Misi Perdamaian Suriah di Pundak Brahimi
Sabtu, 18 Agustus 2012 | 8:42
Lakhdar Brahimi. [Reuters] [NEW YORK] Setelah
pengunduran diri Kofi Annan sebagai utusan khusus bagi konflik Suriah, PBB
menunjuk Lakhdar Brahimi, diplomat kawakan dari Aljazair sebagai pengganti
Annan.
Lakhdar
Brahimi berada di Irak, Sudan, Haiti, tempat-tempat krisis selama sepuluh tahun
terakhir ini. Ia adalah juru damai, mediator PBB atau kadang-kadang bagi Liga
Arab.
Dia dianggap sebagai salah satu diplomat paling berpengalaman untuk
urusan krisis.
Kali ini ia
ditugaskan sebagai utusan khusus PBB bagi Suriah dan Liga Arab. Brahimi
diharapkan berhasil menciptakan perdamaian di Suriah.
"Kofi
Annan gagal karena pemegang kekuasaan terkait tidak ingin berkontribusi untuk
penyelesaian damai di Suriah," kata Thorsten Benner dari "Global
Public Policy Institute" (GPPI) di Berlin, Sabtu (18/8).
Baik
pemerintah Suriah di bawah Presiden Bashar al Assad maupun pihak perlawanan
tidak meminati penyelesaian damai dalam konflik Suriah. "Dan tentunya juga
pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB, terutama Rusia dan Cina yang menghambat
penyelesaian."
Benner
berpendapat, kondisi ini merupakan awal yang buruk bagi seorang mediator baru.
"Tetapi utusan khusus baru ini juga dapat berkata: salah seorang diplomat
yang paling berpengalaman dan pemenang Nobel Perdamaian, Kofi Annan, telah gagal.
Saya melaksanakan mandat ini tanpa ilusi dan nantinya hanya dapat mengambil
segi positif."
Dengan usia 78 tahun, Brahimi tampaknya tidak harus
mempertaruhkan apa pun juga.
Sementara
pakar Timur Tengah Michael Lüders berpendapat lain dan mengutip seorang
jurnalis Libanon: Brahimi selalu ditunjuk bila secara politik tidak ada lagi
jalan keluar.
Lüders juga
yakin bahwa misi Brahimi bukanlah kompromi perdamaian: "Terutama negara-negara barat, tetapi
juga Arab Saudi, Qatar dan Turki ingin Bashar al Assad dijatuhkan."
Untuk itu,
Brahimi merupakan petugas ideal, karena ia tidak akan menentang hal ini.
Sedangkan Kofi Annan secara serius hendak melakukan mediasi antara pemerintah
dan oposisi.
"Brahimi
adalah seorang figur yang sangat jujur, ramah, terbuka dan analitis," kata Lüders. "Tapi ia tahu dengan pasti
bahwa peluang-peluang terbatas bila yang diinginkan adalah perubahan
politik."
Tidak boleh
dilupakan bahwa Brahimi berkarir di Aljazair, sebuah negara yang ditandai oleh
diktator militer dan perang saudara. Yang pasti, sifat-sifat baik yang
diperlukan dalam misi rumit Suriah, dikatakan dimiliki Brahimi.
Seperti yang
dikemukakan Thorsten Benner, diplomat ini dianggap sebagai pakar yang sangat
berpengalaman dalam hubungan internasional.
Rekan-rekannya
menyebut pria beranak tiga itu sebagai orang yang komunikatif dan sopan, namun
mampu bersikap tegas.
Brahimi menguasai bahasa Inggris, Prancis, dan Arab serta
dihormati semua pihak. Tetapi hampir semua hal ini juga dimiliki Kofi Annan
yang meskipun demikian telah angkat tangan.
Tanah air
Brahimi adalah negara Arab.
Ia juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan
pemerintah dan kerajaan. Menantu Brahimi adalah pangeran Yordania, saudara tiri
Raja Abdullah II. "Ini merupakan berkat tetapi juga kutukan," ujar
Thorsten Benner dari GPPI di Berlin.
"Di
satu sisi, tentu menolong jika bisa berbicara bahasa Arab dan punya jaringan
kontak yang sangat baik di wilayah itu." "Di sisi lain sepanjang
karirnya Brahimi tentu telah menjengkelkan pihak tertentu."
Namun,
misi-misi Brahimi sesungguhnya jarang benar-benar berhasil. Demikian menurut
pengkritiknya. Misalnya, pada tahun 2001 ia mengundang pihak yang bertikai di
Afghanistan pada konferensi di Petersberg, Bonn, tetapi ia tidak mengundang
Taliban yang punya pengaruh besar.
Benner
mengatakan: "Orang tidak dapat mengatakan bahwa Brahimi berhasil atau
gagal dalam menjalankan mandatnya, karena Afghanistan bukan negara yang makmur
dan sejahtera. Ini bukan kesalahan Brahimi."
Di PBB
Brahimi dihormati sebagai otoritas terkait "peacekeeping". Yang dinamakan
Brahimi Report dari tahun 2000 masih dianggap sebagai dokumen kunci bagi
misi-misi pasukan helm biru PBB. Namun, kesimpulan saat itu: Upaya-upaya PBB
dinilai sebagai sangat mulia, tetapi dampaknya sering sangat kecil.
Pakar Timur
Tengah Lüders menganggap bahwa Brahimi tidak dapat lagi menggerakkan pihak
terkait. "Waktu untuk penyelesaian damai sudah berlalu.
Keputusan-keputusan di Suriah kini diambil secara militer, dan Brahimi
mengetahui hal itu. Di sana ia sudah pasti tidak akan menggerakkan apa pun
juga." [DW/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Jokowi: Tak Ada Masalah Warga Pluit Pindah
Ini Dia Kostum Baru Barcelona untuk Musim Depan
Pilkada Gubernur NTT Putaran Kedua Dimulai
KPU Kabupaten Gelar Pleno Pilgub Bali
Hatta Rajasa Terima “Reformasi Award” Dari Prodem
Pilgub NTT Putaran Kedua, Frenly Yakin Menang
Di Mata Golkar, Menkeu Chatib Basri Itu Neolib
AS Akui Pesawatnya Langgar Wilayah Indonesia
