Lestarikan Seni Tradisi Kuningan Melalui Pekan Budaya
Senin, 26 September 2011 | 10:26
Tari topeng, kesenian khas Kuningan [SP/Hendro Situmorang] [KUNINGAN] Ratusan ciri khas kesenian dan
kebudayaan kota Kuningan, Jawa Barat, terancam punah. Hal itu dikarenakan
kurangnya pemerintah setempat dalam mempromosikan pariwisata daerah tersebut.
Maka dalam memperingati hari jadi Kota
Kuningan, Jawa Barat, yang ke-513, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
(Kemenbudpar) mendukung langkah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat,
menggelar Pekan Budaya, Seni dan Film di Kuningan mulai 22-24 September 2011.
Lingkup kegiatan ini secara garis besar meliputi empat bidang substansi yaitu
pameran, lomba, pagelaran dan dialog.
Menurut Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film
(NBSF) Kemenbudpar Ukus Kuswara, rangkaian acara ini bertujuan
mengenalkan kembali kekayaan budaya Kuningan pada masyarakat.
“Saat ini ada 150 kesenian, yang sebagian
terancam punah. Kalau dibiarkan begitu saja. Maka Kuningan akan kehilangan jati
dirinya,” ujar Ukus saat dialog Pekan Budaya, Seni dan Film di pendopo
Kabupaten Kuningan, akhir pekan lalu.
Menurutnya, ada 3 faktor kunci
melestarikan seni tradisi yakni inventarisasi, dokumentasi dan publikasi.
Inventarisasi dan dokumentasi, bisa dikerjakan oleh Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata (Kadis Budpar) atau Badan Pelestarian Seni dan Nilai Tradisional
(BPSNT) setempat.
Sementara publikasi, pemerintah bisa menjalin hubungan baik
dengan media massa. Dan yang tak kalah penting untuk regenerasi, kurikulum
pendidikan harus memperbanyak ruang berekspresi dan berkesenian.
Dikatakan, jika masyarakat Kuningan aktif
mengembangkan kesenian daerah, efek positifnya akan dirasakan dengan
terciptanya industri pariwisata.
Jika masyarakat Kuningan aktif mengembangkan
kesenian daerah, efek positifnya akan dirasakan dengan terciptanya industri
pariwisata. Satu daerah tak akan maju jika budaya setempat tidak berkembang.
Karena itu, seni tradisinya harus diperkuat sebagai daya tarik.
Selain juga
daya tarik alam yang sudah dimiliki Kuningan.
Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda,
mennuturkan Kuningan memiliki harta karun kebudayaan angklung diatonis yang
dikembangkan Daeng Soetigna. Pada saat perjanjian Linggarjati, tahun 1946,
Daeng Soetigna mengembangkan angklung pentatonis (do, re, mi, so, la) menjadi
diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do).
“Cikal bakal angklung diatonis
dikembangkan di Kuningan. Secara historis, Kuningan punya semangat berkesenian.
Saya punya misi menjadikan Kuningan menjadi Kabupaten Angklung, dengan
mendirikan museum angklung. Saya memiliki keoptimisan yang tinggi bahwa
Kuningan akan besar. Selain potensi alamnya, dari segi sumber daya manusianya
dengan cepat bisa beradaptasi,” ucap dia. [H-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Ada Oknum Komisi I DPR RI Yang Nikmati Uang Sukhoi Yang Jatuh di Gunung Salak
Kotak Hitam Pesawat Sukhoi Ditemukan dalam Kondisi Baik
Fahri: KPK Gagal Berantas Korupsi Sistemik
Invitasi Bolabasket Alumni SMA se-Jakarta
Biayanya Mahal, Jokowi Tak Akan Pasang Iklan
Pastikan Semua Jenazah Terevakuasi, Tim SAR Sapu Lokasi Jatuhnya Sukhoi
KPK Perpanjang Masa Tahanan Angie
Jokowi Terima Penghargaan TPID Terbaik
Kader Demokrat Masih Juga Menganggap Ani Yudhoyono Layak Jadi Capres
Ketua Umum PGI: Sosialisasikan 4 Pilar Bangsa ke Para Pemimpin Bangsa
