korupsi
Fathanah Ajak Maharani Berhubungan Intim
Jangan Sampai Stasiun Tujuan Terlewat
Difitnah Istri Selingkuh Dengan Anaknya, Syarief Hassan Polisikan Triomacan
Kayak Menteri Saja, Luthfi Hasan Janjikan Penambahan Kuota Impor Sapi
Ahmad Fathanah Akui Curi Dokumen KPK
Gadis ABG Diperkosa Pamannya Sendiri
