Pengusaha Keberatan Kapal Perang AS Sandar di Surabaya
Senin, 14 Mei 2012 | 20:07
Kapal perang Angkatan Laut AS. [google]
[SURABAYA] Asosiasi pengusaha di Jawa
Timur keberatan dengan rencana kedatangan tiga kapal perang Amerika Serikat (AS),
yang akan bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada 28
Mei hingga 8 Juni 2012.
Pernyataan keberatan itu disampaikan
sejumlah asosiasi pengusaha di Pelabuhan Tanjung Perak, yang hadir pada
pertemuan di Surabaya, Senin (14/5), membahas rencana kedatangan kapal perang
tersebut.
Mereka antara lain Ketua DPC
Indonesia National Ship-owner Asociation (INSA) Surabaya Steven H Lasawengen,
Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Seluruh Indonesia Jatim Isdarmawan Asrikan,
Ketua DPC Khusus Organda Tanjung Perak Kody Lamahayu.
Hadir juga dalam pertemuan itu, Azis
Winanda (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Jatim) dan Bambang Sukardi
(Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia Jatim).
Mereka sepakat untuk mengirimkan
surat keberatan kepada sejumlah pihak, antara lain Menteri Pertahanan, Panglima
TNI, Menteri Koordinator Perekonomian, Kepala Staf Angkatan Laut, Pangarmatim,
DPR RI, Gubernur dan DPRD Jatim.
Menurut Ketua DPC INSA Surabaya
Steven H Lasawengen, sandarnya tiga kapal perang AS dalam waktu cukup lama,
bisa mengganggu arus bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Perak.
"Pelabuhan Tanjung Perak
Surabaya merupakan pelabuhan terbesar kedua di Indonesia sebagai penghubung
Jatim dengan kawasan Indonesia timur," katanya.
Steven menambahkan, kondisi dan
jumlah dermaga di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sangat terbatas, karena usia
pelabuhan itu sudah lebih dari satu abad.
"Selama ini waktu sandar dan labuh
kapal di Pelabuhan Tanjung Perak berkisar tiga hingga empat hari. Kalau dermaga
dipakai sandar tiga kapal perang AS selama 10 hari, jelas akan merugikan pelaku
usaha," ujarnya.
Dari perhitungan kasar, kerugian
logistik dari terhambatnya arus bongkar muat barang bisa mencapai US$ 4,5 juta
dan menimbulkan dampak biaya ekonomi tinggi.
"Setiap hari di Dermaga Jamrud
Utara ada sekitar 15 antrean kapal. Kalau tiga kapal perang itu bersandar
secara tetap selama 10 hari, bisa dibayangkan dampak kerugiannya karena antrean
akan tambah panjang," tambah Steven.
Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir
Indonesia (GPEI) Jatim Isdarmawan Asrikan menegaskan, Dermaga Jamrud merupakan
zona bisnis dan bukan untuk kepentingan militer, apalagi militer asing.
"Kapal yang bersandar di Dermaga
Jamrud Utara berkapasitas 20.000 ton dan setiap kapal mengeluarkan biaya
logistik sekitar 12.000-15.000 dolar AS perhari," ujarnya.
Ketua DPC Khusus Organda Tanjung
Perak, Kody Lamahayu, menyarankan ketiga kapal perang AS yang akan datang bisa
berlabuh di dermaga Pangkalan TNI AL Armada Timur, atau melakukan sandar-labuh
dan tidak menetap permanen dalam waktu lama.
"Apabila masih menginginkan
bersandar di Dermaga Jamrud Utara, sebisa mungkin sehabis sandar dipinggirkan
ke tengah kolam dermaga sehingga membantu kelancaran bongkar muat barang kapal
lain," katanya.
Kepala Otoritas Pelabuhan III, I
Nyoman Gde Saputra, mengakui bahwa Dermaga Jamrud biasa digunakan untuk sandar
kapal asing, karena selama ini pemerintah belum memiliki dermaga khusus untuk
kedatangan kapal perang asing.
"Biasanya memang kapal perang
negara asing sandarnya di Dermaga Jamrud Utara. Hanya saja, kali ini kapal yang
datang jumlahnya agak banyak," ujarnya ketika dikonfirmasi wartawan. [Ant/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Wah...Ternyata 10% Pengguna Facebook Bukan Manusia?
Pengembang Ngotot Membangun di Hutan Kota Bandung
Satu Lagi Teman Wanita Fathanah Kembalikan Uang Ke KPK
Belum Ada Pengumuman Pemenang Pilgub, Dua Kandidat Diminta Jaga Kedamaian Bali
Orang Miskin Dipersulit Masuk PTN di Jawa
SBY Kagum Nonton Film Kolosal ”Sang Kyai”
KPK Telusuri Aliran Dana Ke Elite PKS
Jokowi: Tak Ada Masalah Warga Pluit Pindah
