SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 3 September 2014
Pencarian Arsip

Penetapan Tersangka Siti Fadilah Tak Ganggu Penyidikan KPK
Selasa, 17 April 2012 | 15:06

Siti Fadillah Supari. [Dok.SP] Siti Fadillah Supari. [Dok.SP]

[JAKARTA] Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan penetapan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang ditangani Mabes Polri tidak akan menganggu proses penyidikan kasus dugaan korupsi yang berbeda yang ditangani KPK. Di mana, kerap melibatkan Siti sebagai saksi.

"Tidak ada hambatan apapun bagi KPK (dalam menyidik kasus korupsi di Kemenkes)," kata Juru Bicara (Jubir) KPK, Johan Budi SP ketika dihubungi, Selasa (17/4).

Sebelumnya, diberitakan bahwa Kejaksaan Agung (Kejagung) memastikan bahwa status Siti Fadilah Supari adalah sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan alat kesehatan. Dengan nilai proyek senilai Rp15,5 miliar pada tahun 2005. Di mana, tertulis dalam surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) yang diterbitkan Mabes Polri tertanggal 28 Maret 2012.

Dalam SPDP tersebut tertulis bahwa Siti diduga menyalahgunakan wewenang terkait pengadaan alkes untuk buffer stock atau kejadian luar biasa dengan metode penunjukkan langsung.

Sebelumnya, Johan Budi menyatakan bahwa mantan Menteri Kesehatan (Menkes)Siti Fadilah Supari masih berstatus sebagai saksi dalam tiga kasus dugaan korupsi pengadaan yang tengah disidik oleh lembaga ad hoc tersebut.

Menurut Johan Budi, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) tersebut pernah dihadirkan sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) pembekalan terkait flu burung tahun 2006 dengan tersangka RDU (Ratna Dewi Umar). Kedua, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan medis sisa dana pengadaan flu burung di Ditjen Pelayanan Medis tahun 2006 dengan tersangka MAH (Mulya A Hasjim). Terkahir, dalam kasus dugaan korupsi pengadan alkes untuk pengadaan pusat krisis di Depkes tahun 2007 dengan tersangka RP (Rusman Pakaya).

"Itu yang di KPK. Kalau yang di Mabes Polri dia jadi tersangka saya tidak tahu dalam kasus apa," kata Johan di Kantor KPK, Jakarta, Jumat (13/4).

Sebelumnya, mantan Menkes ini telah ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Mabes Polri. Hal tersebut diketahui dari pernyataan dua mantan bawahannya ketika bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (12/4).

Pernyataan tersebut dikatakan mantan Kepala Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan Kemenkes, Mulya Hasjmy dan mantan Ketua Panitia Pengadaan Proyek Alat Kesehatan Tahun Anggaran 2005, Hasnawaty saat bersaksi untuk terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) tahun anggaran 2005, M Naguib yang merupakan mantan direktur pemasaran salah satu anak perusahaan PT Indofarma Tbk.

“Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Siti Fadilah Supari, sekitar dua pekan lalu” kata Mulya dan Hasnawaty menjawab pertanyaan penasehat hukum terdakwa Naguib yang menanyakan kapan terakhir diperiksa di Bareskrim Mabes Polri dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (12/4).

Seperti diketahui, Mulya A Hasymi telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan untuk penanggulangan wabah flu burung di Departemen Kesehatan (Kementerian Kesehatan) tahun 2006. Mulya dianggap sebagai pihak bertanggung jawab atas pengadaan alat kesehatan yang angggarannya digelembungkan itu. Ditaksir, negara merugi Rp 52 miiliar akibat pengadaan alkes 2006 ini.

Dalam kasus tersebut, Siti Fadilah pernah dipanggil KPK sebagai saksi. Demikian juga, dalam kasus dugaan korupsi dalam penanggulangan virus flu burung pada tahun 2007 dengan tersangka mantan Kepala Pusat Penanggulangan Krisis  Depkes Rustam Syarifuddin Pakaya, mantan Menkes tersebut pernah dipanggil sebagai saksi.

Terakhir, Siti Fadilah juga kerap dipanggil sebagai saksi dalam penyidikan kasus korupsi pengadaan alat kesehatan, yakni Reagen dan Consumable untuk penanganan wabah flu burung tahun 2007 dengan tersangka Ratna Dewi Umar. (N-8)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»