SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip

Menjadi Negara Maju, RI Mesti Kembangkan Inovasi Teknologi
Kamis, 23 Mei 2013 | 11:21

Pengusaha Chairul Tanjung. [Dok.SP] Pengusaha Chairul Tanjung. [Dok.SP]


[SEOUL] Indonesia harus serius mengembangkan inovasi di bidang teknologi dan sains agar  menjadi negara maju seperti  Korea Selatan (Korsel). Kegagalan mengembangkan  sektor ini bisa membuat Indonesia terus terperangkap sebagai negara berpendapatan menengah (middle income trap).

“Inovasi  teknologi dan sains adalah satu-satunya cara agar kita bisa berhasil menjadi negara maju,” kata Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung kepada The Jakarta Globe, di Seoul, Korsel, Rabu (22/5). Chairul memimpin delegasi Indonesia yang berjumlah 16 orang untuk mempelajari keberhasilan Korsel  menjadi negara maju, termasuk bagaimana Negeri Ginseng  itu berhasil lolos dari middle income trap.

Delegasi yang terdiri atas pengusaha nasional dan ekonom itu di antaranya Raden Pardede, Aviliani, Didik J Rachbini, Hermanto Siregar, James T Riady, Peter F Gontha, Teddy P Rachmat, dan Chris Kanter. Kedatangan mereka disambut Dubes RI untuk Korsel John Prasetyo. Chairul juga akan menyampaikan surat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Korsel Park Geun-hye, Sabtu (25/5).

Menurut Chairul Tanjung, Korsel mampu bertransformasi dari negara berbasis pertanian menjadi negara industri, kemudian menjadi negara yang mumpuni di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bahkan, Korsel kini berkembang menjadi salah satu negara terdepan di bidang produk-produk eletronik dan industri berteknologi tinggi. Keberhasilan tersebut dicapai Korsel hanya dalam dua dekade. “Itu berkat komitmen yang kuat dari pemerintahnya dalam mengembangkan teknologi dan sains,” ujar Chairul.

Di sisi lain, kata Chairul Tanjung, Indonesia yang berharap bisa mengikuti jejak Korsel masih menjadi negara berpendapatan menengah dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar US$ 1 triliun. Namun, saat konsumsi terus tumbuh, ada kekhawatiran di kalangan pemerintah dan pebisnis bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia tidak cukup berinvestasi di bidang inovasi dan teknologi.

Jika hal ini terus dibiarkan, perekonomian Indonesia bisa terperangkap terus menjadi negara berpendapatan menengah yang hanya menarik investasi dari kalangan industri dan pabrikan segmen bawah. “Investasi seperti itu  tidak akan mampu meningkatkan posisi Indonesia menjadi negara maju,” papar Chairul.

Menurut kalangan ekonom, sekitar 95% negara berpendapatan menengah terperangkap dalam apa yang disebut sebagai middle income trap. Indonesia bisa pula terjebak dalam perangkap tersebut jika tidak segera mengembangkan inovasi di bidang teknologi dan sains.

Selain berdiskusi, delegasi RI akan mengunjungi perusahaan-perusahaan ternama Korsel, seperti Samsung, Hana Bank, LG, dan Korea Telecom. Delegasi RI juga berencana  mengunjungi Kota Sejong yang tengah dikembangkan menjadi pusat riset, pendidikan, dan industri berteknologi tinggi.

Beberapa dekade silam, Korsel tercatat sebagai negara ‘kebanyakan’ yang masih disejajarkan dengan Indonesia. Namun, belakangan, perekonomian Korsel maju pesat. Saat ini, pendapatan per kapita negara berpenduduk sekitar 50 juta jiwa itu mencapai US$ 32.000, dengan angka kemiskinan absolut 2% dan angka pengangguran 31,1%. 

Kontribusi ICT
Chairul Tanjung  mengungkapkan, saat ini sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau information and communication technology (ICT) menyumbang 12%  terhadap produk domestik bruto (PDB) Korsel, yang senilai US$ 1,2 triliun. Sedangkan kontribusi TIK di Indonesia hanya 0,5% terhadap PDB.

“TIK adalah konvergensi informasi, komunikasi, dan teknologi. Sebagai sebuah bangsa, kita harus berinvestasi lebih banyak di bidang teknologi dan jaringan telekomunikasi 4G,”  ujar dia.

Dia mencontohkan, Korsel telah menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi secara gratis untuk segenap rakyatnya serta perusahaan-perusahaan, sehingga membantu meningkatkan perdagangan dan mendorong lahirnya industri-industri baru. Sebaliknya,  Indonesia masih menjadi negara dengan biaya koneksi internet termahal di dunia. 

Dengan biaya koneksi internet yang mahal, rata-rata orang Indonesia, termasuk para petani, semakin terpinggirkan dan tidak punya akses kepada perekonomian global. “Pola pikir pemerintah harus berubah sepenuhnya kalau kita ingin menghindari middle income trap,” tandas Chairul. [TJG]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»