Mengapa Pemerintah Ngotot Membeli Tank Tua Leopard?
Sabtu, 4 Februari 2012 | 12:40
Tank Leopard [google] Harian Belanda, De
Pers pada Rabu (1/2), menulis, “Pemerintah Belanda sudah kebelet ingin
menjual alat utama sistem pertahanan (alutsista) tua mereka. Cuma, ketika ada
negara yang bereaksi dan berniat membeli tank-tank, Parlemen Belanda langsung menggeleng-gelengkan
kepalanya.”
Pemerintahan Perdana Menteri Mark Rutte ingin menambah kas
negara dari penjualan 119 tank tipe Leopard. Calon pembeli sudah bermunculan,
tapi perkaranya tidak sesederhana itu. Lihat saja kasus Indonesia.
Perdebatan seru mengenai penjualan mencuat, baik di negara pemakan keju itu maupun
di negara Indonesia.
Radio Nederland (RN) melaporkan, Parlemen Belanda ingin tahu apa rencana Indonesia,
negara kepulauan yang memiliki ratusan hektare hutan, terhadap satu tank yang
beratnya setara dengan lima puluh mobil Golfs Volkswagen.
Lebih-lebih anggota parlemen khawatir dengan isu hak asasi
manusia misalnya, dengan rakyat Papua, atau penduduk asli Papua Nugini.
Menurut organisasi hak-hak asasi manusia, ada demonstran di
Papua, yang harus mendekam 20 tahun di tahanan dengan dalih mengacu pada
undang-undang lama warisan kolonial Belanda.
Bagi Partai Sosialis (SP), Partai Buruh (PvdA), Partai Kiri
Hijau (GroenLinks), dan Partai Kristen
Sosial Konservatif (ChristenUnie), semua fakta di atas sudah cukup menjadi
alasan untuk urung melepaskan tank Belanda ke Indonesia.
Dipermalukan
Tapi, harian De Pers lagi-lagi menulis, ”Kemana rongsokan tank Belanda ini harus dijual?”
Selama bertahun-tahun, Belanda tidak pernah keberatan
memasok tank ke Arab Saudi dan kendaraan lapis baja ke Mesir dan Bahrain.
Tetapi sekarang banyak anggota parlemen keberatan. Bahkan untuk melepaskannya
ke negara seperti Yaman dan Turkmenistan saja, mereka masih harus pikir-pikir dulu.
Mengapa Parlemen Belanda sangat berhati-hati menyetujui
penjualan tank dan peralatan militernya ke luar negeri? Jawabannya sangat
sederhana.
Pada 14 Februari 2011, Belanda
dipermalukan oleh tayangan televisi tentang pemberontakan di Arab, yang memperlihatkan munculnya kendaraan perang yang
dicurigai mirip dengan alat perang tua Belanda.
Melihat tayangan itu, anggota parlemen dari GroenLinks,
Arjan El Fassed dan Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal akhirnya mengakui bahwa
Belanda lebih dari sekali telah melepaskan surplus pertahanannya ke Bahrain.
"Ini termasuk kendaraan lapis baja (panser) 35 M-113
dan 25 YPR," kata menteri dari Partai Liberal Konservatif (VVD) itu.
Juga di Mesir, pada insiden Maspero bulan Oktober 2011,
dimana 27 orang tewas. ”Banyak panser yang digunakan," kata anggota dewan
Joël Voordewind dari ChristenUnie. "Besar kemungkinan panser-panser bekas
kami juga ada di antaranya."
Belanda rupanya pemasok besar kendaraan lapis baja ke
negara-negara Timur Tengah. Ke Mesir misalnya, antara tahun 1996 dan 2006 sudah
lebih dari seribu panser yang terjual.
Bahrain
dan Mesir bersama-sama menyumbang kas negara Belanda sejumlah 200 juta euro.
Sekarang Indonesia
juga berani membayar jumlah yang sama untuk tank-tank Leopard A26. Jumlah yang
sulit ditampik oleh Menteri Pertahanan Hans Hillen, padahal kementeriannya
harus menghemat 1 miliar euro.
Anggota dewan Martijn van Dam asal PvdA, yang sebelumnya
gagal menghentikan rencana pengiriman tank ke Mesir berkomentar, "Negara
yang sudah jelas-jelas ingin membeli tank, malah dilarang. Lihat dong
negara-negara yang telah kita pasok sebelumnya, sebanyak apa demokrasi terjadi
di sana?"
Reaksi penolakan pembelian tank Leopard asal Belanda itu
juga disampaikan anggota parlemen di Indonesia. Komisi I DPR sampai saat ini belum memberikan
sikap resmi atas rencana pembelian tank Leopard ini.
Komisi bidang pertahanan ini akan melakukan pertemuan
dengan Kementerian Pertahanan dan jajaran TNI Angkatan Darat.
“Komisi I DPR RI belum bersikap
resmi soal rencana TNI AD beli tank Leopard. Dalam waktu dekat akan digelar
rapat dengan Kemhan dan Mabes bahas rencana pembelian alutsista dari luar
negeri,” ujar Mahfudz baru-baru ini.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKB Lily
Chotijah Wahid mengatakan, seluruh
anggota Komisi I DPR RI menolak pembelian tank bekas Belanda oleh TNI AD. Alasannya, tank
tersebut tidak cocok dengan medan yang dibutuhkan oleh TNI AD.
“Komisi I DPR RI hampir semua menolak pembelian tank ini, speknya tidak cocok untuk medan di Indonesia,”
ujar Lily Wahid.
Kalau mayoritas Komisi I DPR RI menolak
mendatangkan tank tua dari Belanda, mengapa pemerintah ngotot membelinya? Apa
ada udang di balik batu?
Yang pasti, sikap keras pemerintah membeli tank
Leopard, menimbulkan kecurigaan, mengail di air keruh, mencari keuntungan dari
sebuah besi tua.
Mengapa kita tidak mengembangkan industri pertahanan
sendiri, membeli tank dari PT Pindad yang selama ini justru dipakai oleh
beberapa negara tetangga?
Ironis memang negara ini, negara lain boleh mengacung
jempol atas produksi peralatan militer Indonesia,
tetapi pemerintahnya sendiri malah tidak pernah mengakuinya. Welelehhhhhh!!!!!
[RN/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Ada Oknum Komisi I DPR RI Yang Nikmati Uang Sukhoi Yang Jatuh di Gunung Salak
Kotak Hitam Pesawat Sukhoi Ditemukan dalam Kondisi Baik
Fahri: KPK Gagal Berantas Korupsi Sistemik
Invitasi Bolabasket Alumni SMA se-Jakarta
Biayanya Mahal, Jokowi Tak Akan Pasang Iklan
Pastikan Semua Jenazah Terevakuasi, Tim SAR Sapu Lokasi Jatuhnya Sukhoi
KPK Perpanjang Masa Tahanan Angie
Jokowi Terima Penghargaan TPID Terbaik
Kader Demokrat Masih Juga Menganggap Ani Yudhoyono Layak Jadi Capres
Ketua Umum PGI: Sosialisasikan 4 Pilar Bangsa ke Para Pemimpin Bangsa
