SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 April 2014
Pencarian Arsip

Kasus Penyiraman Air Soda Api

Keterlibatan Wali Kota Medan Harus Diusut
Senin, 2 Mei 2011 | 9:55

Korban penyiraman air soda api oleh orang yang diduga suruhan Walikota Medan, RH, Masfar Sikumbang Korban penyiraman air soda api oleh orang yang diduga suruhan Walikota Medan, RH, Masfar Sikumbang

[MEDAN] Kepala Bidang Pemberdayaan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut), Ir Masfar (45) meminta Kapolri Jenderal Timor Pradopo untuk memerintahkan Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro maupun Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga untuk mengungkap kasus penyiraman air soda api ke wajahnya yang dilakukan dua orang tidak dikenal di depan Rumah Makan Sibolga Jl Haji Adam Malik Medan. Akiatnya, korban mengalami cacat permanen.
 
Menurut Masfar melalui pamannya, Tajuddin Nur Sikumbang, kasus penyiraman soda api ke wajah keponakannya diduga mempunyai hubungan kuat dengan Wali Kota Medan, RH. Soalnya, beberapa hari sebelum kejadian tersebut, korban dianiaya oleh pejabat utama di Pemerintahan Kota Medan tersebut. Selain itu, korban juga mendapatkan teror dari anak korban setelah kejadian penganiayaan. Tidak hanya penganiayaan, pagar rumah korban di ikawasan Jl Denai juga dirusak.
 
"Kami akan melayangkan surat untuk melaporkan kasus ini ke Kapolri, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi III DPR. Kami meminta kasus ini agar diusut sampai tuntas. Tidak hanya mengejar maupun menangkap pelaku penyiraman soda api, tapi polisi harus dapat mengungkap aktor intelektualnya. Kami menduga pelaku tersebut merupakan orang suruhan," ujar Tajuddin Nur Sikumbang kepada SP saat ditemui di tempat perawatan Masfar di Rumah Sakit Columbia, Senin (2/5).
 
Tajuddin meyakini dugaan keterlibatan oknum pejabat pemerintahan itu di balik kasus ini karena sesuai dengan pengakuan Masfar. Sekitar tanggal 19 April, korban dianiaya oleh tertuduh di rumah dinas Wali Kota Medan. Korban dianiaya setelah mengantarkan istri RH, Yusra Boru Siregar. Dia langsung dipanggil petugas keamanan rumah dinas untuk segera masuk ke dalam rumah. Sesuai pengakuan korban, petugas itu meminta turun dari mobil karena dipanggil RH. Masfar pun turun dan masuk ke dalam rumah.
 
"Tidak lama setelah masuk ke rumah dinas tersebut, Masfar langsung ditampar beberapa kali. Setelah itu, sesaat hendak keluar dari rumah dinas, Masfar kembali diminta untuk turun dari mobilnya. Masfar kembali ditinju. Segala caci maki diucapkan RH kepada Masfar. Saat itu, korban memang sengaja tidak membuat pengaduan. Berselang tiga atau empat hari kemudian, anak RH berinisial Li bersama seorang ajudan RH mendatangi rumah korban di kawasan Jl Denai," katanya.
 
Saat itu, anak RH bertamu sekitar pukul 22.00 WIB. Anak RH kemudian mencaci - maki korban. Korban pun tidak melayani anak korban, yang kemudian menghubungi RH atas prilaku anaknya. Sayang, RH ketika itu tidak memperdulikan penjelasan Masfar. Tidak puas juga, anak RH kemudian mencoba masuk dengan cara paksa melompati pagar rumah korban. Keluarga korban pun dengan cara memaksa mengusirnya. Berkelang beberapa menit kemudian, rumah korban dilempari batu.
 
"Kejadian penyiraman soda api yang menimpa keponakan saya ini sekitar tanggal 23 April. Kasus ini sudah dilaporkan ke Markas Polresta Medan sesuai dengan Nomor No: STPL/1033/IV/2011. Dengan pengaduan tersebut, kami sangat berharap kepada polisi untuk dapat mengusut tuntas pelaku penyiraman soda api ini. Namun sampai saat ini kami belum menerima laporkan dari polisi atas kasus tersebut. Kami minta agar polisi tidak menutup - nutupi kasus ini," tegasnya.
 
Menurutnya, kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh RH kepada Masfar karena curiga istrinya bermain api dengan korban. Tajuddin membantah keras bahwa korban mempunyai hubungan khusus dengan istri RH. Korban bersedia mengantarkan istri RH karena masuk termasuk ibu PKK. Saat mengantarkan istri RH pun ada ibu PKK lain yang satu mobil dengan mereka. Kecurigaan RH sampai melakukan penganiayaan tersebut dianggap sangat tidak beralasan.
 
Sehari sebelumnya, Rahudam Harahap saat dikonfirmasi wartawan ketika memantau peringatan Hari Buruh, membantah dirinya melakukan penganiayaan tersebut. Menurutnya, kasus ini mendiskeditkan dirinya sebagai pejabat nomor satu di Medan. Bahkan, tuduhan dari keluarga korban merupakan pembunuhan karakter. Rahudman juga mempertimbangkan kasus itu apakah dilaporkan ke polisi atau tidak. [155]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN