SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 1 Agustus 2014
Pencarian Arsip

Soal Aktivitas Merapi

Kepala BNPB dan Surono Beda Pendapat
Selasa, 9 November 2010 | 16:15

Puncak Gunung Merapi pada Senin (1/11) ini cerah sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang dari Yogyakarta. [Foto: SP/Fuska Sani Evani] Puncak Gunung Merapi pada Senin (1/11) ini cerah sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang dari Yogyakarta. [Foto: SP/Fuska Sani Evani]

[YOGYAKARTA] Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif menilai aktivitas Merapi semakin menurun. Buktinya, kondisi Merapi hari ini tenang. Sementara Kepala Vuklanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Dr Surono menilai, meskipun intensitas letuan Merapi menurun, tetapi aktivitasnya tetap tinggi. Tekanan magma dari bawah masih berlanjut dan deformasi atau penggembungan masih terus terjadi.

“Letusan Merapi saat ini sudah melampaui sejarah letusan pada 1872 yang lalu, dari indikator material yang dikeluarkan. Saat ini sudah 140 juta lebih meter kubik yang dimuntahkan Merapi, dulu (1872) 100 juta dan dibanding 2006 hanya 14 juta,  jadi sekarang 10 kali lipat. Ini sudah melampaui puncak yang mengkuatirkan,” kata Syamsul Maarif.

Yang lebih mengkuatirkan saat ini adalah curah hujan yang cukup tinggi dalam lima hari terakhir akan potensial menimbulkan ancaman lahar dingin. Ini yang harus diantisipasi.

Sementara itu Kepala Vuklanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Dr Surono mengatakan, intensitas letuan Merapi memang menurun, tetapi aktivitasnya  tetap tinggi. Tekanan magma dari bawah masih berlanjut dan deformasi atau penggembungan masih terus terjadi.  “Jadi, hanya intensitas letusan saja yang menurun, aktivitasnya masih tinggi, itu harus hati-hati,” katanya pada Selasa (9/11).

Surono juga memastikan, simpanan gas dalam perut Merapi masih sangat tinggi, karena itu, bahaya letusan masih bisa terjadi. “Dalam magma cair itu masih tersimpan gas yang cukup kental dan sewaktu-waktu bisa terdesak ke atas hingga menimbulkan awan panas dan eksplosif itu tadi,” tegasnya.

Yang jelas saat ini masih terjadi erupsi dan guguran-guguran material. Suara gemuruh yang sering didengar dari radius puluhan kilometer merupakan suara tekanan magma dari perut gunung dan guguran-guguran yang jatuh akibat tekanan tersebut.

Bahkan dalam 12 jam terakhir, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta mengeluarkan data bahwa pukul 00.00 WIB- 12.00 WIB, gempa  vulkanik terjadi 1 kali, low frequence 3 kali, gempa tremor  beruntun, guguran 22 kali, awan panas 1 kali.

Dari pemantauan di Ketep suara gemuruh kuat terjadi pada pukul 08.03 WIB. Kolom asap teramati pukul 05.00 WIB setinggi 1500 meter. Hujan abu tipis terjadi di Selo pada 09.00-10.30 WIB. Guguran lava arah kali Gendol dua kali dengan jarak luncur maksimum 800 meter pada pukul 05.58 WIB.

Surono juga membantah penilaian para ilmuwan asing yang menyebutkan adanya deformasi pada lereng selatan. “Deformasi itu hanya terjadi di puncak. Soal foto satelit yang memperlihatkan adanya penggembungan Merapi di bagian selatan adalah tumpukan material gunung yang sudah dimuntahkan oleh gunung,” ujarnya. [152]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!