SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Juli 2014
Pencarian Arsip

Menguak Aksi Spionase Korut

Kim: Hidup Saya Sebagai Mata-mata Korut
Kamis, 11 April 2013 | 10:43

Kim Hyun-hee. [AFP] Kim Hyun-hee. [AFP]

Di saat Semenanjung Korea berada di ambang perang, seorang mantan agen spionase wanita Korea Utara  (Korut) yang terkenal, menceritakan bagaimana ia membunuh 115 orang dalam serangan teroris terbesar oleh negara komunis itu.

Dalam wawancara eksklusif dengan ABC, Kim Hyun-hee yang sekarang dalam pengasingan,  menceritakan tentang kehidupan di Korea Utara, dan bagaimana mana ia dipersiapkan untuk memasang bom di sebuah pesawat penumpang Korea Selatan.  

Serangan di tahun 1987 itu menewaskan 115 orang di dalam pesawat itu, dan menyebabkan Amerika Serikat menggolongkan Korea Utara sebagai sponsor terorisme.  

"Dari saat saya naik ke penerbangan Korean Air itu, meletakkan bom itu di locker atas, dan sampai saya turun pesawat, saya gugup sekali di setiap detik dari operasi itu,” katanya.  

Kim mengingat tahun-tahun sebelumnya ketika ia dipilih dari sebuah sekolah di Korea Utara untuk pelatihan menjadi mata-mata.  

“Di Korea Utara, saya diajar bahwa pemimpin kami Kim Il-sung adalah seorang dewa. Kami diajar untuk menghormatinya lebih dari orang tua sendiri," katanya.  

"Sejak kecil kami belajar mengucapkan 'Terima kasih Pemimpin Besar' untuk segala sesuatu. Dan kalau kita mengatakan sesuatu yang salah, meskipun itu tidak sengaja, kita akan dikirim ke gulag (kamp konsentrasi)."

Di tahun-tahun 1970-an, rezim Korea Utara dengan cepat melihat bahwa Kim Hyun-hee yang masih remaja mempunyai intelegensi yang tinggi, cantik, dan bisa berbahasa Jepang.  

"Suatu hari sebuah sedan hitam muncul di sekolah saya. Mereka dari pimpinan pusat partai dan mengatakan bahwa saya telah terpilih," katanya.  

Saya bahkan tidak diberi waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman, saya cuma diberitahu untuk mengemasi barang-barang saya. Saya diberi waktu satu malam terakhir dengan keluarga.  

Di tahun 1980 Kim Hyun-hee dikirim ke sekolah elite pelatihan mata-mata di pegunungan terpencil, dimana ia diberi nama baru dan latihan bela diri, senjata, dan bahasa.

Setelah delapan tahun belajar menjadi mata-mata, Kim siap untuk menjalankan misinya, misi yang dirancang oleh putra dari pendiri Korea Utara dan orang yang menjadi pemimpin berikutnya, Kim Jong-il.

"Di Korea Utara, orang harus meminta izin kepada Kim Jong-il untuk hal-hal paling kecil, apalagi sebuah misi mata-mata. Ia secara pribadi memerintahkan operasi untuk mengebom penerbangan Korean Air," katanya.  

Target akhir dari misi Kim adalah Olimpiade Seoul 1988. Jong-il berharap, pengeboman penerbangan 858 Korean Air akan menyebabkan tim-tim asing takut menghadiri Olimpiade.  

Untuk melaksanakan misi itu, Kim Hyun-hee didampingi oleh mata-mata legendaris Korea Utara, Kim Seung-il.

Berdua terbang dari Pyongyang ke Moskwa dan kemudian pergi ke Budapest, dimana mereka diberi paspor Jepang palsu, dan mulai berpura-pura sebagai ayah dan anak yang melakukan perjalanan di Eropa bersama-sama.

"Saya dan partner saya mempunyai pengalaman sebagai mata-mata di Eropa. Kami merasa percaya diri di sana dan tahu bagaimana bandar udara beroperasi," katanya.

Mereka kemudian menuju ke Baghdad, dimana mereka mempersiapkan tahap terakhir dari misi mereka.

Di sana mereka naik sebuah pesawat Korea Selatan dengan membawa sebuah bom yang disembunyikan didalam sebuah radio transistor.

Kim Hyun-hee sudah menyetel timer di bom itu untuk meledak sembilan jam setelah penerbangan 858 tinggal landas,  pada waktu pesawat itu berada di udara dalam perjalanan ke Seoul.

Setelah menaruh bom, kedua mata-mata Korea Utara itu meninggalkan pesawat ketika transit di Abu Dhabi dan menuju ke Bahrain. Tidak lama kemudian, pesawat itu jatuh dengan 115 orang didalamnya.

Bingung
 

Di Bahrain, Kim yang berusia 25 tahun bingung, ingin segera melarikan diri. Tetapi tidak tahu mau melarikan diri kemana.

"Kami tidak tahu kemana harus lari. Kami harus keluar dari Bahrain. Tapi pesawat kami berikutnya baru akan berangkat dua hari kemudian. Saya begitu gelisah," katanya.

Dua hari kemudian Kim dan partnernya didatangi pihak berwenang yang mengetahui bahwa mereka melakukan perjalanan dengan paspor palsu.

"Ketika digeledah, mata-mata kawakan Kim Seung-il mengatakan kepada mata-mata yang muda, Kim Hyun-hee, waktunya tiba untuk menggigit sebuah kapsul sianida yang disembunyikan di rokok mereka.  

"Ia berkata kita akan diinterogasi, dan pada akhirnya kematian menanti kita. Saya sudah hidup cukup lama dan sudah tua. Tapi kamu masih muda. Kasihan kamu”,  katanya.  

"Saya tahu bahwa kalau sebuah operasi gagal, mata-mata harus bunuh diri. Maka saya menggigit kapsul sianida itu. Saat itu saya teringat ibu saya di Korea Utara. Kemudian saya pingsan," tuturnya.  

Mata-mata kawakan itu meninggal hampir seketika, tapi Kim Hyun-hee berhasil diselamatkan dan setelah pulih kesehatannya diterbangkan ke Koera Selatan untuk diadili.  

Semula, kata Kim, ia menolak memberi informasi kepada para interogatornya, baru setelah mereka membawanya dengan mobil melewati jalan-jalan di Seoul, barulah ia menyadari semua kebohongan yang ditanamkan oleh rezim Korea Utara.

"Saya melihat ternyata Seoul modern," katanya.  

"Saya mendengarkan bagaimana agen-agen intelijen di sekitar saya berbicara dengan begitu bebas. Ini bertentangan dengan apa yang diajarkan kepada saya di Korea Utara. Saat itu, saya menyadari bahwa saya telah membunuh orang-orang tak berdosa dan saya akan dijatuhi hukuman mati."  

Kim divonis hukuman mati tapi kemudian mendapat pengampunan, karena pemerintah Korea Selatan memutuskan, ia dicuci otak.  

Ia kini hidup di sebuah lokasi rahasia di Korea Selatan, setiap saat dikelilingi oleh enam pengawal,  karena dikhawatirkan regu pembunuh Korea Utara mungkin akan menyerang setiap saat.  

"Saya layak dihukum mati atas apa yang saya lakukan. Tapi saya percaya, saya diampuni karena saya adalah satu-satunya saksi dalam aksi teror yang dilakukan Korea Utara." katanya.  

"Sebagai satu-satunya saksi, hidup saya adalah untuk memberi kesaksian tentang kebenaran."  

Bagi Kim Hyun-hee, kenyataan bahwa seorang generasi ketiga dinasti Kim mengancam dunia sangat mengerikan.  

Ia tahu, mereka yang paling menderita adalah jutaan orang yang hidup, bekerja dan mati dibawah rezim tersebut, termasuk keluarga yang ditinggalkannya.  

"Saya pernah mendengar cerita dari seorang pembelot yang melihat keluarga saya di sebuah kamp konsentrasi sekitar 15 tahun lalu," katanya.

"Tapi sampai sekarang saya tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga saya."  

Ia berpendapat, ancaman paling akhir dari Korea Utara semuanya adalah upaya dari pemimpin Kim Jong-un, yang belum berpengalaman, untuk sok hebat di depan mata rakyatnya.  

"Kim Jong-un masih terlalu muda dan terlalu tidak berpengalaman," katanya.  "Ia berusaha keras menguasai militer dan mendapatkan loyalitas mereka."   "Itulah mengapa ia sering berkunjung ke pangkalan militer, untuk menggalang dukungan."  

Ia mengatakan, dampak dari apa yang dipaksakan oleh rezim Koera Utara untuk dilakukannya akan terus menghantui dirinya sepanjang hidupnya.  

"Saya menyesali apa yang saya lakukan. Saya tidak boleh menyembunyikan kebenaran terhadap sanak keluarga dari mereka yang tewas." katanya.  

"Adalah tugas saya untuk memberitahu kepada mereka apa yang terjadi." [ABC/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»