Pejabat Rusia Menduga Pilot Sukhoi Melakukan Kesalahan
Senin, 14 Mei 2012 | 11:30
Lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100. [google] [MOSKWA]
Kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Indonesia, akan
memupuskan upaya Kremlin untuk memulihkan keperkasaan industri penerbangan
Rusia. Hal itu akan menjadi pukulan besar jika para peneliti menemukan penyebab
kecelakaan karena kesalahan teknis.
Para
analis memperkirakan kecelakaan pesawat jet penumpang yang baru diluncurkan
itu, merupakan pukulan psikologis bagi kelahiran kembali industri penerbangan Rusia
yang ingin melepaskan reputasi buruk keselamatan penerbangan yang sebelumnya
menjadi cap negatif bagi armada domestik Uni Soviet.
“Kalau
kecelakan itu karena kesalahan pilot, maka bukan pukulan besar bagi industri
kedirgantaraan Rusia. Tapi jika itu adalah masalah teknis dari pesawat, maka
benar-benar dapat mempengaruhi persepsi pelanggan mengenai kemampuan dan
keamanan pesawat Sukhoi yang dibanggakan memiliki teknologi canggih," kata
Tom Chruszcz, direktur lembaga pemeringkat Fitch, seperti dikutip Reuters,
Senin (14/5).
Seperti
diketahui, Presiden Vladimir Putin, yang baru memulai masa jabatan menggantikan
Dmitry Medvedev melanjutkan perjuangan menghidupkan kembali sektor
kedirgantaraan untuk menunjukkan kekuatan industri pesawat superjet Moskow kepada
luar negeri dan membantu proyek otoritas Kremlin kepada pemilih.
Itu
sebabnya, pesawat superjet rusia dirancang oleh para pembuat pesawat perang
terbesar Uni Soviet dengan mengubah jumlah kursi dari 78 ke 98 untuk permintaan
pasar global dan secara historis menghindar dari jet buatan Rusia untuk alasan
keamanan.
Perusahaan
lain, yakni Sukhoi Irkut, juga merupakan bagian dari perusahaan pesawat raksasa
negara yang ditempa Putin untuk memproduksi superjet dengan mengembangkan
pesawat 150-kursi disebut MS-21 untuk menyaingi Airbus dan Boeing jet.
”Jika
ini adalah kecelakaan akibat kurangnya kehati-hatian atau faktor keselamatan
penerbangan, tentu saja sangat buruk untuk citra industri penerbangan Rusia di
dunia,” kata Boris Rybak, direktur Infomost.
Dia
mengungkapkan, tak ada upaya yang lebih besar yang dilakukan pemerintah Rusia
untuk mendorong Moskow mengembalikan kebanggaan industri penerbangan nasional,
selain melalui proyek Sukhoi Superjet yang pabriknya diresmikan pada 2007.
Pesawat
superjet dipulihkan baik secara teknis maupun komersial dan meninggalkan kesan
pesawat jet tempur. Setelah tertutup untuk umum selama pengerjaan proyek
superjet, sebuah museum mosaik dan mesin berat vintage kembali dibuka untuk
memungkinkan investor dan media asing untuk menyaksikan peluncuran tersebut
Superjet itu.
Namun
masa depan industri penerbangan Rusia kini terletak di tangan penyidik
kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak. Pihak Moskow berharap
kecelakaan itu tidak merugikan perusahaan atau industri dirgantara.
Seorang
pejabat senior Rusia telah menyampaikan bahwa kecelakaan tersebut kemungkinan
disebabkan kesalahan pilot bukan kegagalan teknis, namun para analis
keselamatan memperingatkan bahwa terlalu dini mengatakan penyebab kecelakaan
itu.
Potensi
kehilangan prestise industri penerbangan akibat kecelakaan pesawat pernah
dialami Moskow 77 tahun lalu ketika pesawat bermesin rakasa Uni Soviet Tupolev,
bernama Maxim Gorky, mengalami
kecelakaan saat penerbangan demonstrasi. Saat itu, kesalahan dijatuhkan
kepada pilot, tetapi penyebab kecelakaan yang sebenarnya tak pernah
dipublikasikan.
Para
analis juga mengatakan kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet tak hanya mengancam
reputasi industri dirgantara Rusia, tetapi juga masa depan sejumlah perusahaan
penerbangan dan perusahaan investasi Barat yang terlibat dalam proyek pesawat
superjet 100.
Boeing
bertindak sebagai konsultan pada proyek Sukhoi Superjet 100, termasuk untuk
penerbangan dan pelatihan pemeliharaan awak. Namun peran Boeing terutama
dilihat secara simbolis sebagai hubungan kerja sama dengan kelompok AS yang
ingin memanfaatkan persediaan titanium Rusia untuk generasi berikutnya dari
pesawat jet.
Sementara
perusahaan Perancis dan Italia juga berinvestasi dan telah menjadi kunci dalam
upaya pemasaran Sukhoi. Alenia Aeronautica, salah satu unit dari Finmeccanica
Italia, membeli 25 persen dari divisi sipil Sukhoi untuk mendukung proyek itu.
Selain bertanggung jawab untuk pemasaran global perusahaan itu juga memberi
dukungan purna jual.
"Industri
kedirgantaraan Rusia runtuh setelah Perang Dingin, dan Rusia kembali bangkit
dengan cara mereka untuk dapat diterima pasar komersial dengan meningkatkan
standar, prosedur manufaktur dan dukungan produk. Namun kecelakaan ini jelas
suatu emunduran dan itu sangat bergantung pada apa yang ditemukan dalam
penyelidikan. Ada banyak prediksi, kita belum tahu," ujar analis Richard
Aboulafia dari Grup Teal di Virginia.
Sukhoi
telah menyatakan harapan bahwa investasi dan pengembangan teknologi dari
pemasok Barat akan menarik maskapai penerbangan negara-negara Barat lainnya
karena harga yang bersaing sekitar $ 30 juta per pesawat. [J-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilkada Gubernur NTT Putaran Kedua Dimulai
KPU Kabupaten Gelar Pleno Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Hypermart Kedua di Kota Ambon Diresmikan
Obama Setujui Peraturan Pesawat Nirawak
Inilah 45 Perempuan Penerima Duit Fathanah
