Soal Aktivitas Merapi
Kepala BNPB dan Surono Beda Pendapat
Selasa, 9 November 2010 | 16:15
Puncak Gunung Merapi pada Senin (1/11) ini cerah sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang dari Yogyakarta. [Foto: SP/Fuska Sani Evani] [YOGYAKARTA] Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif menilai aktivitas Merapi semakin menurun. Buktinya, kondisi Merapi hari ini tenang. Sementara Kepala Vuklanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Dr Surono menilai, meskipun intensitas letuan Merapi menurun, tetapi aktivitasnya tetap tinggi. Tekanan magma dari bawah masih berlanjut dan deformasi atau penggembungan masih terus terjadi.
“Letusan Merapi saat ini sudah melampaui sejarah letusan pada 1872 yang lalu, dari indikator material yang dikeluarkan. Saat ini sudah 140 juta lebih meter kubik yang dimuntahkan Merapi, dulu (1872) 100 juta dan dibanding 2006 hanya 14 juta, jadi sekarang 10 kali lipat. Ini sudah melampaui puncak yang mengkuatirkan,” kata Syamsul Maarif.
Yang lebih mengkuatirkan saat ini adalah curah hujan yang cukup tinggi dalam lima hari terakhir akan potensial menimbulkan ancaman lahar dingin. Ini yang harus diantisipasi.
Sementara itu Kepala Vuklanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Dr Surono mengatakan, intensitas letuan Merapi memang menurun, tetapi aktivitasnya tetap tinggi. Tekanan magma dari bawah masih berlanjut dan deformasi atau penggembungan masih terus terjadi. “Jadi, hanya intensitas letusan saja yang menurun, aktivitasnya masih tinggi, itu harus hati-hati,” katanya pada Selasa (9/11).
Surono juga memastikan, simpanan gas dalam perut Merapi masih sangat tinggi, karena itu, bahaya letusan masih bisa terjadi. “Dalam magma cair itu masih tersimpan gas yang cukup kental dan sewaktu-waktu bisa terdesak ke atas hingga menimbulkan awan panas dan eksplosif itu tadi,” tegasnya.
Yang jelas saat ini masih terjadi erupsi dan guguran-guguran material. Suara gemuruh yang sering didengar dari radius puluhan kilometer merupakan suara tekanan magma dari perut gunung dan guguran-guguran yang jatuh akibat tekanan tersebut.
Bahkan dalam 12 jam terakhir, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta mengeluarkan data bahwa pukul 00.00 WIB- 12.00 WIB, gempa vulkanik terjadi 1 kali, low frequence 3 kali, gempa tremor beruntun, guguran 22 kali, awan panas 1 kali.
Dari pemantauan di Ketep suara gemuruh kuat terjadi pada pukul 08.03 WIB. Kolom asap teramati pukul 05.00 WIB setinggi 1500 meter. Hujan abu tipis terjadi di Selo pada 09.00-10.30 WIB. Guguran lava arah kali Gendol dua kali dengan jarak luncur maksimum 800 meter pada pukul 05.58 WIB.
Surono juga membantah penilaian para ilmuwan asing yang menyebutkan adanya deformasi pada lereng selatan. “Deformasi itu hanya terjadi di puncak. Soal foto satelit yang memperlihatkan adanya penggembungan Merapi di bagian selatan adalah tumpukan material gunung yang sudah dimuntahkan oleh gunung,” ujarnya. [152]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kemnakertrans Diminta Pertanggungjawabkan Rp 1,18 Triliun Duit Amnesti TKI di Arab Saudi
Spider-Man Kembali ke Layar Lebar di 2016 dan 2018
KPK Diminta Audit Pungli Oleh Kemnakertrans
Adik Tiri Gubernur Atut Ditetapkan Jadi Tersangka
Huawei Ascend P6, Ponsel Cerdas Paling Tipis di Dunia
Pemerintah Ajukan Penundaan Amnesti TKI
Nazaruddin Berbisnis dari Penjara
Loh!…Ada Perwira Polda Maluku Larang Warga Beribadah
