SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 Juli 2014
Pencarian Arsip

Peras Bandar Narkoba, Dua Oknum Polisi Terancam Dipecat
Kamis, 22 Desember 2011 | 8:58

AKBP MP Nainggolan (Foto: Tribun Medan.com) AKBP MP Nainggolan (Foto: Tribun Medan.com)

[MEDAN] Dua oknum polisi yang terlibat dalam kasus dugaan pemerasan terhadap Herianto, salah seorang bandar narkotika dan obat-obatan berbahaya (Narkoba), masih menjalani pemeriksaan di Markas Polres Pelabuhan Belawan. Kedua oknum yang melakukan pemerasan mencapai Rp 200 juta ini pun terancam dipecat dari kesatuan jika hasil pemeriksaan itu terbukti melakukan pemerasan.

Kedua oknum polisi yang bertugas di bagian unit narkotik tersebut adalah Bripka Sukarni (33) dan Brigadir R Simamora (31). Sebelum dipecat dari kesatuan maka keduanya terlebih dahulu menjalani proses hukum dari dugaan kasus tindak pidana tersebut. Kasus pemerasan seperti yang dituduhkan kepada kedua oknum tersebut terjadi di kawasan Marelan.

"Laporan itu memang sudah ditindaklanjuti. Kedua oknum itu akan diajukan ke peradilan umum jika memang terbukti melakukan pemerasan. Ancaman terberat yang bakal mereka hadapi adalah pemecatan," ujar kepala bagian Dokumentasi dan Liputan Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan kepada SP di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (22/12).

Nainggolan mengatakan, pemeriksaan terhadap kedua oknum itu dilakukan penyidik menyusul adanya laporan dari pihak yang merasa dirugikan. Laporan itu kemudian dikembangkan oleh petugas reserse kriminal (Reskrim). Kedua oknum polisi itu dipanggil untuk diperiksa sesuai dengan laporan tersebut. Penyidik akan mengkonfrontir keterangan pembuat laporan dengan oknum itu.

"Pemeriksaan awal sudah dilakukan petugas kita di sana namun kedua oknum itu membantah melakukan pemerasan. Kendati demikian, pengembangan dari penanganan kasus ini tidak berhenti begitu saja. Polisi juga akan mengorek keterangan saksi lain bila mengaku melihat atau mengetahui adanya pelanggaran tindak pidana dugaan pemerasan itu," katanya.

Sementara itu, pemerhati masalah kepolisian, Agus Yohanes meminta pihak kepolisian juga harus memproses seorang warga yang diduga sebagai bandar narkoba itu. Soalnya, pengakuan tersangka sekaligus korban pemerasan itu, dapat dijadikan dasar oleh polisi untuk turut memproses secara hukum. Polisi pun harus dapat membuktikan Herianto sebagai bandar narkoba.

"Demi penegakan hukum maka tersangka bersama kedua oknum polisi itu harus sama - sama diproses secara hukum. Tugas penyidik untuk dapat membuktikan Herianto sebagai bandar narkoba. Jika melakukan penahanan tanpa mempunyai bukti narkoba terhadap herianto tentunya sulit untuk diproses. kejaksaan dan pengadilan pun tidak akan berani mengambil risiko dari kasus itu," ujarnya.

Menurutnya, kasus pemerasan oleh oknum polisi terhadap tersangka pelanggaran tindak pidana sebenarnya sudah sering terjadi. Untuk membuktikan kebenaran dari laporan pemerasan itu sulit untuk dapat dibuktikan terkecuali tertangkap tangan. Tidak hanya di lapangan, dugaan pemerasan itu pun sering dilakukan di kantor polisi. Pimpinan polisi pun banyak mengetahui hal tersebut.

"Ada kekeliruan dari pola pimpinan polisi terhadap anggota yang melakukan pemerasan. Pemerasan oleh penyidik sebenarnya sudah bukan menjadi rahasia lagi. Selama pimpinan Polri tidak melakukan pembenahan lebih serius maka sulit buat masyarakat untuk dapat menerima kehadiran polisi. Sampai sekarang, belum ada perubahan yang signifikan di Polri," sebutnya. [155]






Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»