Soal Klaim Malaysia AtasTarian Tor-tor
Melani Minta Jangan Salahkan Presiden SBY
Senin, 25 Juni 2012 | 19:07
Wakil Ketua MPR RI Melani Leimena Suharli (kiri) didampingi Ketua Fraksi Partai Hanura MPR RI, Abdillah Fauzi Achmad berbicara dalam Dialog Pilar Negara bertema "Perlindungan Atas Kebudayaan Nasional", di Jakarta, Senin (25/6). [SP/Charles Ulag] [JAKARTA] Wakil Ketua MPR RI Melani Leimena Suharli meminta
masyarakat tidak serta-merta menyalahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY), terkait aksi Malaysia yang ingin mematenkan tarian Tor-tor ke Unesco.
Melani juga mengusulkan dibentuk sebuah wadah, bisa
berupa rumah kebudayaan atau museum kebudayaan, yang berisi semua warisan
budaya yang ada di Indonesia.
“Jangan semua ditudingkan pada Pak SBY. Kan, beliau
punya bawahan yaitu menteri-menteri, yang bertugas untuk menjaga budaya dan
kedaulatan negara ini. Kita memang tidak boleh lemah menghadapi negara lain,
tapi semua harus dilakukan sesuai prosedur dan mekanisme yang benar,” kata
Melani Dialog
Pilar Negara bertema "Perlindungan Atas Kebudayaan Nasional" di
Gedung Parlemen, Senin (25/6).
Hadir sebagai pembicara Ketua Fraksi Partai
Hanura di MPR RI Abdillah Fauzi Achmad.
Menurut Melani, kita tidak boleh putus asa untuk
terus berjuang membela budaya bangsa ini, termasuk beberapa warisan budaya yang
diklaim oleh Malaysia. Caranya dengan
mencatat semua warian budaya ke Unesco.
“Kita mesti mencatat dan mendaftarkan seluruh jenis
budaya bangsa ini ke badan dunia atau Unesco, agar tidak mudah diklaim negara
lain,” kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini.
Sementara itu,
Achmad Fauzi tidak merasa terganggu
dengan klaim Malaysia, karena Indonesia memang kurang bahkan tidak peduli
dengan kekayaan budayanya, dan juga pulau yang tersebar dari Sabang-Merauke.
“Bayangkan dari 17.000 pulau, yang memiliki nama
baru 8.000 pulau. Berarti masih 11.000 pula yang belum bernama. Ini kan rawan
dicaplok Malaysia,” katanya.
Achmad Fauzi sepakat
agar pemerintah, DPR, dan pemerintah daerah untuk mendata ulang seluruh jenis warisan
budaya, dan menamai kepulauan yang tak punya bernama tersebut untuk kemudian
didaftarkan ke Unesco atau ke Mahkamah Internasional di Den Haag, agar tidak
diklaim negara lain.
Apalagi, setelah Pulau Sipadan-Ligitan, Malaysia
akan mencaplok Ambalat, dan daerah-daerah perbatasan kedua negara yang memiliki
potensi sumber daya alam yang potensial.
“Provokasi Malaysia di Laut Ambalat, Kalimantan
Timur, sudah puluhan kali terjadi. Di mana Ambalat disinyalir memiliki
kandungan minyak bumi dan kandungan gas yang cukup besar, sehingga wajar kalau
Malaysia mencoba mati-matian mengklaimnya,” katanya. [L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pengembang Ngotot Membangun di Hutan Kota Bandung
Jokowi: Tak Ada Masalah Warga Pluit Pindah
Ini Dia Kostum Baru Barcelona untuk Musim Depan
Panglima TNI Isyaratkan Pengganti Dirinya KSAD Baru
Hatta Rajasa Terima “Reformasi Award” Dari Prodem
Jokowi Makan Bersama Warga Pluit Sambil Bahas Waduk
Aiptu LS Sudah Lama Mau Mundur dari Polisi, Tapi Tak Disetujui Atasan
Di Mata Golkar, Menkeu Chatib Basri Itu Neolib
