SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Mei 2013
Pencarian Arsip

Pejabat Rusia Menduga Pilot Sukhoi Melakukan Kesalahan
Senin, 14 Mei 2012 | 11:30

Lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100. [google] Lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100. [google]

[MOSKWA] Kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Indonesia, akan memupuskan upaya Kremlin untuk memulihkan keperkasaan industri penerbangan Rusia. Hal itu akan menjadi pukulan besar jika para peneliti menemukan penyebab kecelakaan karena kesalahan teknis.  

Para analis memperkirakan kecelakaan pesawat jet penumpang yang baru diluncurkan itu, merupakan pukulan psikologis bagi kelahiran kembali industri penerbangan Rusia yang ingin melepaskan reputasi buruk keselamatan penerbangan yang sebelumnya menjadi cap negatif bagi armada domestik Uni Soviet.  

“Kalau kecelakan itu karena kesalahan pilot, maka bukan pukulan besar bagi industri kedirgantaraan Rusia. Tapi jika itu adalah masalah teknis dari pesawat, maka benar-benar dapat mempengaruhi persepsi pelanggan mengenai kemampuan dan keamanan pesawat Sukhoi yang dibanggakan memiliki teknologi canggih," kata Tom Chruszcz, direktur lembaga pemeringkat Fitch, seperti dikutip Reuters, Senin (14/5).

Seperti diketahui, Presiden Vladimir Putin, yang baru memulai masa jabatan menggantikan Dmitry Medvedev melanjutkan perjuangan menghidupkan kembali sektor kedirgantaraan untuk menunjukkan kekuatan industri pesawat superjet Moskow kepada luar negeri dan membantu proyek otoritas Kremlin kepada pemilih.  

Itu sebabnya, pesawat superjet rusia dirancang oleh para pembuat pesawat perang terbesar Uni Soviet dengan mengubah jumlah kursi dari 78 ke 98 untuk permintaan pasar global dan secara historis menghindar dari jet buatan Rusia untuk alasan keamanan.

Perusahaan lain, yakni Sukhoi Irkut, juga merupakan bagian dari perusahaan pesawat raksasa negara yang ditempa Putin untuk memproduksi superjet dengan mengembangkan pesawat 150-kursi disebut MS-21 untuk menyaingi Airbus dan Boeing jet.

”Jika ini adalah kecelakaan akibat kurangnya kehati-hatian atau faktor keselamatan penerbangan, tentu saja sangat buruk untuk citra industri penerbangan Rusia di dunia,” kata Boris Rybak, direktur Infomost.   Dia mengungkapkan, tak ada upaya yang lebih besar yang dilakukan pemerintah Rusia untuk mendorong Moskow mengembalikan kebanggaan industri penerbangan nasional, selain melalui proyek Sukhoi Superjet yang pabriknya diresmikan pada 2007.

Pesawat superjet dipulihkan baik secara teknis maupun komersial dan meninggalkan kesan pesawat jet tempur. Setelah tertutup untuk umum selama pengerjaan proyek superjet, sebuah museum mosaik dan mesin berat vintage kembali dibuka untuk memungkinkan investor dan media asing untuk menyaksikan peluncuran tersebut Superjet itu.

Namun masa depan industri penerbangan Rusia kini terletak di tangan penyidik ​​kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak. Pihak Moskow berharap kecelakaan itu tidak merugikan perusahaan atau industri dirgantara.

Seorang pejabat senior Rusia telah menyampaikan bahwa kecelakaan tersebut kemungkinan disebabkan kesalahan pilot bukan kegagalan teknis, namun para analis keselamatan memperingatkan bahwa terlalu dini mengatakan penyebab kecelakaan itu.  

Potensi kehilangan prestise industri penerbangan akibat kecelakaan pesawat pernah dialami Moskow 77 tahun lalu ketika pesawat bermesin rakasa Uni Soviet Tupolev, bernama Maxim Gorky, mengalami  kecelakaan saat penerbangan demonstrasi. Saat itu, kesalahan dijatuhkan kepada pilot, tetapi penyebab kecelakaan yang sebenarnya tak pernah dipublikasikan.   Para analis juga mengatakan kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet tak hanya mengancam reputasi industri dirgantara Rusia, tetapi juga masa depan sejumlah perusahaan penerbangan dan perusahaan investasi Barat yang terlibat dalam proyek pesawat superjet 100.

Boeing bertindak sebagai konsultan pada proyek Sukhoi Superjet 100, termasuk untuk penerbangan dan pelatihan pemeliharaan awak. Namun peran Boeing terutama dilihat secara simbolis sebagai hubungan kerja sama dengan kelompok AS yang ingin memanfaatkan persediaan titanium Rusia untuk generasi berikutnya dari pesawat jet.

Sementara perusahaan Perancis dan Italia juga berinvestasi dan telah menjadi kunci dalam upaya pemasaran Sukhoi. Alenia Aeronautica, salah satu unit dari Finmeccanica Italia, membeli 25 persen dari divisi sipil Sukhoi untuk mendukung proyek itu. Selain bertanggung jawab untuk pemasaran global perusahaan itu juga memberi dukungan purna jual.

"Industri kedirgantaraan Rusia runtuh setelah Perang Dingin, dan Rusia kembali bangkit dengan cara mereka untuk dapat diterima pasar komersial dengan meningkatkan standar, prosedur manufaktur dan dukungan produk. Namun kecelakaan ini jelas suatu emunduran dan itu sangat bergantung pada apa yang ditemukan dalam penyelidikan. Ada banyak prediksi, kita belum tahu," ujar analis Richard Aboulafia dari Grup Teal di Virginia.

Sukhoi telah menyatakan harapan bahwa investasi dan pengembangan teknologi dari pemasok Barat akan menarik maskapai penerbangan negara-negara Barat lainnya karena harga yang bersaing sekitar $ 30 juta per pesawat. [J-9]

 




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN