SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 2 Agustus 2014
Pencarian Arsip

Pendidikan Prokids untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Senin, 30 Januari 2012 | 10:39

Chelsea (3,5 tahun) yang menderita autis ringan (anak berkebutuhan khusus) ditangani tenaga pengajar dari Prokids Gading Serpong, Tangerang. [SP/Hendro Situmorang] 

Chelsea (3,5 tahun) yang menderita autis ringan (anak berkebutuhan khusus) ditangani tenaga pengajar dari Prokids Gading Serpong, Tangerang. [SP/Hendro Situmorang]

[SERPONG] Anak-anak yang mengalami gangguan tumbuh perkembangan, keterlambatan, maupun kesulitan belajar membutuhkan terapi dan pendidikan khusus. Mereka adalah anak-anak yang terdiagnosis autisme, asperger, PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder not Otherwise Specified), ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), down syndrome, cerebral palsy, mental retarded, ADD (Attention Deficit Disorder), speech delay, dan slow learner.

Tentunya anak-anak tersebut butuh penangangan khusus. Melalui terapi, anak-anak berkebutuhan khusus ini bisa dibantu menjadi lebih baik, termasuk dalam pendidikan, seperti jalur homeschooling. Salah satunya Prokids, yang merupakan pusat terapi dan homeschooling pendidikan anak berkebutuhan khusus. Prokids hadir untuk membantu anak-anak ini yang tidak bisa beradaptasi di sekolah umum. Anak-anak tersebut akan menjalani terapi perilaku, wicara, okupasi, sensori integrasi, fisioterapi, dan pendidikan khusus. Tergantung pada kelemahan yang dideritanya.

Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam hal ini. Kepala Sekolah Prokids Gading Serpong Tangerang Lina Monica menuturkan orangtua harus mengerti betul karakter anak. Secara fisik sebenarnya normal dan tak ada cacat, hanya kematangann polanya saja yang beda serta ada gangguan, karena semua itu pusatnya ada di otak.

"Anak-anak berkebutuhan khusus seperti autism, misalnya sudah dicoba masuk ke sekolah umum, dengan harapan interaksi mereka lebih baik. Tapi nyatanya banyak masalah selama mereka disana. Karena itulah kita berikan homeschooling untuk mereka. Semua pilihan ditentukan oleh orang tua dan yang penting anak-anak ini bisa merasa senang seperti anak normal lainnya,” ungkap Lina di Serpong, baru-baru ini.

Pusat pelayanan yang berlokasi di Boulevard Gading Golf Blok DMD3 No.87, Ruko Diamond, Gading Serpong, Tangerang, anak-anak akan tetap diberikan pelajaran sekolah umumnya. Selanjutnya di rumah mereka diberi pekerjaan rumah yang harus mereka kerjakan, bahkan ijazah yang diterima juga dikeluarkan dari departemen pendidikan.

Setiap anak akan ditangani secara individual sehingga daya tangkapnya terhadap pelajaran lebih cepat.  Sebagai orangtua, sudah selayaknya selalu memerhatikan perkembangan yang ada pada bayi atau anak. Jika jeli, maka sejak usia 6 bulan, merupakan tanda-tanda perkembangan seorang bayi, normal atau ada kelainan.

”Bayi biasanya di usia 6 bulan sudah mulai bisa tersenyum. Kalau namanya dipanggil, mata si bayi  seakan-akan mencari sumber suara. Kalau reaksi seperti itu tidak ada, maka orangtua layak curiga dan waspada. Bagi anak normal, memasuki usia 7-8 bulan sudah mampu mengucapkan kata da da da, pa pa pa, atau ma ma ma. Masa ini kita sebut bubling, sedangkan pada anak autis belum tentu hal ini terjadi,” ungkap Monica.

Dikatakan, bayi normal di usia 7-8 bulan sudah bisa menggunakan telunjuk, sedangkan bayi autis sama sekali tidak bisa karena memang saraf sensorik mereka tidak berfungsi baik. Mengatasi kondisi ini, maka memasuki usia 1,5 tahun orangtua sudah harus melakukan intervensi diri terhadap anak mereka yang mengidap autis. Semakin dini intervensi yang dilakukan, akan semakin bagi bagi perkembangan si anak.

"Intervensi orangtua sangat penting, kita disini hanya membantu mengarahkan dan melakukan program untuk perkembangan sensorik si anak. Intervensi maksudnya disini, orangtua memberi contoh pada si anak dengan kata-kata dan melakukannya. Karena anak autis tidak bisa melakukan sendiri," tambahnya.

Sedangkan di pusat terapi sendiri, anak akan menerima beberapa terapi, seperti terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasi, sensori integrasi, fisioterapi dan education terapi.  Misalnya saja Chelsea yang menderita autis ringan. Anak autis bisa dibilang seolah memiliki dunia sendiri. Jika namanya dipanggil, Chelsea tidak pernah merespons. Anak  berusia 3,5 tahun itu juga tidak pernah mau berbicara atau berinteraksi dengan orang lain.

”Sejak mengikuti terapi selama 2 bulan, Chelsea mengalami perkembangan yang pesat. Chelsea ditangani oleh tim okupasi terapis. Jika dipanggil ia mulai menengok, dan mulai mengerti perintah kecil. Memang peran orangtua sangat diperlukan dalam proses ia menjadi normal seperti anak-anak pada umumnya,” kata Elsa Tanty, sebagai orangtua Chelsea. [H-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!