Pertikaian KPK-Polisi
Menkumham: Presiden Tidak Perlu Turun Tangan
Selasa, 7 Agustus 2012 | 20:19
Amir Syamsuddin [google] [JAKARTA]
Dalam penanganan kasus korupsi simulator SIM di Korlantas, Menkumham Amir
Syamsuddin menilai, belum terjadi suatu situasi yang menyebabkan perlunya
peranan dari seorang Kepala Negara. Pasalnya, KPK dan Polri masih membuka diri
dalam penuntasan kasus ini.
"Masa
presiden lagi? Akan sangat lebih bagus jika menyelesaikan sendiri. Bahwa
peranan dan fungsi mereka (KPK dan Polri) sangat diperlukan oleh masyarakat
pada saat ini," ujarnya di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (7/8).
Seperti
diketahui, banyak kalangan menilai bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) tidak tegas dalam penuntasan kasus yang melibatkan petinggi Polri ini.
Amir pun
menegaskan, tidak ingin mengulangi apa yang dikatakannya terkait kasus ini. Dia
pun merujuk opini yang ditulis Profesor Oemar Seno Adji di harian Suara Pembaruan sebagai bahan kajian
yang sangat bagus untuk menyelesaikan kasus ini.
Meski
begitu, dia mengharapkan agar kedua penegak hukum ini bisa saling bersinergi
dan tidak berada pada posisi yang saling menonjolkan diri. Pihak luar pun,
diharapkannya tidak memanfaatkan kasus ini. "Jangan terlalu KPK-Polri itu
dihadap-hadapkan. Tolong," ucapnya.
Terkait
imbauan yang meminta agar kasus ini dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK),
menurutnya boleh saja, namun hal itu harus mempertimbangkan rasa keadilan
masyarakat.
"Boleh saja dibawa ke MK sepanjang ada argumentasi yang baik,
yang bisa kemudian menghapus dugaan-dugaan awal bahwa upaya ini adalah untuk
menghalangi KPK dan dianggap publik sudah sungguh-sungguh berada di garis depan
melawan korupsi," imbuhnya.
Menjawab
pandangan publik yang menginginkan KPK menangani kasus ini, Amir menilai
pandangan umum itu tidaklah keliru.
Bahkan, akan lebih bagus jika ada ahli
hukum yang bisa mengarahkannya. Dirinya pun mengatakan, meski MoU posisinya
lebih rendah dari undang-undang, namun dengan adanya MoU itu peluang KPK dan polri
untuk bersinergi akan lebih besar lagi.
Di tempat
yang sama, Menko Polhukam Djoko Suyanto mengutarakan pendapat para ahli hukum
harus dihormati dan jangan dipersengketakan. Sebab, yang lebih penting dalam
kasus ini adalah adanya indikasi korupsi dari KPK dan Polri.
“Jangan
dilihat dari angle persengketaan dan perselisihan, jangan lupakan masalah
pokoknya. Kalau semua orang sibuk disitu, korupsinya malah terlupakan, malah
sibuk pengadilan-pengadilan di antara kedua lembaga ini saja. Siapapun yang
akan menangani, jika dia tidak serius, transparan, dan terbuka, maka keliru
sedikit saja pasti dihujat orang banyak,” tegas dia.
Adapun,
Presiden SBY menurutnya tengah menunggu hasil laporan dari pertemuan Polri dan
KPK. Djoko meminta semua pihak untuk sabar menunggu hasil pertemuan antara
pimpinan KPK dengan Kapolri yang dijadwalkan dalam waktu dekat akan
diadakan.
Soal desakan agar Polri mundur dalam penyidikan ini, dia mengatakan
bahwa presiden mengutus dirinya untuk menjadi mediasi dalam kasus tersebut.
Dirinya pun
optimitis kasus perebutan penanganan kasus simulator SIM di Korlantas itu akan
menemukan jalan keluar. Sebab, kasus ini sudah menjadi sorotan publik.
"Adalah (jalan keluar). Ada pintu masuk, pasti ada pintu keluar. Jangan
terlalu pesimis, jangan terlalu fokus pada persengketaannya. Fokus pada
masalahnya dulu," ungkapnya.
Terkait
pertemuan antara KPK dan Polri yang dulu tidak begitu memuaskan hasilnya, Djoko
menampik pandangan itu, sebab masing-masing memiliki pandangan yang berbeda.
“Kalau pertemuan yang lalu persepsinya
berbeda, saran saya sekarang dirumuskan. Apa pertemuannya, ditulis, tanda
tangan berdua, jadi keluar dari gedung, sampaikan ke publik sama-sama dengan
sumber yang sama, tulisan yang sama. Jadi, tidak interpretasinya masing-masing,”
ujarnya.
Sementara
terkait pertemuan Kapolri dengan para penasihatnya kemarin di Perguruan Tinggi
Ilmu Kepolisian (PTIK), Djoko menilai hal itu sah-sah saja. "Apa tidak
boleh mengadakan pertemuan. lau KPK mengadakan pertemuan tidak boleh juga. Jadi
jangan selalu diambil negatif," tutur dia. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilkada Gubernur NTT Putaran Kedua Dimulai
KPU Kabupaten Gelar Pleno Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Hypermart Kedua di Kota Ambon Diresmikan
Obama Setujui Peraturan Pesawat Nirawak
Gadis Remaja Diperkosa 5 Anggota Geng Motor
Inilah 45 Perempuan Penerima Duit Fathanah
Uskup Agung Semarang Keberatan Fotonya Digunakan Kampanye Pasangan Hadi-Don
