SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 3 September 2014
Pencarian Arsip

NTT dan Australia Mampu Kerja Sama Bendung Imigran Gelap
Kamis, 13 September 2012 | 9:42

Ilustrasi imigran gelap. [Antara] Ilustrasi imigran gelap. [Antara]

[KUPANG] Melihat fenomena yang terjadi para imigran gelap asal Timur Tengah dan termasuk Afghanistan, Pakistan menjadikan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tempat transip idaman untuk mencari suaka politik ke Australia, sebab  menurut para imigran, Australia merupakan sebuah tempat seperti surga bagi kebebasan dan harapan imigran.  

NTT yang berbatasan langsung dengan Australia yang sangat trategis dan mudah dijangkau dengan kapal nelayan menjadikan tergiur dan berlomba-lomba para imigran gelap mengadukan nasibnya di negara Kanguru itu dengan tidak memikirkan keselamatan walaupun maut mengancam jiwa di laut yang ganas itu.

NTT Tidak hanya karena letaknya yang trategis dan berbatasan dengan Australia sehingga menyebabkan NTT menjadi tempat terfavorit. Tetapi NTT juga menjadi surga bagi dunia kegelapan yang memang dibutuhkan para imigran gelap.  

Masalah tersebut merupakan problem yang dihadapi masyarakat NTT sebagai jalur idaman dengan ketidak tahuan para nelayan yang meloloskan imigran gelap ke Australia dengan imbalan uang sangat menggiurkan. Persoalan tersebut menjadi rawan justru muncul berbagai isu bahwa oknum-oknum di NTT sudah mengetahui pintu trategis seperti Pulau Rote, Sabu, Sumba dan Kupang, namun sengaja tidak mengetahui masalah tersebut. Sehingga masyarakat menilai wilayah-wilayah  tersebut sebagai bagian dari organized crime.  

NTT menjadi bagian jaringan penyelundupan manusia karena ulah segelintir oknum yang melihat ada peluang mengeruk keuntungan pribadi. Hamper setiap tahun banyak imigran gelap yang ditangkap polisi perairan Indonesia maupun Australia, termasuk mereka yang selamat dari hantaman badai dan gelombang.

Saat ini kurang lebih 900 imigran gelap masih ditampung di rumah - rumah tahanan di NTT. Yang mengejutkan 58 imigran yang ditangkap di perairan Sumba awal Juni dan ditampung di bekas rudenim Kupang, 11 orang di antaranya kabur dan hingga saat belum bisa ditangkap sepertinya sudah berada di Australia.  

Berbicara tentang organized crime seperti penyelundupan manusia, maka penangkapan, deportasi, dan lolosnya imigran dari rumah tahanan menjadi spekulasi tentang kebetulan dan kesengajaan oleh oknum-oknum tertentu. Karena  semakin banyak imigran yang berkeliaran menjadi sebuah sumber rezeki baru. Imigran dengan leluasa mengatur sesuai dengan kebutuhan kapan ditangkap dan kapan dibiarkan berangkat ke Australia.  

Wilayah  Provinsi NTT sebagai jalur idaman yang berisiko maut ini tidak semata diterima sebagai kesulitan. Tetapi Pememerintah provinsi NTT sudah saatnya bisa meningkatkan posisi tawar baik kepada pemerintah pusat di Jakarta maupun pemerintah Australia dalam melakukan pengawasan secara bersama-sama.  

Pemerintah Pusat di Jakarta, melalui NTT di Kupang bisa menekan kehadiran para imigran dengan peningkatan fasilitas patroli laut dan udara serta bekerjasama dengan Australia. Selama ini sudah banyak kerjasama Indonesia – Australia namun didalam implementasinya tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan.  

Untuk menekan para imigran gelap tersebut perlu sebuah komitmen kerja sama dengan kompensasi menguntungkan kedua Negara itu dengan satu tekad serta satu tujuan untuk mencegah lolosnya imigran illegal ke Australia seperti yang terjadi selama ini.  

Siapa yang tidak suka mendapat uang dalam jumlah banyak dalam waktu sekejab. Sebab  sesungguhnya NTT sebagai jalur idaman imigran gelap dan pemerintah Provinsi NTT sudah saatnya menangkap peluang itu untuk melakukan kerjasama dengan pemerintah Australia, sehigga memberi keuntungan bagi kedua Negara itu. (YOS).        




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»