Penyelesaian Papua Tak Efektif dengan Militeristik
Rabu, 4 Juli 2012 | 9:48
Stop kekerasan di Papua [google] [JAKARTA]
Sebagai orang yang dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dewan
Pertimbangan Presiden (Wantimpres) diharapkan bisa menjadi penyambung lidah
untuk perbaikan kondisi di Papua yang selama 40 tahun belum jelas arah
penyelesaiannya.
Dalam
pertemuan beberapa LSM asal Papua dengan Anggota Wantimpres bidang Hukum dan
HAM Albert Hasibuan di kantor Wantimpres, Jakarta, Selasa (3/7), disampaikan
bahwa persoalan terkait kekerasan di Papua belum ada penyelesaiannya yang
komprehensif. Untuk itu, Presiden SBY tidak bisa menganggap persoalan di Bumi
Cendrewasih itu sebagai persoalan kecil semata.
”Kami meminta Wantimpres untuk mengingatkan dan
memastikan komitmen presiden terkait dialog damai di Papua. Semestinya,
presiden sudah membentuk tim untuk merealisasikan inisitiaf dialog damai. Tidak
ada alasan bagi presiden untuk tidak merealisasikan hal tersebut karena
konsepnya sudah pernah diajukan oleh kawan-kawan di Papua dan Jakarta
berdasarkan diskusi mendalam,” ujar Wakil Koordinator Kontras Indria Fernida.
Ketua Sinode Gereja Kingmi Papua Pdt Benny Giay
menyayangkan aksi pemerintah Indonesia yang masih tetap menggunakan pendekatan
militer dalam melakukan pengamanan di Papua. ”Kami berikan jempol untuk wacana
dan pernyataan yang bagus. Tapi kita berhadapan dengan realita yang berbeda.
Setiap hari ada penembakan yang tidak pernah ditangkap. Ada yang mengatakan, (pelaku)
ini OPM. Dari mana OPM? Menurut kami, kekerasan dan perlakuan yang tidak adil
sudah lama terjadi dan belum diselesaikan,” katanya.
Oleh karena itu, dalam hal ini Presiden SBY tak boleh
hanya sekedar memberikan instruksi yang tegas saja, tetapi harus memastikan
bahwa hal tersebut dijalankan. Pidato-pidato Presiden perlu diiringi kebijakan
dan program kerja yang konkret. Apalagi, masalah di Papua bukan hanya soal
kekerasan, tapi ada juga layanan kesehatan dan pendidikan yang masih buruk dan
memprihatinkan. ”Banyak sekolah, tetapi tidak ada gurunya. Puskesmas sering
tidak ada petugas dan obat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Foker LSM Papua Septer
Manufandu mengatakan, kebijakan pembangunan melalui otonomi khusus dan tim
khusus Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
(UP4B) tidak menyelesaikan persoalan. ”Pendekatan-pendekatan yang selama
ini dilakukan harus dievaluasi kembali. Salah satunya sistem keamanan yang
berlaku di Papua, banyak aparat keamanan signifikan tapi kok warga
di Papua tidak merasa aman. Presiden harus tegas melihat ini semua, tegasnya.
Terkait hal ini, Albert mengatakan, dirinya akan
menyampaikan aspirasi dan keluhan mereka kepada Presiden SBY sesegera mungkin.
Dalam penyelesain Papua, menurutnya, dialog merupakan cara penyelesaian yang
penting dilakukan. ”Kata akhirnya adalah dialog memang penting. Saya mau minta
agar keadaan yang buruk ini diakhiri. Jangan kita bicara lagi dialog tapi tidak
ada persiapan,” imbuhnya yang mengharapkan dialog antar pemerintah pusat dan
rakyat Papua cepat terlaksana. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Aiptu Labora Sitorus Mesin ATM Perwira Polisi Papua Hingga Mabes?
Fathanah Perkenalkan Satu Lagi Istilah Korupsi
Fathanah Ajak Maharani Berhubungan Intim
Kayak Menteri Saja, Luthfi Hasan Janjikan Penambahan Kuota Impor Sapi
Difitnah Istri Selingkuh Dengan Anaknya, Syarief Hassan Polisikan Triomacan
Jangan Sampai Stasiun Tujuan Terlewat
Ahmad Fathanah Akui Curi Dokumen KPK
Gadis ABG Diperkosa Pamannya Sendiri
